Banner Iklan

Musran NU Belung Malang Teguhkan Konsolidasi Jam’iyah dan Tradisi Khidmat dari Desa

Admin JSN
25 Mei 2026 | 14.24 WIB Last Updated 2026-05-25T07:24:56Z
Musran NU Belung, Poncokusumo, Kabupaten Malang (24/5)./dok.istimewa

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM - Musyawarah Ranting (Musran) Nahdlatul Ulama Desa Belung, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, menjadi penanda penting. Denyut organisasi NU di tingkat akar rumput masih hidup, kuat, dan terus bergerak menjaga tradisi khidmat.

Digelar pada Ahad, 24 Mei 2026 bertepatan dengan 7 Zulhijah 1447 H di Balai Desa Belung, forum tersebut berlangsung meriah, tertib, dan penuh antusiasme warga Nahdliyin.

Kegiatan yang diselenggarakan Pengurus Ranting NU Belung itu dibuka langsung oleh Ketua Tanfidziyah MWC NU Kecamatan Poncokusumo, H. Zainuri, M.M.

Kehadiran tokoh-tokoh NU, unsur pemerintahan desa, banom, serta masyarakat dari berbagai lapisan menjadikan Musran tidak sekadar agenda organisatoris, melainkan ruang konsolidasi sosial dan kebudayaan warga NU di desa.

Pada forum tersebut, peserta Musran secara musyawarah ahlul halli wal aqdi (AHWA) menetapkan Ustadz Kasiali sebagai Rois Syuriah NU Ranting Belung. Sementara pemilihan Ketua Tanfidziyah dilakukan secara demokratis melalui mekanisme voting dan menghasilkan Imron Afandi sebagai Ketua Tanfidziyah NU Ranting Belung terpilih.

Terpilihnya kepengurusan baru tersebut disambut optimistis oleh warga dan tokoh NU setempat. Sebab bagi masyarakat Nahdliyin, pergantian kepemimpinan bukan semata proses administratif, melainkan kesinambungan sanad perjuangan dan khidmat organisasi.

Rois Syuriah terpilih, Ustaz Kasiali, dalam sambutannya menegaskan komitmennya untuk melanjutkan perjuangan para pendiri NU.

"Semoga NU lebih baik dari tahun kemarin. Kita akan berusaha sekuat tenaga dan pikiran untuk meneruskan perjuangan serta cita-cita para pendiri NU," ungkap Kasiali.

Sementara Ketua Tanfidziyah terpilih, Imron Afandi, menekankan pentingnya konsolidasi organisasi dan kerja kolektif lintas elemen masyarakat.

"Semoga NU semakin berjaya, lebih konsolidatif, dan lebih militan. Kami akan bekerja sama dengan semua unsur, baik pemerintahan maupun lembaga-lembaga lainnya," kata Imron.

Pernyataan tersebut menggambarkan arah kepemimpinan NU ranting yang tidak hanya berorientasi pada penguatan struktur internal, tetapi juga membangun jejaring sosial yang lebih luas dalam kehidupan masyarakat desa.

Dalam pidato pembukaan, H. Zainuri, M.M. menegaskan bahwa kekuatan Nahdlatul Ulama memiliki hubungan erat dengan ketahanan bangsa dan negara. "NU harus kuat agar NKRI juga kuat."

Ia juga mengingatkan bahwa berkhidmat di NU membutuhkan keberanian moral dan kesediaan berkorban.

"Berani untuk berkhidmat. Berjuang itu butuh pengorbanan. Dan semoga kita semua mendapatkan keberkahan," sambung Zainuri.

Zainuri juga menilai Desa Belung memiliki tradisi kaderisasi NU yang kuat. Ia meminta agar seluruh tokoh dan sesepuh tetap dilibatkan dalam kepengurusan organisasi.

Menurutnya, Belung telah melahirkan banyak kader yang kini memimpin lembaga maupun badan otonom NU di tingkat cabang. Di antaranya Ketua LTM KH. Maman S. Djumari, Ketua PC RMI Agus Ichwan Mahmudi, serta Ketua PC Pagar Nusa Gus Saiful Anam.

"Ini menunjukkan bahwa Desa Belung memiliki kaderisasi NU yang baik di Kabupaten Malang. Ini harus dipertahankan, bahkan kalau perlu dikembangkan," tegas H. Zainuri.

Dalam perspektif sosial-keagamaan, pernyataan tersebut mengandung makna penting bahwa kekuatan NU sesungguhnya lahir dari tradisi kaderisasi di tingkat desa. Dari ruang-ruang kecil seperti langgar, madrasah, majelis tahlil, hingga forum musyawarah kampung, NU membangun kesinambungan nilai dan kepemimpinan lintas generasi.

Kemudian, Penjabat Desa Belung, Ferdi Erdi Fuadi Husein, S.S., M.M., menekankan pentingnya sinergi antara ulama dan umaro dalam membangun kehidupan masyarakat.

"Perlunya elaborasi antara umaro dan ulama. Dan kami ingin menjadi orkestrasi dalam sosial-keagamaan, khususnya bagi NU Ranting Belung," ucap Ferdi.

Pernyataan tersebut merefleksikan corak Islam Nusantara yang selama ini tumbuh dalam tradisi NU yaitu hubungan harmonis antara otoritas moral keagamaan dan kepemimpinan sosial pemerintahan. Dalam tradisi Nahdliyin, ulama dan umaro bukan dua kekuatan yang dipertentangkan, melainkan dua unsur yang saling menopang demi terciptanya kemaslahatan masyarakat.

Dukungan Pemerintah Desa Belung terhadap kegiatan Musran juga tampak nyata. Acara berlangsung ramai namun tetap terkendali, menunjukkan kuatnya kultur gotong royong dan kohesi sosial masyarakat setempat.

Di tengah perubahan zaman yang kian individualistik, Musran NU Belung memperlihatkan bahwa desa masih menjadi ruang penting bagi perawatan tradisi kolektif. Bahwa NU tidak hanya hidup dalam wacana besar, tetapi juga tumbuh dari kedekatannya dengan masyarakat—dari tradisi musyawarah, kebersamaan, dan kesediaan warganya untuk terus berkhidmat.

Kekuatan NU juga tidak lahir dari gemerlap struktur organisasi semata, melainkan dari kesetiaan menjaga sanad perjuangan, menghormati para pendahulu, dan terus menanamkan nilai pengabdian dari generasi ke generasi. (Rof)

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Musran NU Belung Malang Teguhkan Konsolidasi Jam’iyah dan Tradisi Khidmat dari Desa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now