Foto: Kolaborasi SDN Merjosari 3 dan Universitas Negeri Malang
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM — Kegiatan pengabdian masyarakat yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Malang bersama mitra Komunitas Belajar SDN Merjosari 3 Kota Malang terus menunjukkan hasil nyata dalam praktik pembelajaran di sekolah dasar.
Mengusung tema “Dari Budaya ke Numerasi: Workshop Pengembangan Pembelajaran SD Berbasis Permainan Tradisional,” program ini diarahkan untuk menghadirkan pembelajaran matematika yang menyenangkan sekaligus menghidupkan kembali budaya lokal melalui permainan tradisional yang sarat interaksi fisik, sosial, dan penguatan karakter pada anak-anak.
Rangkaian kegiatan itu merupakan tindak lanjut dari workshop awal yang dilaksanakan di SDN Merjosari 3 pada 9 Maret 2026. Workshop diikuti oleh 31 orang peserta yang terdiri dari Kepala Sekolah serta guru SD/SDI. Dalam workshop tersebut, peserta memperoleh penguatan materi dari beberapa dosen di Universitas Negeri Malang, antara lain Dr. Erry Hidayanto, M.Si., Prof. Dr. Cholis Sa’dijah, M.Pd., M.A., dan Lita Wulandari Aeli, M.Si.
Melalui pemaparan narasumber, peserta diajak memahami pentingnya pengembangan pembelajaran matematika berbasis permainan tradisional sebagai upaya membangun numerasi siswa secara lebih kontekstual, menyenangkan, dan dekat dengan budaya anak.
Setelah mengikuti workshop pembuka, peserta memperoleh bekal untuk mengembangkan pembelajaran berbasis permainan tradisional secara mandiri di sekolah masing-masing. Tahap tindak lanjut tersebut berlangsung hingga 16 April 2026 dan mencakup beberapa kegiatan penting, mulai dari penyusunan integrasi permainan ke dalam kurikulum pembelajaran SD melalui template yang telah disiapkan panitia, penyusunan RPP awal, review silang RPP antar sekolah dasar, penyusunan RPP hasil review, hingga uji coba dalam praktik pembelajaran secara riil.
Puncak praktik pembelajaran pada Kamis, 16 April 2026 dilaksanakan di SDN Merjosari 3 Kota Malang. Pada kesempatan itu, guru model Ibu Ismoyowati mengimplementasikan RPP yang telah disusun dengan mengintegrasikan permainan tradisional kelereng ke dalam materi pengolahan data untuk siswa kelas V SD.
Kegiatan ini diikuti oleh 28 siswa dan diamati oleh sejumlah observer, di antaranya Kepala SDN Merjosari 3 Ibu Sri Sulastri, beberapa guru dari sekolah sekitar, serta mahasiswa S3 Pendidikan Matematika Universitas Negeri Malang, yaitu Arfi Wahyu Nurkarim, Melinda Rismawati, dan Mira Rahmawati.
Dalam pelaksanaannya, pembelajaran dirancang secara kontekstual dengan membawa siswa pada permasalahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Siswa kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok dan memulai kegiatan inti dengan bermain kelereng sesuai aturan permainan.
Hasil permainan yang diperoleh siswa selanjutnya dicatat sebagai data, yang selanjutnya diolah dan direpresentasikan ke dalam bentuk diagram batang. Dengan rancangan seperti ini, permainan tidak hadir sebagai selingan semata, melainkan benar-benar menjadi bagian utuh dari proses belajar matematika.
Praktik pembelajaran berlangsung sangat baik dan menunjukkan bahwa permainan tradisional dapat menjadi sarana belajar yang efektif sekaligus menyenangkan. Selama kegiatan berlangsung, siswa tampak sangat antusias, aktif, dan bersemangat mengikuti setiap tahap pembelajaran. Keceriaan siswa juga terlihat saat sesi refleksi di akhir pembelajaran.
Ketika guru bertanya, “Apa hal yang ingin kalian ulangi di pembelajaran selanjutnya?” para siswa serempak menjawab, “Permainan, Bu.” Respons spontan tersebut menjadi gambaran kuat bahwa pembelajaran matematika yang dikemas melalui permainan tradisional mampu menghadirkan pengalaman belajar yang berkesan dan dirindukan siswa.
Kepala SDN Merjosari 3, Ibu Sri Sulastri, turut menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini. Ia menyatakan bahwa permainan tradisional akan terus diterapkan dalam pembelajaran-pembelajaran selanjutnya, terutama pada mata pelajaran matematika. Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi motivasi yang sangat kuat bagi siswa. Matematika yang selama ini sering dianggap menakutkan dapat berubah menjadi pembelajaran yang menyenangkan, bahkan dirindukan oleh peserta didik.
Kegiatan itu menjadi bukti bahwa integrasi budaya lokal ke dalam pembelajaran tidak hanya relevan untuk melestarikan permainan tradisional, tetapi juga mampu memperkuat kualitas proses belajar di sekolah dasar.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?