Banner Iklan

PC Pagar Nusa Kabupaten Malang Menjaga Sanad Pendekar NU, Kunjungi Salah Satu Ranting Tertua

Admin JSN
11 Mei 2026 | 12.45 WIB Last Updated 2026-05-11T05:45:48Z
PC Pagar Nusa Kabupaten Malang 'Sinau Sejarah' di salah satu ranting tertua./dok. Istimewa

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM - Di tengah arus modernitas yang kian cepat menggeser akar tradisi, keluarga besar PAGAR NUSA Kabupaten Malang memilih kembali pulang kepada sejarah.

Bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi merawat ruh perjuangan agar tetap hidup lintas generasi.

Semangat itu tampak dalam kegiatan kunjungan PC Pagar Nusa Kabupaten Malang dan agenda 'Sinau Sejarah' di PR Pagar Nusa Poncokusumo, Minggu (10/5), yang digelar mulai pukul 15.00 WIB hingga selesai di halaman Masjid Poncokusumo.

Kegiatan yang diselenggarakan PR Pagar Nusa Poncokusumo tersebut menjadi ruang refleksi bersama untuk menelusuri perjalanan salah satu ranting tertua Pagar Nusa di Kabupaten Malang.

Para pendekar, pelatih, alumni, dan kader lintas generasi tampak hadir dalam suasana hangat khas tradisi Nahdliyin.

Bagi warga Pagar Nusa, sejarah bukan hanya catatan masa lalu, melainkan mata rantai sanad perjuangan yang menjaga hubungan antara ilmu, adab, spiritualitas, dan loyalitas terhadap Nahdlatul Ulama.

Sesepuh Pagar Nusa Poncokusumo, Khoirul Anam atau Mbah Irul, menuturkan bahwa berdirinya Pagar Nusa Poncokusumo pada tahun 1990 berawal dari kegemaran masyarakat terhadap olah kanuragan yang kala itu berkembang di tengah masyarakat lereng Poncokusumo.

Pembinaan awal dilakukan oleh almarhum Ustaz Nurhadi bersama sejumlah tokoh masyarakat lainnya sebelum akhirnya terhubung dengan pengurus cabang Pagar Nusa Kabupaten Malang seperti almarhum H. Farhan dan Ustaz Aksin.

"Awalnya masyarakat sini memang senang olah kanuragan. Kemudian dibimbing almarhum Ustadz Nurhadi bersama tokoh masyarakat lainnya hingga akhirnya bergabung dengan pengurus cabang dan resmi menjadi bagian PAGAR NUSA pada tahun 1990," tutur Mbah Irul.

Menurutnya, perjalanan Pagar Nusa bukan sekadar perjalanan bela diri, melainkan proses panjang menjaga identitas Ahlussunah wal Jamaah di tengah perubahan zaman.

Salah satu momentum yang paling membekas dalam ingatannya ialah ketika Pagar Nusa Poncokusumo mendapat kehormatan mengawal KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pada 6 Juni 1996 di Lapangan Poncokusumo.

"Sesuai dawuh Gus Dur saat menjadi Ketua Umum PBNU, beliau meminta dikawal PAGAR NUSA. Itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami," kenangnya.

Mbah Irul menegaskan bahwa Pagar Nusa Poncokusumo telah melewati berbagai fase transformasi, mulai era Gus Dur hingga masa kepemimpinan Gus Yahya. Namun, ada nilai yang menurutnya tidak boleh berubah, yakni karakter, mental spiritual, dan haluan Aswaja An-Nahdliyah.

"Ada yang harus tetap dipertahankan, yaitu karakter, mental spiritual, dan berhaluan Ahlussunah wal Jamaah. Di PAGAR NUSA ini ibarat menu yang lengkap. Ada bidang prestasi, pengobatan atau petabiban seperti sembur suwuk, ada juga pernapasan untuk kesehatan dan olah rasa," ujarnya.

Baginya, Pagar Nusa bukan hanya ruang melatih fisik, tetapi juga tempat menempa jiwa dan adab. Sebab dalam tradisi pencak Nahdlatul Ulama, kekuatan tidak diukur dari seberapa keras pukulan, melainkan seberapa kuat seseorang menjaga akhlak dan kesetiaan terhadap ulama.

"PAGAR NUSA Poncokusumo telah melewati banyak tantangan dan akan tetap eksis sampai kapan pun, tetap PAGAR NUSA dan tetap taat kepada NU," tegasnya.

Sementara itu, Kepala Pelatih Pagar Nusa Ranting Poncokusumo, Ustaz Yudin Eko Prasetya, mengatakan pihaknya terus berupaya mengikuti arah transformasi organisasi sebagaimana arahan pengurus cabang.

Menurutnya, Pagar Nusa hari ini tidak lagi hanya dipandang sebagai ruang kanuragan, tetapi juga wadah prestasi dan kaderisasi generasi muda Nahdliyin.

"Kami berusaha keras mengikuti arahan cabang untuk bertransformasi dari yang dulunya identik dengan kanuragan menuju arah prestasi. Semua berawal dari sinau dan Alhamdulillah secara prestasi kami tidak kalah dengan ranting lain," ujarnya.

Perkembangan organisasi di Poncokusumo juga terus mengalami peningkatan. Saat ini, di bawah kepengurusan ranting telah terbentuk delapan rayon yang menjadi pusat pembinaan kader di berbagai wilayah.

"Sekarang kami sudah melebarkan sayap. Dari ranting ini sudah ada delapan rayon di bawah pengurus PAGAR NUSA Poncokusumo," katanya.

Kemudian, Yudin menyampaikan pesan reflektif tentang makna perjuangan dalam organisasi.

"Perjuangan harus tetap berjalan. Jangan berpikir di depan atau di belakang. Yang penting kita ikut berperan dalam PAGAR NUSA demi tegaknya NU dan ajaran Ahlussunah wal Jamaah," tegasnya.

Kunjungan PC Pagar Nusa Kabupaten Malang ke PR Pagar Nusa Poncokusumo (10/5)./dok. Istimewa

Melihat sesi latihan pendekar cilik Pagar Nusa Poncokusumo Malang./dok. Istimewa

Keluarga PR Pagar Nusa Poncokusumo Malang./dok. Istimewa

Sementara itu, Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Malang, Gus Saiful Anam, menegaskan bahwa kegiatan sinau sejarah bukan sekadar agenda seremonial, melainkan upaya merawat sanad perjuangan dan identitas organisasi.

Menurutnya, ranting-ranting tua seperti Poncokusumo adalah fondasi penting yang menjaga ruh PAGAR NUSA tetap hidup hingga hari ini.

"Ranting tua bukan hanya tentang usia organisasi, tetapi tentang bagaimana nilai, adab, loyalitas, dan ruh perjuangan itu diwariskan dari generasi ke generasi. PAGAR NUSA harus tetap menjadi benteng Aswaja, benteng ulama, dan benteng NKRI," ujar Saiful Anam.

Ia menambahkan, di tengah perkembangan zaman yang serba instan, kader Pagar Nusa harus tetap menjaga keseimbangan antara ilmu bela diri, spiritualitas, intelektualitas, dan akhlak.

"Pendekar NU tidak cukup hanya kuat secara fisik, tetapi juga harus kuat secara mental, spiritual, dan intelektual. Sebab ruh PAGAR NUSA sejatinya adalah menjaga adab, menjaga ulama, dan menjaga peradaban," bebernya.

Kegiatan Sinau Sejarah itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar forum nostalgia. Dari halaman Masjid Poncokusumo, sejarah kembali dihidupkan sebagai cermin perjuangan bahwa tradisi tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari ketekunan menjaga nilai dan kesetiaan terhadap jalan para ulama.

Di lereng Poncokusumo, denyut itu masih terasa. Sunyi, tetapi kokoh. Tumbuh dari akar tradisi, lalu menjelma menjadi penjaga ruh Aswaja lintas generasi. (Rof)

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • PC Pagar Nusa Kabupaten Malang Menjaga Sanad Pendekar NU, Kunjungi Salah Satu Ranting Tertua

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now