![]() |
| JAWARA kolaborasi dengan Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan untuk membahas jalan rusak./dok. YouTube @jatimsatunews |
PASURUAN | JATIMSATUNEWS.COM - Jagongan Wakil Rakyat (Jawara) JatimSatuNews pada Rabu (20/5) lalu membahas tentang salah satu permasalahan yang dialami masyarakat sehari-hari yakni jalan rusak.
Mengenai jalan, ada setidaknya tiga kategori jalan yang paling sering disorot, yaitu jalan kabupaten/kota, jalan provinsi, dan jalan nasional.
Di antara ketiga jalan tersebut kemudian acapkali terdapat kerusakan dan menjadi keluhan masyarakat yang notabene sering menggunakannya sebagai akses aktivitas sehari-hari.
Pertanyaan kemudian muncul, siapa yang harus bergerak dalam menangani permasalahan jalan rusak?
Guna mengetahui hal ini, Jawara menghadirkan Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan yang belakangan ini gencar berbicara tentang tanggung jawab, fakta, solusi, dan kesadaran bersama.
Maka, Jawara turut menanyakan tentang isu yang sering lekat dengan masyarakat yakni mengenai bina marga khususnya terhadap perawatan dan perbaikan jalan provinsi hingga nasional, serta pentingnya kesadaran pengguna jalan.
Keberadaan jalan pun bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga menyangkut keselamatan pertumbuhan ekonomi, mobilitas masyarakat, hingga wajah pembangunan daerah termasuk di Kabupaten Pasuruan.
Topik ini kemudian dibahas Jawara bersama Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan fraksi PKB HM. Yusuf Daniyal, ST. MM., didampingi dua anggota Komisi III fraksi Gerindra Khoirul Anam dan anggota Komisi III fraksi PDI-Perjuangan Ahmad Mujangki.
"Untuk jalan di wilayah kami terutama jalan kabupaten dan akses jalan desa memang rata-rata bagus. Namun demikian ada beberapa ruas jalan yang masih membutuhkan pemeliharaan dan rehabilitasi karena memang ada beberapa yang saya katakan itu rusak, baik rusak sedang atau rusak parah dan itu cukup mengganggu aktivitas warga," ungkap Daniyal, wakil rakyat Dapil 4 yang meliputi Lumbang, Pasrepan, Kejayan, Gondangwetan dan Winongan.
"Khusus kondisi di dapil saya, terutama di daerah yang kontur tanahnya labil seperti di daerah pegunungan. Di sana memang jalannya agak lembek dan banyak tergerus oleh air hujan," imbuhnya.
"Kemudian perkembangan dari akar pohon yang membuat jalan aspal banyak yang retak, sehingga selalu dibutuhkan maintenance terhadap jalan-jalan seperti itu," lanjutnya.
Kemudian, Khairul Anam yang juga dari dapil 4 cenderung menyoroti daerah Kejayan yang menurutnya masih banyak jalan yang rusak.
"Kejayan memang ada jalur lintas provinsi, namun yang saya soroti adalah pelosok pedesaannya yang di sana jalannya mengalami kerusakan. Ada dugaan pertama, mungkin, karena kelebihan muatan yang tidak dapat ditanggung jenis jalannya karena ada truk-truk yang melintas. Kedua, kurang perawatan. Jadi, jalan-jalannya ada lubang dan retak-retak," beber Anam.
Beralih ke Ahmad Mujangki, ia berasal dari dapil 5 yang meliputi Purwodadi, Tutur, Puspo, Purwosari dan Tosari. Daerah ini disebutnya paling banyak jalan rusak karena faktor geografis.
"Kalau di wilayah saya paling banyak jalan rusak. Karena di sana berkaitan dengan kontur tanah. Ada yang berada di atas dan di bawah—dataran tinggi dan rendah, sehingga kebanyakan karena masalah air dari musim hujan yang sampai meluap ke jalan," ujar Mujangki.
Menurut Mujangki, pada 2025 menjadi yang paling parah dan dialami beberapa desa seperti Jimbaran Kecamatan Puspo, yang pada titik kritisnya bisa mencapai Desa Keduwung.
Ketika surut jalanan di wilayah tersebut sering disebut warga setempat seperti sungai kering alih-alih jalan.
"Kalau orang bilang di sana seperti kali kering atau kali mati. Tapi alhamdulillah tahun ini sudah dibangun oleh Pemkab (Pasuruan) semacam persiapan untuk perbaikan. Walaupun ada beberapa wilayah lain yang masih perlu perbaikan atau tambal sulam," jelasnya.
Wakil rakyat yang akrab disapa Jangki ini kemudian menambahkan bahwa perbaikan jalan Kecamatan Puspo ke arah Bromo tahun ini sudah selesai semua. Hanya saja, untuk wilayah barat Puspo yang menghubungkan dengan Palangsari menurutnya hampir 20 tahun tidak tersentuh sama sekali oleh upaya pembenahan jalan.
"Sehingga, aspalnya sampai tidak ada. Adanya cuma makadam dengan makadam. Sedangkan, di Keduwung jalannya sudah enak, bahkan sudah paving. Walaupun memang ada yang sudah termakan usia, mungkin sudah 10 atau 15 tahun," paparnya.
Menurut Mujangki jalan desa di pegunungan akan lebih baik berupa paving karena daya tahannya minimal 10 tahun dibanding dengan jalan rabat (beton). Apalagi dapat untuk menyerap air ketika curah hujan tinggi.
Walau demikian, ia tidak menampik bahwa anggaran untuk pembangunan jalan dengan jenis tertentu akan berbeda. Namun, ia menegaskan bahwa yang dibutuhkan adalah durabilitas.
Pada titik ini kemudian muncul tiga hal yang penting untuk diperhatikan yakni pembangunan—yang sesuai dengan karakteristik geografis, perawatan, dan pengawasan.
Khusus aspek pengawasan Daniyal mengaku peran tersebut memang menjadi tanggung jawab bersama.
"Pengawasan memang menjadi tanggung jawab dari DPRD, perangkat daerah, juga dari perangkat desa. Perangkat desa juga merupakan sosok pengawas yang sehari-hari tinggal di sana dan mengetahui proses pengerjaan, kualitas bahan, dan teknis. Mestinya, mereka jauh lebih paham dan bisa memberikan masukan kepada kami baik yang di DPRD atau yang di Bina Marga pemerintah daerah," tutur Daniyal.
Daniyal juga membeberkan bahwa Komisi III yang berisi 12 orang bekerja kolektif dengan turun langsung mengawasi beberapa titik sekaligus dalam satu hari.
"Dua belas orang melakukan satu hari bisa sampai 4, 5, hingga 6 titik dengan per titik estimasi 1 jam. Kami memang akan memeriksa secara kasat mata, sembari melihat RAB-nya terhadap perencanaan dan proses pembangunan," paparnya.
Dari sana, imbuhnya, akan diukur kualitas bahan yang dipakai, proses pencampuran bahan yang dipakai, kemudian kualitas aspal—jika menggunakan—yang digunakan. Secara teknis, Daniyal memastikan pihak komisinya menguasai hal-hal teknis terkait pembangunan hingga rehabilitasi jalan.
Jika ada kekurangan, pihaknya dapat memberi teguran agar ada evaluasi untuk perbaikan. Dan hingga saat ini, menurut Daniyal kekurangan-kekurangan yang terjadi di lapangan cenderung disebabkan faktor kesalahan manusiawi (human errors) dan tidak ada unsur kesengajaan.
Kemudian, Anam dan Mujangki menambahkan bahwa faktor alam juga bisa menentukan tingkat daya tahan jalan, apalagi jika jenis aspal yang digunakan kurang sesuai dengan kontur tanahnya.
Komisi III yang hadir dalam siniar (podcast) Jawara ini juga mengingatkan adanya faktor penting lainnya ketika jalan rusak yaitu edukasi kepada masyarakat dalam melintasi jalan tersebut, terutama jika menggunakan kendaraan.
Menurut Daniyal, Anam, dan Mujangki masyarakat juga harus diberikan edukasi tentang pentingnya keselamatan dalam berkendara. Bahkan, masyarakat ditekankan untuk menyadari bahwa perangkat berkendara seperti helm—jika menggunakan kendaraan roda dua—adalah tindakan penting untuk peduli terhadap diri sendiri.
Lalu, jika tidak sangat terdesak, masyarakat juga diimbau untuk tidak memaksakan diri berkendara saat cuaca tidak memungkinkan.
Demikian pula terkait keamanan, masyarakat di pedesaan juga direkomendasikan untuk tidak bepergian pada malam hari guna meminimalisir adanya kecelakaan akibat penerangan minim atau bahkan untuk menghindari potensi menjadi korban begal.
Ketiga wakil rakyat ini kemudian tidak menampik satu hal lain yang di luar kuasa manusia yakni takdir. Semua orang menurut mereka tidak bisa memastikan sepenuhnya akan selalu selamat dalam berkendara sekalipun sudah memperhatikan banyak hal. Sehingga, untuk aspek ini menjadi yang paling sulit dihindari.
Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan kemudian menegaskan bahwa pembangunan dan perawatan jalan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga membutuhkan dukungan dan kesadaran masyarakat sebagai pengguna jalan. Mereka pun sebagai wakil rakyat mengaku tetap terbuka terhadap keluhan masyarakat jika terdapat kerusakan jalan di Kabupaten Pasuruan.
Adapun mengenai ulasan lengkap siniar Jawara dengan Komisi III DPRD Kabupaten Pasuruan tentang jalan rusak ini dapat ditonton melalui kanal YouTube resmi JatimSatuNews. ***
Penulis: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?