![]() |
| Ilustrasi rupiah yang sedang tertekan di tengah gejolak global./Pixabay |
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Nilai tukar Rupiah kembali mengalami tekanan di tengah kondisi ekonomi global yang masih bergejolak. Hingga Sabtu, 23 Mei 2026, 1 dolar Amerika Serikat setara dengan 17.698,60 rupiah.
Nilai ini memang berkurang dari sebelumnya yang mencapai Rp 17.777 (19/5) untuk 1 dolar AS, namun tetap besar jika dibanding sebelumnya. Bahkan, naik 2.997 (16,9%) dari nilai Rupiah pada 24 Juni 2025 yang pernah berada di angka Rp 14.701 per dolar AS—terbaik dalam satu tahun terakhir.
Artinya, nilai tukar rupiah terus melemah dalam satu tahun terakhir dan makin lemah sejak 29 Oktober 2025 hingga hari ini (23/5).
Walau demikian, otoritas moneter yakni Bank Indonesia menegaskan bahwa situasi nasional masih terkendali dan tidak mencerminkan pelemahan fundamental terhadap ekonomi Indonesia.
Pelemahan Rupiah disebut lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, seiring meningkatnya ketidakpastian pasar global yang juga berdampak pada berbagai mata uang negara berkembang lainnya.
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso mengungkapkan bahwa bank sentral terus melakukan langkah stabilisasi di pasar valuta asing.
Melalui keterangannya di Jakarta pada Jumat (22/5), ia menegaskan bahwa intervensi dilakukan secara terukur untuk menjaga volatilitas Rupiah agar tetap dalam rentang yang wajar.
"Bank Indonesia terus berada di pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga. Kami melakukan intervensi secara terukur dan konsisten sesuai kondisi global yang sedang bergejolak," ungkap Ramdan.
Menurutnya, tekanan terhadap Rupiah saat ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga dialami oleh banyak negara lain.
"Apa yang terjadi saat ini merupakan fenomena global. Banyak mata uang negara berkembang juga mengalami tekanan akibat perubahan ekspektasi pasar dan kebijakan suku bunga global," imbuhnya.
Tekanan Global Jadi Faktor Utama
Sejumlah analis ekonomi menilai bahwa penguatan dolar AS serta ketidakpastian kebijakan moneter negara maju menjadi pemicu utama pelemahan mata uang di berbagai negara.
Laporan dari lembaga internasional seperti International Monetary Fund juga menyebutkan bahwa volatilitas pasar keuangan global meningkat dalam beberapa waktu terakhir akibat arus modal yang lebih berhati-hati.
Media ekonomi internasional seperti Reuters dan Bloomberg mencatat bahwa sejumlah mata uang Asia ikut melemah dalam tren yang sama.
Pada sisi lain, pemerintah RI mengimbau masyarakat agar tidak bereaksi berlebihan terhadap fluktuasi nilai tukar.
Pejabat Kementerian Keuangan yang memberikan keterangan di Surabaya (22/5), juga menegaskan bahwa kondisi saat ini masih dapat dikendalikan. "Masyarakat tidak perlu panik atau melakukan pembelian dolar secara berlebihan. Fundamental ekonomi kita masih kuat, dan kebijakan stabilisasi terus berjalan," ucapnya.
Pejabat tersebut juga menyoroti pentingnya menjaga perilaku pasar agar tidak memperburuk kondisi yang sebenarnya masih terkendali.
"Panic buying justru bisa memperburuk tekanan jangka pendek di pasar. Yang kita butuhkan saat ini adalah ketenangan dan rasionalitas," sambungnya.
Dorongan Penguatan Produk Lokal
Pemerintah juga menekankan pentingnya memperkuat konsumsi produk dalam negeri sebagai bagian dari strategi menjaga ketahanan ekonomi nasional.
Dengan meningkatnya penggunaan produk lokal, diharapkan arus ekonomi domestik tetap kuat meskipun tekanan global masih berlangsung.
Kondisi Masih Terkendali
Meski Rupiah berada dalam tekanan, otoritas menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih relatif solid, didukung oleh inflasi yang terjaga, pertumbuhan ekonomi yang stabil, serta cadangan devisa yang memadai.
Pemerintah dan Bank Indonesia memastikan akan terus memperkuat koordinasi kebijakan agar stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga, termasuk di wilayah Jawa Timur yang menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?