Banner Iklan

15 Anak Difabel Belajar Batik Sampur di Griya Topeng Ramah Difabel Malang

Admin JSN
17 Mei 2026 | 15.52 WIB Last Updated 2026-05-17T08:52:28Z
15 anak difabel dan mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya belajar membatik di Griya Kriya Topeng Ramah Difabel Kota Malang (16/5)./dok. Istimewa

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM - Sebanyak 15 anak difabel beserta pendamping belajar membatik di Griya Kriya Topeng Ramah Difabel yang berlokasi di Jalan Kyai Pasreh Jaya Nomor 29 Bumiayu, Kedungkandang, Kota Malang pada Sabtu (16/5).

Kegiatan ini menjadi rangkaian program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 kategori Dukungan Institusional bagi Lembaga Kebudayaan Republik Indonesia, LPDP dan Dana Indonesiana.

Mereka kemudian menggelar kegiatan membatik sampur dengan mengusung tema 'Harmonisasi Griya Kriya Topeng Ramah Difabel & Pasar Seni Bareng' di Sanggar Budaya Anak Nareswari.

Ketua Sanggar Budaya Anak Nareswari Ndaru Lazarus atau akrab disapa Dimas menyampaikan tema tersebut diusung karena Pasebar (Pasar Seni Bareng) dan di Griya Kriya Topeng Ramah Difabel merupakan tempat beraktivitas anak-anak difabel dengan 15 ketrampilan tetap, berkesinambungan bergerak, dan berkelanjutan. Ini merupakan langkah awal untuk meniti perjalanan selanjutnya yakni pembuatan topeng yang akan diselenggarakan pada Juni 2026.

"Kemudian, pada Juli 2026 akan dihelat melukis topeng hingga pada puncak acara pada 1 Agustus 2026 dengan rangkaian parade tari, sendratari dan bayar UMKM. Menariknya, seluruh kegiatan mulai Bulan Mei hingga Agustus tersebut dirancang khusus ramah difabel dan tidak dipungut biaya sepeserpun," jelas Dimas.

Ia menambahkan untuk kegiatan membuat topeng dan melukis topeng akan dihelat di Pasebar.

Instruktur Pembatik, Yuharsita menyampaikan belajar membatik sengaja dirancang khusus ramah difabel. "Di sini kita lebih mengenalkan teknik yang paling sederhana, mudah dipahami dengan penggunaan bahasa yang mudah dimengerti. Dengan begitu, setiap materi mudah dipahami peserta," ungkapnya.

Menurut Sita--sapaan akrabnya, batik adalah proses atau teknik menggambar di atas kain yang menggunakan malam panas. "Para peserta akan kami kenalkan berbagai jenis canting, mulai dari yang paling halus, canting bagong hingga paling besar. Mereka juga akan belajar istilah dasar dalam membatik seperti glowong untuk garis luar dan isen-isen untuk isian motif," bebernya.

Ia juga mengenalkan motif batik Nusantara yakni Motif Batik Megamendung khas Cirebon, Sekarjagad dari Yogyakarta hingga Batik Tiga Negeri yang memadukan kekayaan Pekalongan, Solo dan Lasem. "Untuk sampur yang kita buat hari ini, bagian tengahnya bisa dihiasi motif truntum yang anggun," sambungnya.

Bagi Sita, batik bukan hanya seni semata tapi juga jalan menuju kemandirian yang dapat menjadi modal berwirausaha. "Untuk yang ingin mendalami lebih lanjut, pendampingan dapat dilakukan di Balai Diklat. Termasuk pelatihan pemasaran melalui media sosial," ungkapnya lagi.

Sita mengatakan, peserta tidak hanya dikenalkan teknik membatik, namun juga diarahkan untuk memiliki memiliki peluang usaha mandiri dan dapat menjadi bekal kemandirian ekonomi bagi peserta.

"Kami berharap, melalui belajar membatik ini, mereka bisa membuat batik yang disesuaikan dengan kemampuan teman-teman difabel. Selain itu, juga menjadi bekal untuk memulai UMKM demi kehidupan yang lebih baik," tuturnya.

Hal senada diungkapkan Brelliane Semesta Pratiwi selaku bendahara acara Harmonisasi Griya Topeng Ramah Difabel & Pasar Seni Bareng, bahwa kegiatan ini diharapkan dapat membuka ruang bagi anak-anak difabel untuk tumbuh mandiri dan percaya diri melalui seni dan keterampilan budaya.

Agenda membatik sampur bersama anak difabel./dok. Istimewa

Membatik sampur bersama anak difabel dan mahasiswa Ciputra Surabaya./dok. Istimewa

Dalam kegiatan tersebut juga dihadiri Mahasiswa Program Studi Fashion Design dan Business Universitas Ciputra Surabaya.

Jane Rine Teowarang selaku Dosen Fashion Design and Business Universitas Ciputra menyebut bahwa pihaknya sudah lama berkolaborasi dengan Griya Kriya Topeng Ramah Difabel yang bertujuan untuk menanamkan nilai inklusi sosial melalui interaksi lansung bersama anak-anak difabel.

"Mahasiswa kami hadir langsung untuk membangun inklusi sosial yang nantinya akan kami gelar presentasi desain ulang motif batik hasil karya para difabel yang dilanjutkan dengan mini fashion show yang akan menampilkan karya para mahasiswa," terang Janet.

Baginya, program ini merupakan bukti nyata bahwa seni dan budaya adalah ruang yang semestinya terbuka bagi semua. "Termasuk mereka yang kerap terpinggirkan. Dengan dukungan Pemerintah dan kolaborasi lintas institusi. Griya Kriya Topeng Ramah Difabel hadir bukan hanya sekedar sebagai tempat berlatih. Namun, juga sebagai rumah tempat mimpi-mimpi anak difabel diberi ruang untuk tumbuh dan bersinar," pungkas Jane. ***

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • 15 Anak Difabel Belajar Batik Sampur di Griya Topeng Ramah Difabel Malang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now