Tim SMAN 6 Kota Malang Kunjungi DPRD Kota Malang bersama lawyer pemerhati sosial dan pendidikan
MALANG| JATIMSATUNEWS.COM: Civitas akademika SMAN 6 Kota Malang ke Kantor DPRD Kota Malang pada Jumat terdiri dari Kepala Sekolah, Guru BK, Humas dan Wali kelas(29/5/2026).
Dalam kunjungan tersebut, pihak sekolah menyampaikan capaian sekaligus memperkuat sinergi pendidikan, khususnya terkait program sekolah ramah anak dan pengembangan konsep outdoor learning.
Kepala Sekolah Ernawati hadir bersama jajaran sekolah dan diterima oleh anggota DPRD Kota Malang Dr. H Indra Permana dari Fraksi PKS dan Putri Aidillah SH dari PKB.
Dalam kesempatan tersebut, Ernawati menilai gedung DPRD memiliki potensi besar sebagai ruang pembelajaran alternatif bagi siswa.
“Ini cocok sebagai tempat outdoor learning. Anak-anak bisa belajar langsung tentang demokrasi, fungsi legislatif, hingga bagaimana kebijakan publik dibentuk. Jadi pembelajaran tidak hanya di dalam kelas, tetapi juga menyentuh realitas sosial dan pemerintahan,” ujar Ernawati.
Gagasan itu langsung mendapat sambutan positif dari Kaji Indra Permana. Ia menyebut kantor DPRD terbuka untuk menjadi sarana edukasi politik dan pembelajaran langsung bagi pelajar.
“Silakan, kantor DPRD bisa dijadikan tempat outdoor learning. Kami sangat terbuka jika sekolah-sekolah ingin mengenalkan dunia demokrasi dan pemerintahan kepada para siswa sejak dini agar mereka memiliki wawasan kebangsaan yang lebih kuat,” kata Kaji Indra.
Selain membahas konsep pembelajaran luar kelas, pertemuan juga menyampaikan komitmen SMAN 6 Kota Malang dalam membangun lingkungan pendidikan yang humanis melalui deklarasi sekolah ramah anak.
Ernawati menyampaikan bahwa SMAN 6 menjadi satu-satunya sekolah di Kota Malang yang telah mendeklarasikan diri sebagai sekolah ramah anak. Menurutnya, deklarasi tersebut membawa konsekuensi besar bagi seluruh tenaga pendidik untuk mengubah pola pendekatan terhadap siswa menjadi lebih humanis dan inklusif.
Ia mencontohkan, siswa yang terlambat tidak lagi mendapatkan hukuman fisik atau bentuk hukuman yang merendahkan. Sebaliknya, sekolah berusaha mencari pendekatan edukatif yang tetap mendidik namun menghargai kondisi psikologis anak.
“Sekolah ramah anak itu membuat kami harus melayani anak-anak dengan ramah. Anak terlambat misalnya, tidak ada hukuman fisik atau hukuman yang membuat mereka malu. Guru-guru juga terus belajar mencari pendekatan yang humanis agar anak tetap disiplin tetapi tidak merasa tertekan. Karena ketika kami mendeklarasikan sekolah ramah anak, maka ada tanggung jawab besar untuk benar-benar menghadirkan lingkungan belajar yang nyaman dan aman bagi siswa,” ungkap Ernawati.
Sebagai bagian dari pembentukan karakter, sekolah juga mendorong kegiatan penguatan mental dan kedisiplinan melalui aktivitas bela diri seperti pencak silat, karate, dan taekwondo.
Sementara itu Kaji Indra memberikan apresiasi atas langkah progresif yang dilakukan SMAN 6.
Menurutnya, program sekolah ramah anak menjadi jawaban atas tantangan generasi muda saat ini yang dinilai menghadapi tekanan sosial dan mental yang semakin kompleks.
“Apa yang dilakukan SMAN 6 di bawah kepemimpinan Bu Erna sangat tepat. Generasi muda hari ini membutuhkan perhatian khusus agar tumbuh menjadi generasi yang kuat dan tangguh. Anak-anak sekarang secara fisik mungkin terlihat kuat, tetapi secara mental banyak yang membutuhkan pendampingan dan perhatian. Karena itu sekolah ramah anak menjadi penting agar mereka tumbuh dengan karakter yang sehat dan percaya diri,” ujarnya.
Senada dengan itu, Putri Aidilla juga menyampaikan apresiasinya terhadap deklarasi sekolah ramah anak yang dilakukan SMAN 6.
“Saya mengapresiasi SMAN 6 yang telah mendeklarasikan sekolah ramah anak. Ini menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga memperhatikan tumbuh kembang mental, psikologis, dan kenyamanan peserta didik,” katanya.
Hadir pula dalam diskusi tersebut lawyer , pemerhati pendidikan dan sosial Wiwid Tuhu Prasetyo turut memberikan pandangan kritis terkait isu pendidikan dan perlindungan anak di Kota Malang.
Menurutnya, secara umum semua sekolah tentu ingin menjadi ramah anak. Namun tantangan sesungguhnya adalah bagaimana seluruh pemangku kepentingan mampu menghadirkan sistem yang benar-benar menjamin masa depan anak.
“Hari ini sebenarnya tidak ada sekolah yang tidak ingin ramah anak. Semua ingin menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siswa. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana seluruh stakeholder, baik pemerintah, sekolah, masyarakat, maupun keluarga, benar-benar hadir untuk memastikan anak-anak mendapatkan hak pendidikan yang layak,” ujarnya.
Ia menyoroti masih adanya anak usia sekolah yang tidak bersekolah namun tetap memiliki ruang aktivitas di masyarakat. Kondisi tersebut dinilai menjadi pekerjaan rumah serius bagi pemerintah dan DPRD.
“Kalau masih ada anak usia sekolah yang tidak bersekolah, berarti masih ada ruang yang harus dibenahi bersama. Jangan sampai ada lingkungan atau komunitas yang permisif terhadap anak putus sekolah. Ini harus menjadi perhatian serius agar semua anak tetap berada di jalur pendidikan,” tegas Wiwid.
Wiwid juga mendorong DPRD dan pemerintah daerah mengambil langkah konkret agar seluruh anak usia sekolah mendapatkan akses pendidikan yang layak.
“Ini menjadi PR bersama, termasuk bagi anggota dewan, untuk menutup ruang-ruang yang membuat anak usia sekolah tidak bersekolah. Harus ada langkah nyata supaya anak-anak tetap semangat belajar dan memperoleh masa depan yang lebih baik,” ucapnya.
Pertemuan antara civitas akademika SMAN 6 dan DPRD Kota Malang tersebut diharapkan menjadi awal kolaborasi yang lebih luas dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, ramah, dan mendukung tumbuh kembang generasi muda di Kota Malang.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?