![]() |
| Anggota DPD RI Lia Istifhama menegaskan judol bisa menghancurkan masa depan, ia juga mengungkap 3 cara agar terhindar dari jeratan judi online./dok. Istimewa |
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota DPD RI Lia Istifhama menyebut judi online dapat menghancurkan masa depan. Penegasan ini diungkapkan Lia saat menanggapi masih besarnya aktivitas judol pada masyarakat Indonesia.
Senator Lia Istifhama juga membagikan tiga cara agar dapat menghindari jeratan judol. Imbauan ini menjadi bagian dari kepeduliannya terhadap masyarakat Indonesia yang masih berpotensi terjerat judol karena tergiur oleh iming-iming kemenangannya.
Faktor ekonomi dan edukasi disebut Lia menjadi salah satu penyebab masyarakat Indonesia dapat masuk dan terjebak dalam lingkaran judi online.
Praktik judi online sedang menjadi ancaman serius yang kian menggerus kehidupan masyarakat.
Berawal dari kemasan yang tampak menarik seperti game sederhana yang berhadiah, namun di baliknya ada jebakan yang membahayakan.
Tidak hanya akan menimbulkan kerugian secara finansial tetapi juga kerugian secara psikologis alias mental.
"Awalnya terlihat seperti hiburan ringan yang menghasilkan. Tapi perlahan, justru mengikat dan sulit dilepaskan," ujar Lia pada Minggu (26/4) di Surabaya.
Tiga dampak dari judi online menurut Anggota Komisi III DPD RI ini adalah dampak ekonomi, mental, dan masa depan.
Judi online dapat menjadi awal kehancuran ekonomi keluarga. Banyak korban yang semula hanya mencoba, kemudian terjebak dalam siklus kekalahan yang memaksa mereka terus bermain demi menutup kerugian.
Kemudian, judi online dapat memicu kecanduan yang berdampak langsung pada kesehatan mental. Rasa cemas, stres, hingga depresi menjadi konsekuensi yang sering dialami oleh para pelaku, terutama ketika mengalami kekalahan beruntun.
Kecanduan ini menurut Lia bukan hanya persoalan individu, tetapi juga berdampak luas pada lingkungan sosial.
"Yang terlihat sederhana bisa berubah menjadi tekanan mental yang berat. Ini bukan sekadar permainan, tapi jebakan psikologis," sambungnya.
Lalu, dampak jangka panjangnya adalah kehilangan fokus terhadap kehidupan, pekerjaan, hingga hubungan sosial akibat keterlibatan dalam judi online. Ini artinya, masa depan dipertaruhkan akibat judol.
Ini menunjukkan bahwa judi online bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga dapat menimbulkan krisis sosial yang membutuhkan perhatian serius.
Alasan judi online dapat menjerat masyarakat Indonesia menurut Lia adalah pertama, platform judol dirancang untuk memberikan sensasi kemenangan di awal. Ini memicu rasa percaya diri berlebihan pada pemain. Strategi ini menjadi pintu masuk menuju kecanduan.
Kedua, akses mudah dan minim pengawasan. Praktik judol langsung masuk ke ranah ponsel, ini membuat siapa saja bisa terlibat kapan saja. Tanpa kontrol yang kuat, risiko keterlibatan menjadi semakin tinggi, terutama bagi generasi muda.
Senator asal Jatim ini kemudian mengungkapkan tiga cara untuk menghindari jeratan judol.
Cara pertama, edukasi sejak dini tentang pentingnya berproses dalam meraih sesuatu, sebab tidak ada keuntungan instan tanpa risiko besar.
Kedua, bijak dalam penggunaan teknologi digital. Mengatur waktu penggunaan perangkat digital dan menghindari konten berisiko menjadi langkah preventif yang efektif.
Ketiga, memilih aktivitas positif dan produktif. Mengalihkan perhatian ke kegiatan yang sehat dan produktif dapat membantu menjauhkan diri dari godaan judi online.
"Jangan mudah tergiur janji cepat. Kendalikan penggunaan digital dan pilih aktivitas yang memberi nilai positif," imbau Lia Istifhama.
Lia juga berpesan secara tegas bahwa tiap individu harus bisa menghentikan praktik negatif sebelum kerugian yang ditanggung makin besar.
Imbauan dan ajakan untuk tidak terjebak judol ini menjadi pengingat bahwa apa yang terlihat menguntungkan belum tentu membawa kebaikan.
Kesadaran kolektif masyarakat juga sangat dibutuhkan untuk memutus rantai penyebaran praktik ini. Pencegahan sejak dini menjadi langkah paling efektif untuk melindungi generasi mendatang. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?