Banner Iklan

Senator Lia Istifhama Optimistis Bioetanol dari Tebu Salah Satu Solusi Kemandirian Energi Nasional

Admin JSN
04 April 2026 | 08.09 WIB Last Updated 2026-04-04T01:09:11Z
Senator DPD RI, Lia Istifhama optimistis bahwa bioetanol dari tebu dapat menjadi salah satu solusi kemandirian energi nasional./dok. Istimewa

SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Lia Istifhama mengungkapkan pernyataan menarik bahwa bioetanol dari tebu dapat menjadi salah satu solusi kemandirian energi nasional.

Menurut Senator Lia Istifhama, dalam upaya mewujudkan kemandirian energi nasional kini mengarah pada pemanfaatan energi terbarukan yang berbasis sumber daya lokal, yang kemudian dapat diolah menjadi bioetanol.

Lia menegaskan, potensi bioetanol sebagai energi alternatif masa depan dapat menjadi solusi strategis bagi Indonesia.

Pandangan ini kemudian diungkapkan Lia usai melakukan pertemuan dengan jajaran PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) di Surabaya.

Melalui diskusi tersebut, terungkap bahwa sektor tebu kini mengalami transformasi peran, dari sekadar penghasil gula dapat menjadi bagian penting dalam rantai energi hijau nasional.

"Ke depan, kita tidak bisa hanya berpikir soal gula. Tebu harus dilihat sebagai komoditas strategis yang juga berkontribusi pada kemandirian energi nasional," ungkap Lia pada Kamis (2/4) di Surabaya.

Menurut Lia, perubahan paradigma terhadap komoditas tebu menjadi salah satu poin penting dalam pembahasan tersebut. Selama ini, tebu identik dengan produksi gula, namun kini mempunyai nilai tambah melalui pengolahan limbah atau hasil samping berupa tetes (molasses).

Tetes tebu inilah yang kemudian dapat diolah menjadi bioetanol, bahan bakar ramah lingkungan yang dinilai mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil.

Transformasi sumber bahan bakar ini menurut Lia dapat menjadi peluang besar, terutama di daerah dengan basis produksi tebu yang kuat seperti Jawa Timur.

Jawa Timur yang merupakan provinsi penghasil lebih dari 50 persen gula konsumsi nasional, mempunyai posisi strategis dalam pengembangan bioetanol.

Jika potensi ini dimaksimalkan dengan serius, Jawa Timur tidak hanya akan dikenal sebagai lumbung gula nasional, tetapi juga sebagai pusat energi terbarukan berbasis tebu.

"Kalau potensi ini dimaksimalkan, Jawa Timur tidak hanya menjadi lumbung gula, tetapi juga bisa menjadi pusat energi hijau nasional," tuturnya.

Mempertimbangkan aspek infrastruktur industri gula yang sudah ada, percepatan pengembangan bioetanol dinilai Lia lebih realistis untuk dilakukan di Jatim dibandingkan daerah lain.

Walau demikian, ia mengingatkan bahwa pengembangan bioetanol tidak bisa berdiri sendiri. Dibutuhkan integrasi yang kuat antara sektor pertanian dan energi agar manfaatnya dapat dirasakan secara menyeluruh.

Integrasi tidak hanya akan memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan bagi petani tebu.

"Kalau ini berjalan, petani tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi energi nasional," lanjut senator yang akrab disapa Ning Lia.

Pendekatan ini juga menurutnya akan mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih berkelanjutan dan inklusif di tingkat daerah.

Walau Lia memprediksi adanya potensi besar, tidak dimungkiri bahwa pengembangan bioetanol di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama dari sisi ekonomi.

Biaya produksi bioetanol yang relatif lebih tinggi dibandingkan bahan bakar fosil menjadi hambatan utama dalam pengembangannya.

Lia mengingatkan, peran negara sangat penting dalam mengatasi tantangan ini, baik melalui kebijakan insentif, subsidi, hingga regulasi yang mendukung.

"Ini tantangan yang harus dijawab bersama. Negara harus hadir untuk memastikan energi hijau ini bisa kompetitif dan berkelanjutan," tegas Ning Lia.

Pengembangan bioetanol juga sejalan dengan arah kebijakan nasional yang mendorong penggunaan energi berbasis sumber daya domestik.

Lia menyebut langkah ini tidak hanya sebagai respons terhadap dinamika global, tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi impor energi dan meningkatkan kemandirian nasional.

Dengan pemanfaatan bioetanol, Indonesia disebutnya akan mempunyai peluang untuk memperkuat posisi sebagai negara yang tidak hanya kaya sumber daya, tetapi juga mampu mengelolanya secara berkelanjutan.

Penekanan lain juga disampaikan Lia yakni, keberhasilan pengembangan bioetanol akan sangat bergantung pada keterlibatan seluruh pihak, terutama petani.

Melalui pendekatan yang tepat, petani tidak hanya menjadi produsen bahan baku, tetapi juga bagian dari solusi strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional.

"Kalau ini berjalan, petani tidak hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi energi nasional," tandasnya.

Adapun mengenai produksi gula, pihak SGN melalui situs resminya menargetkan peningkatan produksi nasional secara bertahap untuk mencapai target 1,4 juta ton gula pada 2027, dan Jawa Timur memegang peranan kunci mencapai 75% dari target tersebut. ***

Editor: YAN

Baca juga: Jawa Timur Tulang Punggung Produksi Gula Nasional


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Senator Lia Istifhama Optimistis Bioetanol dari Tebu Salah Satu Solusi Kemandirian Energi Nasional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now