Oleh: Ki Suryo Alam(Spiritualis Bumi Wilwatikta Majapahit, Trowulan)
Kebudayaan Jawa bukanlah sekadar warisan masa lalu yang statis. Ia adalah organisme yang hidup, sebuah sistem nilai yang terus mengalir dan memberi arah. Dalam tradisi masyarakat kita, ada sebuah ungkapan mulia: Uri-uri Budaya. Ungkapan ini bukan sekadar merawat rupa atau bentuk fisik dari kesenian, melainkan menghidupkan kembali ruh, falsafah, dan tuntunan yang terkandung di dalamnya.
Ketika seni hanya berhenti sebagai tontonan, kita kehilangan esensinya. Namun, ketika tontonan itu bertransformasi menjadi tuntunan hidup, di sanalah kebudayaan menjalankan tugas tertingginya. Hal inilah yang mendasari langkah spiritual Nyai Wali Ida Rofi dan Bapak Eko Condro Wijoyo saat menggelar puncak syukuran khitanan putra mereka di Kraton Nyai Wali Ida Rofi, Kalisampurno, Sidoarjo. Sebuah perhelatan yang tidak hanya berbagi kebahagiaan sosial lewat sunatan massal 121 anak, tetapi juga memberi makan spiritual masyarakat melalui pagelaran Wayang Kulit dengan lakon Wahyu Makutho Romo.
Pilihan lakon ini bukanlah sebuah kebetulan. Ini adalah sebuah keputusan spiritual yang mendalam. Sebagai masyarakat yang berpijak pada nilai-nilai luhur, lakon Wahyu Makutho Romo adalah salah satu kisah paling sakral dalam jagat pewayangan Jawa. Di dalamnya, termaktub ajaran kepemimpinan tingkat tinggi yang sangat kita butuhkan di era modern ini.
Secara kosmologi spiritual, jika kita bedah maknanya satu per satu, kita akan menemukan cetak biru seorang pemimpin sejati:
Pertama, Wahyu. Ini adalah sebuah kanugrahan, sebuah berkah dan mandat suci yang diturunkan oleh Gusti Kang Akaryo Jagat, Tuhan Semesta Alam. Wahyu tidak pernah jatuh ke sembarang tempat; ia hanya akan turun dan menetap pada jiwa-jiwa yang terpilih. Jiwa yang telah selesai dengan urusan egonya sendiri, dan siap mengabdi untuk kemaslahatan orang banyak.
Kedua, Makutho (Mahkota). Mahkota adalah simbol legitimasi, lambang otoritas kekuasaan dari seorang ratu atau raja yang telah dinobatkan. Namun dalam kearifan Jawa, mahkota bukan alat untuk menyombongkan kekuasaan, melainkan pengingat akan beratnya beban tanggung jawab yang diletakkan di atas kepala.
Ketika Wahyu dan Makutho menyatu, ia membutuhkan wadah spiritual yang kuat, yang disebut sebagai Romo. Dalam bahasa Jawa, Romo berarti bapak atau orang tua. Seorang pemimpin yang memiliki jiwa 'Romo' adalah mereka yang bersifat arif, asih, dan bijaksana. Mereka tidak memimpin dengan tangan besi, melainkan dengan hati seorang ayah yang mengayomi anak-anaknya. Figur Rama ini merujuk pada Prabu Ramawijaya, sosok penitisan Dewa Wisnu—sang Dewa Kebajikan yang bertugas memelihara alam semesta (Kahanan).
Dari sinilah kita memahami harapan besar yang diletakkan oleh Nyai Wali Ida Rofi. Melalui pagelaran yang dibawakan oleh Ki Dalang Johan ini, ada sebuah doa dan cita-cita yang dilarungkan ke langit. Harapan agar Kraton yang beliau bangun di Desa Kalisampurno, Tanggulangin, Sidoarjo ini tidak sekadar berdiri sebagai bangunan fisik, melainkan menjelma menjadi oasis kedamaian. Sebuah tempat yang memancarkan energi kebajikan Prabu Rama, menjadi payung pelindung, dan memberikan manfaat nyata yang seluas-luasnya bagi masyarakat sekitar.
Melalui lakon ini, kita diingatkan kembali: menjadi pemimpin berarti siap menjadi 'Romo' bagi rakyatnya. Semoga anugerah kebajikan ini senantiah menaungi kita semua, dan bumi Kalisampurno tetap menjadi tanah yang subur akan kedamaian dan kebudayaan.
Rahayu, Rahayu, Sagung Dumadi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?