Banner Iklan

DPD RI Lia Istifhama Jalani Armuzna, Ungkap Solidaritas dan Keikhlasan Kunci Kelancaran Ibadah Haji

Admin JSN
28 Mei 2026 | 21.51 WIB Last Updated 2026-05-28T14:51:23Z
DPD RI Lia Istifhama menjalani Armuzna, ungkap solidaritas dan keikhlasan menjadi kunci kelancaran ibadah haji./dok.istimewa

ARAFAH | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota DPD RI, Lia Istifhama yang menjadi salah satu jamaah haji 2026 sedang menjalani fase Armuzna, yakni rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

Fase ini berlangsung sejak 8 Zulhijah hingga 13 Zulhijah, alias hingga 30 Mei mendatang.

Dalam menjalani aktivitas utama haji ini tentu membutuhkan konsentrasi dan kesehatan fisik jamaah.

Pelaksanaannya pun berlangsung setelah sekian minggu para jamaah beribadah wajib dan sunah selama di Tanah Suci.

Situasi ini membuat Anggota Komite III DPD RI, Dr. Lia Istifhama, menyampaikan beberapa hal penting yang dapat menjadi penunjang utama kelancaran ibadah di Tanah Suci.

Poin utama yang ia tekankan adalah solidaritas jamaah. "Solidaritas dan semangat persaudaraan para jamaah adalah kunci tumbuhnya psikologis yang nyaman dan sekaligus mendorong kekuatan fisik secara alami para jamaah untuk tetap menjalankan ibadah dengan bahagia dan ikhlas, karena kita semua sedang jauh dari keluarga yang kita cintai," ungkapnya pada Kamis (28/5).

"Kita semua lagi di negeri orang dengan situasi yang berbeda dengan negeri asal, terutama terkait suhu dan cuaca, dan kita bersama dengan jamaah dari berbagai belahan dunia. Maka pikiran positif harus dikuatkan dan terus ditumbuhkan. Ini akan berhasil dan alami menyatu dari diri jika teman sekamar atau teman rombongan kita sama-sama saling menguatkan kebersamaan," lanjutnya.

Poin kedua adalah keyakinan bahwa proses ibadah akan lancar dan tidak perlu panik. "Kebetulan saya pernah menempuh perjalanan dengan bus sholawat. Kemudian saat balik ke Masjidil Haram dan menuju hotel menginap, jam sudah menunjukkan waktu sholat subuh. Setelah menempuh perjalanan dari hotel tempat kloter Jatim menginap dengan bus sholawat yang cukup macet, akhirnya saya sampai di Terminal Syib Amir.

"Kemudian, karena sangat padat jamaah yang turun dari terminal menuju Masjidil Haram, maka saya putuskan berjalan pulang sendiri tanpa didampingi kerabat yang sempat mendampingi di bus. Saya membangun pikiran sederhana, bahwa saya harus sendiri karena tidak mungkin berjalan berdampingan, pasti terpisah juga. Maka bismillah saya pulang sendiri. Kuncinya hanya berpikir positif, bahwa pasti banyak juga jamaah yang seperti saya namun mereka juga baik-baik saja.

"Yang utama, selalu cari jamaah Indonesia atau jamaah dari negara asal selama kita berjalan kaki. Jadi kebetulan jamaah regular kan mengenakan ransel BSI (Bank Syariah Indonesia), maka meski saya berjalan cepat menerobos kepadatan jamaah, saya akan terus menemukan penanda ransel BSI. Dan tersenyum sekaligus menyampaikan kata afwan atau maaf jika mencoba mendahului jamaah lainnya.

"Kemudian memilih jalan dari sisi luar, bukan memilih akses masuk ke Masjidil Haram, tapi akses jalan menuju sisi pelataran Masjidil Haram atau Zam-zam Tower. Jadi pasti berbeda dengan tujuan jamaah yang semula turun dari terminal, karena mereka umumnya memilih akses masuk masjid. Tapi sekali lagi tidak perlu panik, bismillah sih kuncinya. Jika tidak menemukan jamaah Indonesia lagi, maka kita fokus menuju penanda tower tempat kita menginap," tuturnya dalam mengungkap pengalamannya saat harus menghadapi situasi kembali ke penginapan sendiri—tanpa pendamping.

Pengalaman tersebut menurutnya juga bisa berguna saat menjalankan rangkaian ibadah haji, termasuk di Armuzna. Di tengah kepadatan jamaah, pikiran tetap harus tenang jika tanpa sengaja terpisah dari rombongan.

"Misal selepas lempar jumroh, kita terpisah dari rombongan, maka bismillah jangan panik. Karena negara kita ini mayoritas jamaah, jadi harus tenang, sambil tetap jalan ke depan untuk menemukan jamaah yang satu rombongan. Dan alhamdulillah dalam waktu dekat dipertemukan dengan jamaah rombongan. Karena pada akhirnya rombongan juga saling mengecek siapa yang tertinggal atau terpisah. Intinya apa pun tidak perlu panik, tetap fokus berjalan dan bismillah yakin dipertemukan dengan serombongan," bebernya lagi.

Selain sebagai jamaah haji Indonesia 2026, Lia juga mengemban tugas sebagai tim pengawasan haji melalui Komite III DPD RI. Selama menjalani tugas ini senator yang akrab disapa Ning Lia mengakui bahwa ketidaksempurnaaan adalah keniscayaan.

"Kita harus mengakui, bahwa Kementerian Haji atau Kemenhaj sudah berusaha memberikan kemudahan untuk kelancaran sejak jamaah haji hendak berangkat hingga tiba di tanah suci. Namun sekali lagi, kita semua di negeri orang, berjumpa dengan jutaan jamaah lintas negara, di waktu dan tempat yang sama. Jadi, pasti sangat besar kemungkinan muncul potensi kepadatan, baik perjalanan yang macet dan menempuh jarak jalan kaki belasan kilo, akses kamar mandi antrean mengular, maupun tenda di Mina yang sangat padat dan hanya bisa digunakan duduk saja misalnya, maka semoga hal ini menjadi kepasrahan diri selama beribadah," imbuhnya lagi untuk mengingatkan jamaah untuk tetap sabar dalam menjalani momen-momen yang mungkin kurang nyaman selama beribadah.

"Apa yang kurang, semoga kita bisa ikhlas menerima, karena kita telah dipanggil di Tanah Suci ketika jutaan lainnya masih antre untuk berhaji. Bismillah, jika ada kesulitan atau ketidaknyamanan, kita bisa melalui. Kemudian dalam hitungan jam, kita bisa menemukan kenyamanan kembali. Intinya kan apa yang kita rasakan, itu juga dirasakan dan dilalui jamaah lainnya. Jadi, ketika mereka juga ikhlas, maka semoga kita juga," tandasnya untuk menekankan pentingnya ikhlas dalam beribadah di Tanah Suci.

***

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • DPD RI Lia Istifhama Jalani Armuzna, Ungkap Solidaritas dan Keikhlasan Kunci Kelancaran Ibadah Haji

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now