Banner Iklan

Pakar HI UMM Bongkar Dinamika Konflik AS-Iran, Sebut Nyali Diplomasi Indonesia Masih Tertinggal

Admin JSN
25 April 2026 | 19.57 WIB Last Updated 2026-04-25T12:57:52Z
Ruang gagasan bertajuk 'Dinamika Geopolitik Global: Implikasi Konflik Amerika–Iran bagi Indonesia' menyoroti sikap diplomasi Indonesia./dok. UMM

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM - Pakar HI UMM, Gonda Yumitro membongkar dinamika konflik Amerika Serikat dan Iran.

Profesor Gonda Yumitro, Ph.D., yang merupakan Guru Besar Hubungan Internasional UMM sekaligus Kepala PSIB UMM ini kemudian menyebut nyali diplomasi Indonesia masih tertinggal.

Pembahasan ini terkandung dalam rilis resmi Universitas Muhammadiyah Malang yang mengusung situasi geopolitik global, yakni tentang konflik AS-Iran.

Di antara situasi konflik AS-Iran muncul pertanyaan, "Mampukah Indonesia berhenti menjadi sekadar 'penonton' global?"

Di tengah eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran yang terus mengguncang stabilitas ekonomi serta keamanan dunia, posisi strategis Indonesia kembali diuji.

Pada situasi ini, akankah Indonesia terus bertahan di zona nyaman dengan sikap normatif yakni 'cari aman', atau berani mendobrak batasan untuk tampil sebagai aktor utama dan juru damai dunia?

Kegelisahan inilah yang memantik diskusi tajam dalam forum Ruang Gagasan bertajuk 'Dinamika Geopolitik Global: Implikasi Konflik Amerika–Iran bagi Indonesia'.

Acara kolaborasi antara Pusat Studi Islam Berkemajuan (PSIB) UMM, RBC A. Malik Fadjar Institute, dan Program Studi Hubungan Internasional UMM ini diselenggarakan di RBC A. Malik Fadjar Institute pada Kamis, 23 April 2026.

Forum ini tidak sekadar membedah anatomi konflik, tetapi membongkar realitas kapasitas diplomasi Indonesia.

Guru Besar Hubungan Internasional UMM sekaligus Kepala PSIB UMM, Prof. Gonda Yumitro, Ph.D., menyoroti kecenderungan Indonesia yang berlindung di balik payung hukum internasional.

Keputusan untuk tidak secara eksplisit mengutuk Amerika Serikat dan Israel dinilai sebagai langkah menjaga peluang sebagai mediator. Namun, perang tidak dimenangkan oleh norma, melainkan oleh ketahanan sumber daya.

"Kekuatan narasi yang dibangun Indonesia belum sepenuhnya berdampak pada level internasional. Kebijakan kita masih banyak berada pada tataran konseptual," ungkap Prof. Gonda.

Ia juga menggarisbawahi posisi Indonesia yang tertinggal dari negara-negara Eropa dan ASEAN, di mana ketergantungan terhadap kekuatan eksternal masih menjadi kelemahan mendasar.

Realitas geopolitik ini juga berdampak langsung pada masyarakat. Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), Prof. Hikmahanto Juwana, Ph.D., menjelaskan lonjakan harga minyak dunia akibat konflik akan cepat merembet ke seluruh ekosistem ekonomi domestik.

"Dominasi negara-negara besar dalam rantai produksi global mempersempit ruang gerak negara berkembang. Sikap hati-hati Indonesia dinilai realistis, tetapi belum cukup menjadikan kita aktor strategis," ujar Prof. Hikmahanto.

Menurutnya, ambisi menjadi penengah berisiko menjadi wacana hampa tanpa diplomasi yang lebih tegas dan terbuka.

Kemudian, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., membedah dinamika ini melalui gagasan 'Islam Berkemajuan'. Ia menekankan pentingnya pendekatan moderat dan adaptif. Isu energi, konflik, dan relasi antarnegara menuntut pemahaman komprehensif, dengan peningkatan kapasitas intelektual generasi muda sebagai kuncinya.

"Perubahan lanskap ekonomi global menempatkan Indonesia pada posisi yang belum kuat. Sebagai negara dengan pasar besar, potensi kita belum diimbangi kekuatan produksi yang memadai," papar Nazaruddin.

Ia juga mendesak penguatan industri domestik hingga kemampuan negosiasi internasional agar Indonesia tidak terus bersikap reaktif.

Melalui rilis UMM, diketahui bahwa forum ini menegaskan pesan yang jelas bahwa tantangan terbesar Indonesia bukan sekadar memahami konflik global, melainkan menentukan posisi yang tegas.

Bersandar pada sikap normatif tanpa kekuatan implementatif berisiko membuat Indonesia terpinggirkan. Tanpa perubahan arah kebijakan yang terukur, Indonesia juga berpotensi hanya menjadi penonton dalam arena geopolitik yang kian kompetitif. ***

Editor: YAN


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pakar HI UMM Bongkar Dinamika Konflik AS-Iran, Sebut Nyali Diplomasi Indonesia Masih Tertinggal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now