![]() |
| Komunikasi digital menghubungkan dunia tanpa batas, menjadi tantangan menjaga identitas komunikasi Indonesia di era globalisasi. Sumber Foto : https://static9.depositphotos.com/ |
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Globalisasi sudah membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan masyarakat, terutama dari cara manusia berkomunikasi. Perkembangan teknologi digital membuat informasi menjadi sangat cepat dan tidak terbatas oleh jarak ataupun waktu. Masyarakat Indonesia sangat mudah mengakses berbagai informasi dari seluruh dunia hanya melalui media sosial dan internet. Bisa dilihat dari kebiasaan anak muda yang sering mencampurkan bahasa asing dalam percakapan sehari-hari, penggunaaan slang dan bahasa gaul seperti “mager” (males gerak), “gabut” (tidak ada kerjaan), “kepo” (rasa ingin tau), juga menunjukkan adanya perubahan dalam cara masyarakat Indonesia bekomunikasi. Hal ini tentu memberikan pengaruh serius terhadap perkembangan ilmu komunikasi di Indonesia.
Seorang Dosen Universitas
17 Agustus 1945 Surabaya, Drs.Widiyatmo Ekoputro, M.A. pernah menyampaikan pandangannya
bahwa “Sistem Komunikasi Indonesia ialah mengindonesiakan Indonesia” Pernyataan
tersebut terasa sangat relevan dengan era globalisasi saat ini. Komunikasi yang
terjadi di Indonesia seharusnya mencerminkan identitas, nilai, dan karakter
bangsa Indonesia.
Salah satu
tantangan terbesar dalam ilmu komunikasi di era globalisasi adalah besarnya arus
informasi yang masuk tanpa batas. Informasi yang beredar tidak semuanya sesuai
dengan nilai, norma, dan budaya masyarakat Indonesia. Banyak masyarakat Indonesia
yang terbawa arus informasi kebarat-baratan yang jika tidak disaring dengan
baik, hal ini akan memengaruhi cara berpikir dan perilaku masyarakat, terutama
generasi muda yang sangat aktif menggunakan media digital atau media sosial.
Selain itu,
fenomena hoaks dan disinformasi juga menjadi permasalahan yang sangat serius.
Banyak orang yang dengan mudah mempercayai dan menyebarkan informasi tanpa
melakukan verifikasi terlebih dahulu. Misalnya, penyebaran berita hoax di grup keluarga
besar sering sekali terjadi, tidak jarang juga generasi boomers yang sangat
mudah terpengaruh oleh berita hoax. Kondisi ini menunjukkan bahwa literasi
digital masyarakat masih perlu ditingkatkan. Kurangnya kemampuan dalam memilah
informasi dapat menimbulkan kesalahpahaman bahkan konflik di tengah masyarakat.
Perkembangan
teknologi juga membuat komunikasi menjadi semakin cepat, tetapi sering kali
mengurangi kedalaman makna dari pesan yang ingin disampaikan. Banyak orang yang
lebih fokus pada kecepatan dalam menyampaikan informasi dibandingkan dengan
keakuratan dan etika komunikasi. Padahal, dalam ilmu komunikasi, pesan yang
baik adalah pesan yang tidak hanya cepat tersampaikan, tetapi juga dapat
dipahami dengan benar oleh penerima.
Dalam menghadapi
berbagai tantangan tersebut, peran pendidikan menjadi sangat penting. Kampus
tidak hanya menjadi tempat untuk mempelajari teori, tetapi juga sebagai ruang
untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan bertanggung jawab dalam
berkomunikasi. Sebagai mahasiswa komunikasi harus mampu menjadi komunikator
yang cerdas sekaligus bijak, sehingga pesan yang disampaikan dapat memberikan
dampak positif bagi penerima informasi yang kami sampaikan.
Menurut saya
Kayla Sofyanno Putri, mahasiswi ilmu komunikasi, era globalisasi sebenarnya
memberikan peluang yang sangat besar bagi kami mahasiswa ilmu komunikasi. Kita
memiliki akses yang luas terhadap informasi, sehingga bisa belajar dari
berbagai sudut dan pengalaman dari seluruh dunia. Namun, peluang tersebut harus
diimbangi dengan kemampuan untuk berpikir kritis dan tidak mudah terpengaruh
oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.
Saya sering
melihat di media sosial, banyak orang yang langsung bereaksi terhadap suatu isu
hanya berdasarkan judul atau potongan informasi saja. Hal ini membuat
komunikasi menjadi tidak sehat karena dipenuhi oleh asumsi dan emosi. Menurut
saya, sebagai generasi muda, kita harus mulai membiasakan diri untuk membaca
secara utuh, mencari sumber yang terpercaya, dan tidak terburu-buru dalam
menyimpulkan sesuatu.
Harapan saya ke
depan, Ilmu Komunikasi di Indonesia dapat terus berkembang dan mampu untuk beradaptasi
dengan perubahan global tanpa kehilangan identitas lokal seperti penggunaan
bahasa Indonesia yang baik dan benar, dan budaya lokal serta adat istiadat. Sebagai
Mahasiswa Ilmu Komunikasi diharapkan tidak hanya menjadi pengguna media saja,
tetapi juga mampu menjadi komunikator yang bertanggung jawab dan memberikan
kontribusi positif bagi masyarakat luas.
Dengan adanya
kesadaran akan pentingnya literasi digital dan etika komunikasi, ilmu
komunikasi tidak hanya menjadi alat untuk menyampaikan pesan, tetapi juga
menjadi sarana untuk membangun pemahaman, memperkuat persatuan, dan menciptakan
komunikasi yang lebih sehat di tengah masyarakat.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?