Ketua Badan Kehormatan DPRD Surabaya Imam Syafi'i di acara FGD UNESA, Mahasiswa Harus Berani Jadi Agen Perubahan
SURABAYA| JATIMSATUNEWS.COM: Ketua Badan Kehormatan DPRD Kota Surabaya Imam Syafi’i menegaskan pentingnya mahasiswa memahami persoalan sosial dan kebangsaan sebagai bekal menjadi agen perubahan sekaligus calon pemimpin masa depan. Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Merajut Nalar dan Nurani Mahasiswa untuk Bangsa: Kritis Dialogis No Anarkis” di Auditorium Fakultas Hukum Universitas Negeri Surabaya, Sabtu (16/5/2026).
Dalam forum yang dihadiri pengurus BEM, aktivis mahasiswa, dan organisasi kemahasiswaan tersebut, Imam Syafi’i menilai mahasiswa memiliki tanggung jawab besar sebagai agent of change yang harus mampu memahami langsung persoalan masyarakat di lapangan.
“Mahasiswa harus semakin menguasai isu-isu yang ada di bawah karena mereka adalah agent of change. Ini penting bagi mereka,” ujarnya.
Menurutnya, mahasiswa yang aktif berdiskusi dan terlibat dalam forum intelektual kampus akan memiliki kemampuan lebih baik dalam menyampaikan gagasan serta mencari solusi terhadap berbagai persoalan bangsa.
“Kalau nanti mereka jadi anggota DPRD, insyaallah lebih baik dibanding DPRD yang sekarang karena sejak mahasiswa mereka sudah terbiasa berdiskusi, belajar, dan bertemu dengan banyak narasumber berpengalaman,” katanya.
Ia juga menilai forum seperti FGD menjadi sarana penting untuk melatih keberanian berbicara, kemampuan komunikasi, dan sensitivitas sosial mahasiswa.
“Mungkin masih ada yang malu-malu, tapi saya yakin kalau mereka semakin sering ikut forum seperti ini, jam terbangnya makin tinggi. Semakin sering bertemu narasumber dan berdiskusi, mereka akan semakin berkembang,” ungkapnya.
FGD “Kritis Dialogis No Anarkis” diselenggarakan BEM UNESA dengan menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan akademisi, di antaranya Rizal Wahid, Mufti Makarim, serta Hikam Hulwanullah. Diskusi dipandu moderator Jauhar Wahyuni.
Melalui kegiatan tersebut, UNESA kembali menegaskan komitmennya membangun budaya akademik yang kritis, dialogis, dan damai, sekaligus mendorong mahasiswa menyampaikan aspirasi melalui cara-cara intelektual dan bermartabat tanpa anarkisme.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?