Banner Iklan

Hardiknas 2026, Soal Prodi Rektor UIN Malang Tegaskan Bukan Menutup Tapi Reposisi dan Transformasi

Anis Hidayatie
02 Mei 2026 | 19.39 WIB Last Updated 2026-05-02T12:39:50Z


Rektor UIN Malang Prof Ilfi 

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) menjadi momentum refleksi bagi dunia pendidikan tinggi, termasuk di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dalam wawancara pada Sabtu (2/5/2026), Rektor Ilfi Nur Diana menegaskan bahwa penutupan program studi (prodi) bukanlah solusi atas dinamika kebutuhan pendidikan saat ini.

Menurutnya, perguruan tinggi, khususnya PTKIN seperti UIN, tidak hanya berfungsi mencetak lulusan terdidik, tetapi juga membangun peradaban yang beradab. Oleh karena itu, keberadaan berbagai prodi—baik pendidikan, sosial, sains, maupun agama—harus dipandang secara komprehensif.

“Kalau ada prodi yang sepi peminat, biarkan mekanisme alamiah yang berjalan. Tidak perlu ada intervensi negara untuk menutup prodi. Jika memang tidak dibutuhkan, dengan sendirinya akan berhenti,” ujarnya.

Distribusi, Bukan Over Supply

Rektor menyoroti isu over supply tenaga kerja, seperti dokter, yang sering menjadi perdebatan. Ia menilai persoalan utama bukan pada jumlah lulusan, melainkan distribusinya yang belum merata.

“Di kota besar mungkin terlihat berlebih, tetapi di daerah masih sangat membutuhkan. Ini soal distribusi, bukan kelebihan tenaga,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa pemerataan tenaga profesional penting untuk menekan angka kemiskinan, meningkatkan kesehatan masyarakat, serta mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di daerah.

Prodi Agama Tetap Relevan

Dalam konteks UIN, prodi keagamaan dinilai tetap memiliki peran strategis. Meski tidak selalu terhubung langsung dengan dunia industri, lulusan prodi agama dibutuhkan masyarakat sebagai ilmuwan dan pemikir di bidang keislaman.

“Ahli tafsir, hadis, dan fiqih itu tetap dibutuhkan selama kehidupan manusia berlangsung. Jadi prodi agama tidak akan pernah kami tutup,” jelasnya.

Namun demikian, ia menekankan pentingnya reposisi dan transformasi kurikulum. Misalnya, pengembangan dakwah berbasis teknologi dan kecerdasan buatan (AI), hingga integrasi keilmuan seperti teknik elektro dengan perkembangan AI.

Transformasi Kurikulum Jadi Kunci

Rektor menegaskan bahwa perubahan mendasar harus dilakukan pada kurikulum, bukan sekadar metode pembelajaran.

“Bagaimana kurikulum itu relevan dengan dunia kerja, industri, dan perkembangan digital, termasuk AI, itu yang penting. Bukan menghapus prodi,” katanya.

Saat ini, UIN Malang juga tengah memproses penguatan kelembagaan, termasuk pengembangan Fakultas Ushuluddin agar semakin kokoh secara akademik dan struktural.

Tiga Pilar Hardiknas UIN Malang

Dalam amanatnya pada upacara Hardiknas, Rektor menyampaikan tiga pilar utama pengembangan pendidikan di UIN Malang:

Pendidikan Unggul

Tidak hanya unggul secara akreditasi, tetapi juga menjamin kualitas proses akademik setara universitas global.

Inovasi Berbasis Nilai

Integrasi sains dan Islam untuk menjawab tantangan moral generasi muda, termasuk isu hoaks, kesehatan mental, hingga perilaku sosial mahasiswa.

Internasionalisasi

Komitmen membawa kampus ke level global melalui kolaborasi dan peningkatan kualitas akademik.

Sertifikasi dan Link and Match Dunia Kerja

Sebagai langkah konkret, UIN Malang mendorong seluruh prodi memiliki skema sertifikasi profesi yang diakui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Hal ini bertujuan meningkatkan daya saing lulusan di dunia kerja.

Selain itu, dilakukan pula:

Review kurikulum berbasis kebutuhan industri (link and match),

Penguatan kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI),

Penempatan tenaga kerja bagi lulusan.

“Semua prodi harus punya sertifikasi profesi. Ini menjadi pembeda lulusan UIN dengan perguruan tinggi lain,” tegasnya.

Refleksi dan Komitmen ke Depan

Hardiknas, menurut Rektor, bukan sekadar seremoni, melainkan refleksi untuk memastikan bahwa kampus telah menciptakan atmosfer akademik yang berkualitas.

“UIN sudah melakukan banyak hal, tetapi harus terus ditingkatkan. Kurikulum harus selalu relevan dengan kebutuhan zaman,” pungkasnya.

Dengan semangat Hardiknas 2026, UIN Malang menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar mengikuti arus perubahan, tetapi menjadi pelopor pendidikan yang unggul, berkarakter, dan adaptif di era digital.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Hardiknas 2026, Soal Prodi Rektor UIN Malang Tegaskan Bukan Menutup Tapi Reposisi dan Transformasi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now