![]() |
| Ilustrasi fiksi 'Dermaga di Atas Rel Kereta' karya Marwani./dok. Penulis |
FIKSI | JATIMSATUNEWS.COM:
Cahaya tembaga di ufuk barat Jakarta perlahan menyepuh pelataran Stasiun Kota, seolah-olah langit sedang menumpahkan leburan emas ke atas peron yang riuh. Di tengah orkestra kebisingan jeritan peluit kereta dan derap langkah kaki para pemburu waktu.
Aku terpaku layaknya sebongkah batu karang purba, merasa sang waktu sengaja memperlambat detaknya hanya untukku. Di sela-sela gelombang manusia itu, sesosok lelaki dewasa berdiri tegap disampingku.
Sosok asing yang hadir membawa anomali, ia berdiri berselimut rajut putih dengan ransel hitam di punggungnya. Jemarinya menggenggam erat sebuah koper tua. Sebuah artefak perjalanan yang tampak panjang melelahkan, saksi bisu atas penjelajahan sunyi melintasi garis-garis bujur dunianya selama ini.
“Permisi, maaf Mbak mau ke mana?” Suaranya lembut, sebuah bariton yang terasa seperti rintik hujan pertama setelah kemarau panjang. Aku tersentak, tatapanku terkunci pada sepasang matanya yang menyimpan peta dunia.
Ia mengaku baru saja menapakkan kaki di tanah air setelah lima belas tahun menjadi asing di negeri orang. Di balik santun bicaranya, aku melihat aroma kerinduan yang telah lama tersembunyi. Sebuah pengabdian panjang yang ia simpan rapat dalam sunyi.
Kita adalah dua pengelana yang dipertemukan oleh Allah dalam satu garis nasib yang sama, menuju satu titik di ufuk yang serupa yaitu Stasiun Timur Kota Bunga di ujung pulau tanah Brawijaya.
Waktu terus berjalan, siang itu dinding-dinding besi kereta mendadak terasa seperti jurang yang memisahkan kami berdua. Aku terkurung di Gerbong Satu, sementara ia menghilang di balik pintu otomatis Gerbong Dua.
Kegelisahan mulai mekar di dadaku, keanehan merambat seperti tanaman liar yang haus akan celah cahaya. Tak ingin membiarkan takdir layu sebelum sempat tumbuh, dengan tangan gemetar aku memberanikan diri mengirimkan sebuah pesan melalui udara ke samudera digitalnya, mengundangnya untuk bertemu di jantung kereta yaitu sebuah gerbong restorasi yang riuh dengan aroma kopi dan harapan.
Di sana, di antara denting sendok dan uap kafein yang mengepul layaknya doa-doa yang tertunda, kami duduk berhadapan. Kami tidak sekadar bertukar kata, melainkan sedang mencoba menautkan dua jiwa yang telah lama kehilangan arah.
Ia berkisah tentang salju yang membeku di jendela hatinya selama lima belas tahun mengembara, sementara aku hanya mampu terdiam, menelan kembali pahitnya kenyataan hidup yang mengendap di dalam jiwa. Di meja kayu itu, aku merasa duniaku yang selama ini pudar perlahan mulai menemukan warnanya kembali.
Namun, di tengah binar kebahagiaan itu, imajinasiku tiba-tiba menamparku dengan keras. Sebuah suara parau berbisik di telingaku, “Bangunlah! Kamu bukanlah siapa-siapa. Kamu hanyalah perempuan malang yang sedang haus akan kasih sayang, sementara ia adalah pelangi yang terlalu tinggi untuk kau sentuh.”
Aku tersentak, menyadari betapa dalam jurang yang telah membuatku merasa kecil dan tak berharga. Aku merutuki diriku sendiri, sembari mengakui dalam diam, mungkin semua kehangatan ini hanyalah fiktif yang sengaja kubangun untuk menghibur luka.
Malam pun semakin larut, melodi rel kereta membawa kami kembali ke sudut kursi masing-masing, namun jalinan itu tak lantas putus.
Layar ponsel menjadi jendela kecil tempat kami saling membisikkan rahasia melalui aksara, hingga fajar mulai menyibak tirai hitam di cakrawala. Namun, setiap kali aku merasa akrab, bayangan tentang statusku sebagai single mom kembali menghujam menjadi alarm pengingat bagiku, bahwa aku perempuan gagal yang tak bermakna. Aku merasa konyol telah membiarkan hatiku terbuka lebar untuk sesuatu yang mungkin hanya fatamorgana di atas rel kereta.
Di balik jendela, di luar sana perlahan roda besi menanggalkan kegesitannya, menyerah pada takdir yang memaksanya berhenti berlari di atas jagat raya. Deru mesin menyisakan gesekan logam rem yang menjerit pilu bak jantungku yang kini berpacu menuju koda.
Aku melangkah turun dengan batin yang remuk redam. Ada rona malu yang membakar pipiku. Sebuah api yang menyala karena kesadaranku, betapa liarnya hatiku menari semalam, menanggalkan ketenangan yang selama ini kupelihara.
Diambang pintu keluar. Dia melangkah menuju ke dekapan keluarganya, ia kembali ke dunia nyata yang berkilau dan tertata. Di belakangnya, aku berdiri mematung layaknya puing yang terlupakan, terhimpit di antara sisa-sisa rasa asing yang merajam sukma. Aku dipaksa sadar oleh kenyataan, bahwa perempuan kampung dengan seribu retakan hidup sepertiku memang tak layak menyimpan mimpi di atas rel yang sama dengan seorang pengelana seperti dia.
Di luar perong sang surya semakin bercahaya, sebelum ia benar-benar berlalu, aku melangkah maju dengan sisa keberanian yang rapuh, merobek seluruh topeng kewarasan yang selama ini memenjaraku. “Boleh aku meminjam sedikit kehangatanmu, sebelum kita kembali menjadi dua asing yang tak saling menyapa?” bisikku kelu, nyaris tenggelam dalam riuh stasiun.
"I want to be hug with you". Ia tak menjawab apa-apa, tapi ia menarikku ke dalam dekapannya. Sebuah pelukan yang terasa seperti dermaga kokoh bagi kapal yang baru saja hancur dihantam badai di tengah samudera. Dalam pelukannya, aku tidak hanya merasakan kehangatan, tetapi seperti menemukan tempat penyembuhan seluruh luka yang selama ini kurasa.
Seketika itu dunia sekelilingku seakan-akan membiarkan, menyisakan waktu hanya untuk kami berdua. Dalam dekapan itu, waktu benar-benar berhenti.
Hangat badannya adalah penawar bagi lima belas tahun kedinginan yang ia bawa, dan obat bagi sepi yang selama ini kupelihara. Ia melepaskanku dengan sebuah senyuman pudar namun mendalam, lalu hilang ditelan keramaian pagi.
Aku berdiri di peron yang kini terasa sepi, tanpa kusadari titik air bening membasahi nayanika. Aku hanya seorang hamba yang sedang diuji oleh Yang Maha Kuasa.
Aku menelan kenyataan pahit bahwa pulang bukanlah tentang alamat, melainkan tentang siapa yang kita temukan di sepanjang rel perjalanan, dan aku mengetahui ini takdir yang tak seorang pun mampu memprediksinya.
Dalam peluknya, meski aku merasa bukan siapa-siapa, meski aku hanya perempuan kampung yang membawa luka, akan tetapi kehangatannya terasa nyata. Aku berdiri mematung, menyadari bahwa perjalanan ini mungkin selesai sampai di sini, namun dinamika kisahnya akan kusimpan di sanubari sebagai puisi terindah yang pernah kutulis menjadi sebuah maha karya.
Aku hanyalah setapak tanah kampung yang retak oleh kemarau panjang, dan bagiku, kehadiranmu adalah rintik hujan yang tak berani kupinta dari langit. Bila berkenan, jangan ingat aku sebagai perempuan kampung yang bodoh, ingatlah aku sebagai satu malam yang pernah mencoba menghangatkan perjalananmu dan sebagai fajar pertama yang menyambutmu pulang ke tanah air tercinta.
Buah Pena: Marwani, S.Pd., M.Pd
***
Editor: YAN




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?