Banner Iklan

Tantangan dan Harapan Sistem Komunikasi Indonesia di Era Globalisasi Mengindonesiakan Indonesia di tengah derasnya arus komunikasi global

Admin JSN
04 Mei 2026 | 18.57 WIB Last Updated 2026-05-04T11:57:42Z
Ruang digital telah menjadi arena baru bagi masyarakat untuk menyuarakan persoalan sosial. Fenomena “no viral, no justice” menunjukkan bagaimana perhatian publik kini kerap dibentuk oleh viralitas informasi. Sumber Foto : https://images.pexels.com/


ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Perkembangan teknologi komunikasi telah membawa Indonesia memasuki babak baru dalam kehidupan sosial. Informasi kini bergerak melampaui batas ruang dan waktu, menghubungkan masyarakat dengan berbagai peristiwa, gagasan, dan budaya dari berbagai belahan dunia hanya melalui satu layar di genggaman. Globalisasi menghadirkan ruang komunikasi yang lebih terbuka, cepat, dan partisipatif. Setiap orang dapat berbicara, menyampaikan pendapat, membangun opini, bahkan memengaruhi arah percakapan publik dalam waktu yang nyaris bersamaan.

Perubahan tersebut tentu membawa banyak peluang. Akses terhadap informasi menjadi lebih luas, partisipasi publik meningkat, dan masyarakat memiliki ruang yang jauh lebih besar untuk menyuarakan pengalaman maupun gagasannya. Namun di balik berbagai kemudahan itu, sistem komunikasi Indonesia juga sedang menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Arus informasi yang begitu cepat tidak selalu diiringi dengan kesiapan sosial, budaya, maupun literasi masyarakat dalam mengelolanya. Akibatnya, ruang komunikasi yang seharusnya menjadi sarana bertukar gagasan sering kali justru dipenuhi oleh respons impulsif, penilaian sepihak, dan penyebaran informasi yang belum tentu utuh.

Fenomena tersebut dapat dilihat dari munculnya istilah “no viral, no justice” yang belakangan semakin akrab di ruang digital Indonesia. Dalam berbagai kasus pelayanan publik, dugaan kekerasan, pelecehan, hingga persoalan sosial di lingkungan masyarakat, perhatian publik dan respons institusi kerap baru muncul setelah rekaman video, unggahan, atau laporan terkait viral di media sosial. Tidak sedikit masyarakat yang akhirnya merasa bahwa suara mereka baru benar-benar didengar ketika persoalan yang dialami berhasil menarik perhatian warganet.

Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan dalam pola komunikasi publik di Indonesia. Jika dahulu penyelesaian persoalan banyak bergantung pada mekanisme formal, kini legitimasi sebuah isu sering kali justru dibentuk melalui kekuatan opini digital. Viralitas menjadi semacam pintu masuk menuju perhatian publik. Di satu sisi, kondisi ini memperlihatkan bahwa teknologi mampu memperluas ruang partisipasi masyarakat. Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah sistem komunikasi publik kita mulai bergantung pada algoritma dan perhatian sesaat?

Menurut pandangan penulis, Adelia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan sistem komunikasi Indonesia saat ini bukan hanya soal kemampuan mengakses teknologi, melainkan juga soal menjaga arah dan nilai di tengah perubahan yang begitu cepat. Ketika perhatian publik lebih mudah dipengaruhi oleh konten yang emosional, kontroversial, atau sensasional, kualitas komunikasi berisiko bergeser dari substansi menuju popularitas.

Situasi ini semakin kompleks ketika budaya komunikasi global ikut membentuk cara masyarakat Indonesia berinteraksi. Platform digital mendorong pola komunikasi yang serba cepat, singkat, dan instan. Konten berdurasi singkat, potongan informasi tanpa konteks, hingga komentar spontan menjadi bagian dari keseharian komunikasi generasi muda. Di satu sisi, pola ini menunjukkan kemampuan masyarakat untuk beradaptasi. Namun tanpa kesadaran yang cukup, kecepatan dapat mengalahkan kedalaman, dan reaksi dapat mengalahkan refleksi.

Menurut Drs. Widiyatmo Ekoputro, MA. menyampaikan sebuah gagasan yang cukup membekas bagi penulis: “Di tengah arus globalisasi, sistem komunikasi Indonesia tidak boleh kehilangan jati dirinya. Tugas kita bukan hanya memahami dunia, tetapi juga mengindonesiakan Indonesia menjadikan komunikasi tetap berakar pada nilai, budaya, dan kepentingan bangsa sendiri.”

Bagi penulis, pernyataan tersebut bukan sekadar kutipan akademik di ruang kelas. Kalimat itu justru merefleksikan kebutuhan mendesak sistem komunikasi Indonesia hari ini. Globalisasi memang membuka peluang untuk belajar dari berbagai sistem komunikasi dunia, memanfaatkan teknologi modern, dan ikut terlibat dalam percakapan global. Namun tanpa pijakan yang jelas, keterbukaan tersebut dapat membuat komunikasi kehilangan karakter lokalnya.

Praktik mengindonesiakan Indonesia sebenarnya telah hadir dalam berbagai bentuk. Ketika media massa tetap menempatkan akurasi di atas sensasi, ketika kreator lokal menggunakan platform digital untuk mengangkat budaya daerah, bahasa lokal, dan persoalan sosial di komunitasnya, atau ketika ruang diskusi digital dibangun dengan semangat saling menghargai, di situlah identitas komunikasi nasional sedang dipertahankan.

Meski tantangan yang dihadapi tidak kecil, harapan tetap terbuka. Indonesia memiliki modal sosial yang kuat: keberagaman budaya, tradisi dialog, serta generasi muda yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Jika potensi tersebut diiringi dengan penguatan literasi digital, integritas media, serta kesadaran publik untuk berkomunikasi secara bertanggung jawab, sistem komunikasi Indonesia bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga dapat berkembang secara lebih matang.

Dalam pandangan penulis, Adelia, masa depan sistem komunikasi Indonesia tidak akan ditentukan semata oleh seberapa cepat teknologi berkembang, melainkan oleh seberapa kuat masyarakat mempertahankan nilai dalam cara mereka berkomunikasi. Sebab pada akhirnya, komunikasi bukan hanya tentang pesan yang berpindah dari satu pihak ke pihak lain. Komunikasi adalah cara sebuah bangsa mengenali dirinya sendiri. Dan jika Indonesia ingin tetap berdiri teguh di tengah percakapan global, maka yang perlu terus dijaga bukan hanya koneksi digitalnya, melainkan juga identitas komunikasinya.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Tantangan dan Harapan Sistem Komunikasi Indonesia di Era Globalisasi Mengindonesiakan Indonesia di tengah derasnya arus komunikasi global

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?