Banner Iklan

FGD UNESA, Kritis Dialogis No Anarkis, Mahasiswa Didorong Lahirkan Gagasan Konkret untuk Bangsa

Anis Hidayatie
16 Mei 2026 | 15.53 WIB Last Updated 2026-05-16T08:53:52Z

 

Gambar: Peserta dan Pemateri FGD Surabaya

Universitas Negeri Surabaya kembali menegaskan komitmennya membangun budaya akademik yang kritis, dialogis, dan damai melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Merajut Nalar dan Nurani Mahasiswa untuk Bangsa: Kritis Dialogis No Anarkis” yang digelar di Auditorium Fakultas Hukum UNESA lantai 2, Sabtu (16/5/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan oleh BEM UNESA tersebut dihadiri para pengurus BEM fakultas, aktivis mahasiswa, organisasi kemahasiswaan, hingga peserta dari berbagai fakultas. Forum ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan akademisi, yakni Rizal Wahid selaku Pengamat Intelijen dan Keamanan sekaligus Direktur INSS, Mufti Makarim selaku Ahli Menko Polkam RI, Drs. Imam Syafi’i, S.H., M.H. Ketua Dewan Kehormatan DPRD Kota Surabaya, serta Hikam Hulwanullah, S.H., M.H., LL.M., Dosen Fakultas Hukum UNESA. Diskusi dipandu moderator Jauhar Wahyuni, M.I.Kom., dosen Fakultas Ilmu Komunikasi UNESA.

FGD dibuka langsung oleh Kasubdit Ormawa UNESA, Tutur Jatmiko. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya kampus menjadi ruang dialog yang sehat dan bermartabat.

“Kita tidak hanya berproses untuk mendapatkan ilmu, tetapi juga semoga menjadi amal kebaikan untuk semuanya. Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, kegiatan ini saya nyatakan dibuka,” ujarnya.

Ia berharap forum tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan mampu melahirkan gagasan yang berdampak bagi masyarakat dan bangsa.

“Saya berharap acara ini banyak diskusi yang tentunya bisa membawa banyak perubahan. Permasalahan hukum dan sosial harus menjadi perhatian bersama. Harapannya ada ide-ide yang bisa dibawa ke level lebih tinggi untuk menjadikan Indonesia lebih baik,” katanya.

Menurutnya, perbedaan pendapat di kalangan mahasiswa merupakan bagian penting dari dinamika demokrasi kampus, selama tetap disampaikan secara santun dan intelektual.

Gambar: Pemaparan dan sesi FGD oleh Rizal Wahid 

“Kalau persinggungan ide mungkin sering terjadi dan itu positif. Tapi kalau persinggungan fisik, alhamdulillah di UNESA masih nyaman. Setelah debat biasanya tetap ngopi bareng,” ungkapnya.

Sementara itu, Hikam Hulwanullah menilai forum semacam ini menjadi kebutuhan akademik sekaligus kebutuhan masyarakat Indonesia secara umum karena mampu membuka ruang bertukar pikiran secara elegan dan profesional.

“Acara hari ini luar biasa keren. Ini kebutuhan akademik dan kebutuhan rakyat Indonesia pada umumnya karena kita mendapat forum untuk sharing dan bertukar pikiran. Semoga kegiatan seperti ini konsisten dan terus menjadi jembatan bagi mahasiswa menyampaikan pendapat secara elegan dan profesional,” ujarnya.

Menurut Hikam, mahasiswa harus mampu menangkap berbagai persoalan di masyarakat lalu menyampaikannya dalam bentuk gagasan yang solutif dan argumentatif.

Hal senada disampaikan Imam Syafi’i. Ia berharap mahasiswa semakin menguasai isu-isu sosial di lapangan sebagai bagian dari peran mereka sebagai agent of change.

Gambar: Pemaparan Materi dan Sesi FGD Oleh Hikam Hulwanullah  

“Mahasiswa harus memahami isu-isu yang berkembang di bawah karena mereka adalah agent of change. Kalau nanti mereka menjadi anggota DPRD, insyaallah bisa lebih baik karena sejak mahasiswa sudah terbiasa berdiskusi, menyampaikan gagasan, dan bertemu narasumber-narasumber berpengalaman,” katanya.

Ia menilai forum seperti ini menjadi ruang latihan penting bagi mahasiswa untuk meningkatkan keberanian, kemampuan komunikasi, dan sensitivitas sosial mereka.

Di sisi lain, Mufti Makarim menekankan pentingnya tindak lanjut dari berbagai rekomendasi yang dihasilkan mahasiswa dalam forum tersebut.

“Yang perlu dipastikan adalah rekomendasi-rekomendasi yang dibuat teman-teman ini benar-benar menjadi dokumen yang bisa dikompilasi dan disampaikan sesuai tujuannya, baik ke pemerintah daerah, kementerian, maupun presiden,” ujarnya.

Ia mengapresiasi kemampuan mahasiswa dalam merumuskan ide dan persoalan yang berkembang di masyarakat, meskipun menurutnya masih perlu penguatan data serta landasan akademik.

“So far teman-teman sudah bisa merumuskan ide dan itu sudah sangat bagus. Artinya hari ini ada output konkret yang bisa ditindaklanjuti dalam studi maupun kegiatan organisasi mahasiswa,” tambahnya.

Sementara itu, Rizal Wahid menegaskan bahwa FGD tersebut bukan sekadar seminar biasa, tetapi ruang lahirnya gagasan kebijakan yang dapat diadvokasikan mahasiswa.

“Ini bukan sekadar seminar. Harapannya apa yang mereka rancang benar-benar menjadi policy brief yang hidup dan bisa dipegang,” ujarnya.

Menurut Rizal, mahasiswa berhasil menangkap sedikitnya empat hingga lima persoalan strategis nasional, dengan dua hingga tiga isu yang dinilai sangat potensial untuk diperjuangkan melalui jalur advokasi kebijakan.

Ia mencontohkan salah satu pembahasan menarik dalam forum tersebut terkait konsep KDMP yang dinilai memiliki peluang menjadi tawaran kebijakan baru bagi stakeholder pemerintah.

“Mahasiswa jangan hanya menawarkan platform atau gagasan, tetapi juga regulasi dan langkah konkret agar kebijakan itu benar-benar bisa direalisasikan,” tegasnya.

Melalui forum “Kritis Dialogis No Anarkis” tersebut, UNESA kembali menunjukkan perannya sebagai ruang intelektual yang mendorong mahasiswa aktif berpikir kritis, menyampaikan pendapat secara damai, serta menghadirkan solusi nyata bagi persoalan bangsa.



Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • FGD UNESA, Kritis Dialogis No Anarkis, Mahasiswa Didorong Lahirkan Gagasan Konkret untuk Bangsa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now