![]() |
| Korban travel umrah bodong ABW melaporkan kasus penipuan pemberangkatan umrah kepada anggota DPRD Kabupaten Pasuruan fraksi PKB, Agus Suyanto./dok.istimewa |
PASURUAN | JATIMSATUNEWS.COM - Kasus dugaan umrah bodong yang menyeret biro perjalanan Annisa Berkah Wisata (ABW) terus memunculkan gelombang pengakuan dari banyak korban.
Sejumlah jamaah dari Pasuruan, Probolinggo, Sidoarjo, hingga Malang mulai berani bersuara terkait kegagalan berangkat ke Tanah Suci.
Lalu, janji pemberangkatan yang terus diundur dan tidak menemui titik kepastian, hingga dugaan kerugian materi yang nilainya mencapai milliaran.
Mengetahui hal ini, Anggota Fraksi PKB DPRD Kabupaten Pasuruan, Agus Suyanto, meminta para korban untuk tidak takut melapor dan membuka fakta yang dialami.
Menurut Agus, selama ini banyak agen dan jamaah memilih diam karena terus diberi harapan akan diprioritaskan untuk berangkat apabila tidak ramai bersuara.
"Korban umroh Pasuruan, Malang, Probolinggo, Sidoarjo hingga Surabaya sangat banyak. Selama ini direktur travel ABW bungkam dan memberi iming-iming kepada yang diam akan diprioritaskan. Sedangkan yang speak up malah diancam," ungkap Agus Suyanto ketika menerima audiensi dari korban dan dalam rilis yang diterima pada Sabtu (23/5) malam.
Kasus ini semakin menjadi sorotan termasuk bagi DPRD Fraksi PKB setelah muncul informasi bahwa direktur travel ABW telah berstatus tersangka di Polresta Pamekasan. Namun hingga kini, banyak jamaah mengaku belum mendapatkan kejelasan terkait pengembalian uang maupun kepastian keberangkatan.
Salah satu kelompok jamaah yang dijadwalkan berangkat pada 7 Februari 2026 disebut gagal diberangkatkan.
Saat itu, pihak travel disebut menjanjikan keberangkatan ulang pada 23 Maret 2026 yang kembali gagal berangkat dan kemudian dijadwalkan ulang lagi pada Juli 2026 mendatang. Namun hingga kini, para agen dan jamaah belum memperoleh bukti pemesanan tiket pesawat.
"Ketentuan dari agen, pada 12 Mei pihak travel harus bisa menunjukkan bukti pemesanan pesawat, bukti booking hotel dan visa. Tapi sampai hari ini direktur ABW tidak bisa menunjukkan bukti-bukti tersebut dan bahkan nomor HP-nya tidak bisa dihubungi," beber salah satu korban.
Tidak hanya jamaah, sejumlah agen juga mengaku mengalami tekanan psikologis karena harus mempertanggungjawabkan nasib jamaah yang mereka rekrut. Dalam pengakuan yang beredar di grup korban, seorang agen menceritakan bagaimana dirinya dan sang suami bahkan meminjamkan uang pribadi untuk pembelian tiket.
Korban tersebut mengaku sempat dijanjikan pengembalian dana dalam waktu dua hari, namun hingga kini uang tak kunjung kembali. Mereka bahkan mengaku pernah bertahan menginap di teras rumah pemilik travel demi meminta pertanggungjawaban.
"Kalau pernah dengar ada orang sampai menginap di teras Bu Nisa, itu kami. Sampai sekarang hanya janji-janji. Tidak ada tanggung jawab sepeser pun," ungkap pengakuan korban yang merupakan agen umrah.
Korban juga menyebut menemukan banyak pihak lain yang mengalami persoalan serupa. Mulai dari jamaah yang terlantar di Madinah, keluarga yang disebut sempat terlantar di Malaysia, hingga jamaah yang belum menerima perlengkapan umrah meski telah melunasi pembayaran.
Kasus ini juga ramai diperbincangkan di grup agen dan jamaah, termasuk di media sosial TikTok, setelah sejumlah korban mulai mengangkat pengalaman mereka hingga viral. Para korban berharap keberanian mereka bersuara dapat mencegah jatuhnya korban baru.
Sumber lain juga menyampaikan banyak jamaah sebelumnya merasa malu untuk mengungkap kasus yang dialami karena telah berpamitan kepada keluarga bahkan menggelar selamatan keberangkatan.
"Saat itu keluarga sudah siap mengantar. Sudah selamatan, diumumkan berangkat minggu itu. Ternyata gagal berangkat. Dua hari lagi diundur, lalu batal lagi sampai sekarang," beber korban dari travel ABW.
Situasi konflik Timur Tengah juga sempat dijadikan alasan penundaan keberangkatan oleh pihak travel. Namun menurut salah satu agen, alasan tersebut tidak bisa terus digunakan tanpa kejelasan nyata kepada jamaah.
"Nah, ternyata perang membawa keberuntungan—bagi travel ABW. Dijadikan alasan untuk ngeles. Syawal tidak berangkat katanya gara-gara perang," sindir agen yang menjadi korban.
Kini para korban berharap aparat penegak hukum dapat menuntaskan kasus tersebut dan memberikan kepastian hukum maupun pengembalian hak para jamaah. Mereka juga mengajak korban lain untuk bersatu dan berani melapor agar tidak ada lagi masyarakat yang menjadi korban dugaan umrah bodong tersebut. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?