Banner Iklan

Film “Pesta Babi” Tuai Sorotan, Sutradara Sebut Konflik Papua Tak Lepas dari Kolonialisme

Admin Cyber
16 Mei 2026 | 21.50 WIB Last Updated 2026-05-16T14:51:01Z

“Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” menjadi sorotan publik setelah mengangkat realita konflik Papua, perjuangan masyarakat adat, hingga dampak pembangunan terhadap ruang hidup warga lokal. Film dokumenter ini memantik diskusi luas tentang kemanusiaan, lingkungan, dan masa depan Papua di tengah pro dan kontra yang terus bergulir



ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM

Jagat media sosial dan ruang diskusi publik tengah ramai membicarakan film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Film karya sutradara Dandhy Dwi Laksono bersama Cypri Paju Dale itu memantik perhatian luas lantaran mengangkat isu sensitif mengenai konflik Papua, proyek pembangunan nasional, hingga persoalan masyarakat adat di wilayah Papua Selatan.

Film dokumenter tersebut menyoroti kondisi masyarakat adat di kawasan Merauke, Boven Digoel, dan Mappi yang disebut mengalami tekanan akibat ekspansi proyek strategis nasional, pembukaan lahan skala besar, serta masuknya investasi di sektor perkebunan dan pangan. Dalam film itu, masyarakat adat Papua digambarkan menghadapi perubahan besar terhadap ruang hidup, budaya, hingga sumber penghidupan mereka.

Judul “Pesta Babi” sendiri menjadi perhatian publik karena dianggap unik sekaligus kontroversial. Dalam budaya sejumlah suku di Papua, pesta babi merupakan simbol adat, persaudaraan, dan kehidupan sosial masyarakat. Namun dalam film tersebut, istilah itu digunakan sebagai metafora atas kondisi sosial dan konflik yang terjadi di Papua saat ini.

Sutradara Cypri Paju Dale menyampaikan bahwa penggunaan istilah “kolonialisme” dalam film bukan dimaksudkan sebagai provokasi, melainkan sebagai bentuk analisis terhadap relasi kekuasaan, eksploitasi sumber daya alam, serta dampak pembangunan terhadap masyarakat lokal Papua. Ia menilai persoalan di Papua tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang perebutan ruang hidup dan marginalisasi masyarakat adat.

Menurutnya, film ini disusun melalui proses riset yang panjang dengan menggabungkan pendekatan jurnalistik, sejarah, antropologi, dan dokumentasi lapangan. Tim produksi juga disebut melakukan wawancara dengan warga lokal, tokoh adat, hingga sejumlah pihak yang terdampak langsung oleh perubahan lingkungan dan proyek pembangunan.

Sejak diputar di sejumlah komunitas dan forum diskusi, film tersebut menuai beragam respons dari masyarakat. Sebagian kalangan menganggap film itu penting untuk membuka ruang dialog mengenai persoalan Papua yang selama ini dinilai jarang dibahas secara terbuka. Mereka menilai film dokumenter memiliki fungsi sosial untuk menyampaikan realitas dari sudut pandang masyarakat akar rumput.

Namun di sisi lain, muncul pula kritik terhadap isi dan narasi film tersebut. Beberapa pihak menilai penggunaan istilah kolonialisme terlalu berlebihan dan berpotensi memicu polemik baru di tengah situasi Papua yang sensitif. Kontroversi juga semakin berkembang setelah sejumlah agenda nonton bareng atau nobar film dikabarkan mengalami penolakan dan pembubaran di beberapa daerah.

Meski demikian, perhatian publik terhadap film ini justru semakin meningkat. Potongan adegan, kutipan dialog, hingga pembahasan mengenai konflik agraria dan proyek food estate di Papua ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial. Banyak warganet menilai film tersebut berhasil memancing diskusi tentang hak masyarakat adat, kerusakan lingkungan, dan arah pembangunan di Papua.

Pengamat sosial menilai kemunculan film dokumenter seperti Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita menunjukkan bahwa isu Papua masih menjadi perhatian besar masyarakat Indonesia. Selain itu, film dokumenter dinilai semakin memiliki ruang penting dalam menyampaikan kritik sosial dan membangun kesadaran publik terhadap persoalan kemanusiaan maupun lingkungan.

Hingga kini, polemik mengenai film tersebut masih terus berlangsung. Di tengah pro dan kontra yang muncul, film itu telah menjadi salah satu dokumenter yang paling banyak diperbincangkan publik pada tahun 2026 karena berani mengangkat isu Papua dari sudut pandang yang berbeda.(Zul)


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Film “Pesta Babi” Tuai Sorotan, Sutradara Sebut Konflik Papua Tak Lepas dari Kolonialisme

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now