Banner Iklan

DPD RI Lia Istifhama Sebut Peran Petani Tebu dan Jatim Krusial dalam Strategi Kemandirian Gula Nasional

Admin JSN
04 April 2026 | 07.27 WIB Last Updated 2026-04-04T00:27:13Z
Anggota DPD RI Lia Istifhama menyebut petani dan Jawa Timur mempunyai peran krusial dalam strategi kemandirian gula nasional./dok. Istimewa

SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota DPD RI, Lia Istifhama menyebut peran petani tebu sangat krusial dalam strategi kemandirian gula nasional.

Selain peran petani tebu secara umum, Lia juga menyebut peran Jawa Timur juga berpotensi besar bagi kemandirian gula nasional.

Ia menegaskan pentingnya optimalisasi peran petani tebu dan penguatan industri gula berbasis daerah sebagai fondasi utama ketahanan pangan Indonesia.

Dua hal ini disampaikan Senator Lia ketika bersua dengan Direktur Manajemen Risiko SGN, M. Fakhrur Rozi, di Surabaya.

Perspektif strategis bahwa Jawa Timur bukan sekadar wilayah produksi, melainkan pusat kekuatan gula nasional, menjadi diskusi penting dalam pertemuan tersebut.

"Jawa Timur ini bukan sekadar produsen, tetapi lumbung gula nasional. Maka penguatan sektor ini harus menjadi prioritas, baik dari sisi petani maupun industrinya," tutur Lia di Surabaya, Kamis (2/4).

Menurutnya, Jawa Timur memainkan peran vital dalam memenuhi kebutuhan gula nasional. Lebih dari 50 persen konsumsi gula rumah tangga Indonesia berasal dari Jatim.

Ini menjadikan Jawa Timur sebagai episentrum industri gula nasional, dengan ekosistem yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari petani tebu, pabrik gula, hingga dukungan program pemerintah.

Ia pun menegaskan, keberhasilan sektor ini tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga pada keberlanjutan sistem pertanian dan kesejahteraan petani.

Senator Lia Istifhama juga menekankan, petani tebu harus menjadi pusat perhatian dalam kebijakan industri gula.

"Interaksi dengan petani menjadi kunci. Kita tidak hanya bicara produksi, tetapi juga bagaimana meningkatkan kesejahteraan mereka melalui perbaikan budidaya dan dukungan kebijakan," ujarnya.

Pemberdayaan petani, termasuk peningkatan kualitas benih, akses teknologi, serta dukungan intensifikasi pertanian, menjadi langkah krusial untuk memastikan produktivitas tetap tinggi.

Selain sebagai komoditas pangan, tebu juga menurutnya memiliki potensi besar sebagai sumber energi baru terbarukan melalui bioetanol.

Produk turunan tebu seperti tetes (molasses) dinilainya strategis sebagai bahan baku energi ramah lingkungan. Pengembangan bioetanol menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil.

"Orientasi ke depan bukan hanya gula, tetapi juga energi. Bioetanol menjadi peluang besar, apalagi Jawa Timur punya basis produksi tebu yang kuat," lanjutnya.

Integrasi antara sektor pangan dan energi juga menurutnya dapat menjadi langkah strategis yang tidak bisa diabaikan.

"Kita tidak boleh hanya berhenti di produksi bahan mentah. Hilirisasi menjadi penting, termasuk menjadikan tebu sebagai bagian dari solusi energi nasional," jelasnya.

Hilirisasi menurutnya tidak hanya akan meningkatkan nilai tambah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi daerah dan masyarakat.

Pada penguatan sektor gula, Lia menyoroti kontribusi perempuan yang cukup signifikan, baik sebagai petani maupun pelaku usaha.

"Banyak perempuan yang terlibat, baik sebagai petani maupun pelaku usaha. Ini menunjukkan bahwa sektor ini juga memiliki dimensi pemberdayaan yang kuat," ungkap senator yang akrab disapa Ning Lia.

Ini menunjukkan bahwa industri gula tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga pada aspek sosial dan pemberdayaan masyarakat.

Ia mengharapkan pertemuan ini dapat menjadi pijakan penting dalam merumuskan kebijakan nasional yang lebih kuat, khususnya dalam mendorong kemandirian pangan dan energi berbasis potensi lokal.

"Kalau dikelola serius, sektor gula ini bukan hanya menopang kebutuhan dalam negeri, tetapi juga bisa menjadi kekuatan ekonomi nasional," tegasnya.

Adapun mengenai PT Sinergi Gula Nusantara (PT SGN) yang diwakili Fakhrur Rozi merupakan perusahan sub-Holding Gula PT Perkebunan Nusantara III (Persero) yang bergerak di bidang usaha agro industri komoditas gula.

Menurut keterangan situs resminya, perusahaan yang kemudian dikenal dengan sebutan Sugar Co ini didirikan pada 17 Agustus 2021 berdasarkan hukum pendirian merujuk pada Surat Menteri BUMN Nomor S-527/MBU/07/2021 tanggal 26 Juli 2021.

Pendirian perusahaan PT Sinergi Gula Nusantara dalam rangka restrukturisasi bisnis gula PTPN Grup, menjadi salah satu dari 88 Proyek Strategis Nasional (PSN) Pemerintah guna mendukung pencapaian swasembada gula nasional.

Perusahaan ini mengonsolidasi 36 Pabrik Gula Perkebunan Nusantara (PGPN) yang tersebar dari Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan.

Saat ini, perusahaan melakukan upaya-upaya restrukturisasi bisnis gula dan transformasi usaha di sektor pengolahan tanaman tebu (off farm), kemitraan budidaya perkebunan (on farm), peningkatan kesejahteraan petani tebu rakyat serta unit-unit pendukungnya guna meningkatkan kinerja maupun produktivitas SGN.

Berdasarkan data dari situs resmi PT SGN, Jawa Timur dijadikan sebagai tulang punggung utama produksi gula nasional, dengan target produksi yang signifikan untuk mendukung swasembada gula 2027. 

Hal ini berdasarkan fakta bahwa Jawa Timur adalah pusat produksi tebu dan gula nasional dengan luas areal tebu mencapai 245.000 hektar dari total 450.000 hektar secara nasional.

Produksi tebu di Jawa Timur juga meningkat dari 13 juta ton pada 2020 menjadi 16,8 juta ton pada 2024.

Pihak SGN kemudian memproyeksikan produksi Gula Kristal Putih (GKP) sebesar 1,012 juta ton pada 2025, dan sebanyak 75% dari target produksi gula SGN untuk swasembada 2027 direncanakan berasal dari wilayah Jawa Timur.

Secara spesifik, PG Djatiroto di Jawa Timur pernah menargetkan produksi gula sebesar 77 ribu ton pada 2024. Kemudian secara realisasi, produktivitas tebu di PG Djatiroto (Jatim) mengalami peningkatan dari 76,60 ton/hektar menjadi 92,09 ton/hektar pada 2024.

Pada 2023, empat pabrik gula SGN juga masuk dalam 10 besar rendemen nasional, di antaranya PG Pradjekan, PG Wonolangan, dan PG Gempolkrep di Jawa Timur.

Beberapa pabrik gula aktif di Jatim yang dioperasikan SGN termasuk PG Semboro, PG Wringinanom, PG Pandjie, PG Assembagoes, PG Pradjekan, PG Glenmore, PG Meritjan, PG Lestari, PG Ngadiredjo, PG Pesantren Baru, PG Gempolkrep, dan PG Kremboong.

Kemudian, empat strategi peningkatan produksi dari SGN adalah integrasi, revitalisasi dan inovasi, digitalisasi, dan pendanaan petani.

Integrasi dilakukan dalam pengelolaan on farm (kebun tebu) dari PTPN I ke SGN untuk meningkatkan standar pengelolaan.

Revitalisasi dan inovasi dilakukan dengan SGN melakukan revitalisasi pabrik dan memperkenalkan varietas tebu unggul, seperti SGN 01, untuk meningkatkan produktivitas.

Penggunaan aplikasi ETERA (Ekosistem Tebu Rakyat) berbasis Android untuk efisiensi rantai pasok dan budidaya tebu menjadi salah satu perwujudan dari digitalisasi.

Pendanaan petani juga dilakukan SGN dengan memfasilitasi akses KUR Khusus kepada petani tebu untuk modal kerja. 

Masih dari sumber sama, SGN menargetkan peningkatan produksi gula nasional secara bertahap untuk mencapai target 1,4 juta ton gula pada 2027, dan Jawa Timur memegang peranan kunci mencapai 75% dari target tersebut. ***

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • DPD RI Lia Istifhama Sebut Peran Petani Tebu dan Jatim Krusial dalam Strategi Kemandirian Gula Nasional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now