Banner Iklan

Rukun Mengakar, Kampus Mengglobal: Refleksi Halal bi Halal

Anis Hidayatie
26 Maret 2026 | 16.37 WIB Last Updated 2026-03-26T09:39:51Z


Rukun Mengakar, Kampus Mengglobal: Refleksi Halal bi Halal

Oleh: Prof Ilfi Nur Diana 

Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: Kampus bukan sekadar bangunan, bukan pula sekadar institusi administratif. Kampus adalah rumah bersama—ruang hidup yang dibangun dari kepercayaan, kerja kolektif, dan rasa memiliki. Dalam konteks inilah, penting untuk menegaskan kembali bahwa Kampus UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bukan milik rektor, bukan milik pimpinan, melainkan milik seluruh sivitas akademika.

Kesadaran kolektif ini bukan hanya penting sebagai narasi simbolik, tetapi menjadi fondasi utama dalam membangun budaya akademik yang sehat. Sebab ketika rasa memiliki itu tumbuh, maka tanggung jawab tidak lagi bersifat struktural semata, tetapi berubah menjadi panggilan moral bersama.

Namun, rasa memiliki itu tidak akan tumbuh tanpa komunikasi yang sehat. Salah satu tantangan terbesar dalam tata kelola institusi modern adalah tersumbatnya ruang komunikasi internal. Banyak persoalan kecil yang seharusnya bisa diselesaikan secara cepat dan elegan, justru membesar karena tidak disampaikan melalui jalur yang tepat.

Dalam realitas keseharian, kita sering menjumpai kecenderungan untuk menyampaikan kegelisahan kepada pihak luar—kepada “tetangga”, kepada ruang publik yang tidak selalu memahami konteks utuh dari persoalan yang kita hadapi. Padahal, ruang komunikasi di dalam kampus sejatinya sangat terbuka: dari rektor hingga wakil rektor, dari dekan hingga wakil dekan.

Ketika komunikasi internal tidak dimaksimalkan, maka yang muncul adalah distorsi. Apa yang semula merupakan kritik konstruktif bisa berubah menjadi narasi negatif. Bahkan, dalam era digital, narasi semacam itu dengan mudah viral di media sosial. Kita pernah menyaksikan bagaimana institusi pendidikan, termasuk kampus kita, menjadi sasaran tuduhan—disebut tidak kompeten, lulusan dianggap tidak siap kerja, hingga persepsi yang merendahkan kualitas akademik.

Menghadapi situasi semacam ini, reaksi emosional bukanlah solusi. Sikap defensif juga tidak akan menyelesaikan masalah. Justru yang dibutuhkan adalah kedewasaan institusional: kemampuan untuk menjadikan kritik sebagai cermin, bukan sebagai ancaman.

Di sinilah pentingnya refleksi. Apakah benar tuduhan itu sepenuhnya keliru? Atau justru mengandung serpihan kebenaran yang perlu kita benahi? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak untuk menjatuhkan, melainkan untuk menguatkan. Sebab institusi yang besar bukanlah institusi yang bebas dari kritik, tetapi institusi yang mampu belajar dari kritik.

Refleksi tersebut membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: sudahkah kita memberikan yang terbaik?

Bagi para pendidik, pertanyaan ini menyentuh inti profesi. Apakah proses pembelajaran yang kita lakukan benar-benar membekali mahasiswa dengan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan zaman? Apakah kita hanya mentransfer pengetahuan, atau juga membentuk karakter dan daya kritis?

Bagi para pimpinan, refleksi ini berkaitan dengan visi dan kebijakan. Sudahkah sistem yang kita bangun mampu menciptakan ekosistem akademik yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing global? Sudahkah kita membuka ruang bagi tumbuhnya kreativitas dan kolaborasi?

Sementara itu, bagi tenaga kependidikan, kontribusi sering kali dipandang sebagai pelengkap. Padahal, dalam kenyataannya, pelayanan administratif yang cepat, ramah, dan akurat adalah denyut nadi dari pengalaman mahasiswa. Pelayanan yang baik bukan sekadar urusan teknis, tetapi memiliki dampak psikologis yang besar: menumbuhkan rasa nyaman, meningkatkan motivasi, dan pada akhirnya memperkuat kualitas lulusan.

Dengan demikian, tidak ada satu pun elemen yang bisa merasa tidak memiliki peran. Kampus adalah ekosistem yang hidup, di mana setiap bagian saling terhubung. Kualitas lulusan bukan hanya ditentukan oleh dosen di ruang kelas, tetapi juga oleh kebijakan pimpinan, pelayanan administrasi, dan bahkan budaya kerja sehari-hari.

Inilah yang disebut sebagai kepemimpinan kolektif.

Dalam sebuah kesempatan, Prof Imam Suprayogo sebagai sesepuh UIN Malang pernah mengibaratkan para wakil rektor seperti Napoleon Bonaparte—bukan karena kekuasaan atau ambisi, tetapi karena keberanian berpikir besar. Analogi ini menarik, karena mengingatkan kita bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh postur, melainkan oleh visi.

Namun, sesungguhnya “Napoleon-Napoleon kecil” itu tidak hanya ada di jajaran pimpinan. Ia ada pada setiap individu yang berani berpikir melampaui batas rutinitas, yang tidak sekadar bekerja, tetapi juga berkontribusi.

Kampus yang besar tidak dibangun oleh satu tokoh, melainkan oleh banyak orang yang memiliki semangat yang sama. Mereka mungkin berbeda latar belakang, berbeda posisi, bahkan berbeda cara pandang. Tetapi ketika semua perbedaan itu disatukan oleh tujuan yang sama, maka ia berubah menjadi kekuatan yang dahsyat.

Dalam praktiknya, kekuatan itu sering kali tidak tampak dalam hal-hal besar, tetapi justru dalam upaya-upaya kecil yang konsisten: rapat yang produktif, diskusi yang jujur, pelayanan yang tulus, dan komitmen yang terus dijaga.

Dari sinilah masa depan kampus dibentuk.

Ke depan, tantangan pendidikan tinggi tidak semakin ringan. Globalisasi, disrupsi teknologi, dan kompetisi antar-institusi menuntut kita untuk terus berbenah. Kampus tidak lagi cukup hanya menjadi tempat belajar, tetapi harus menjadi pusat inovasi, pusat peradaban, dan pusat solusi bagi masyarakat.

Untuk itu, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah merawat rumah kita sendiri. Menjaga marwah institusi bukan dengan retorika, tetapi dengan kerja nyata. Bukan dengan memperbanyak narasi keluar, tetapi dengan memperkuat kualitas ke dalam.

Kerukunan menjadi kunci. Tanpa kerukunan, energi akan habis untuk konflik internal. Tanpa rasa memiliki, kerja akan menjadi beban. Tetapi dengan kebersamaan, setiap tantangan akan terasa lebih ringan, dan setiap capaian akan menjadi milik bersama.


Akhirnya, membangun kampus yang berdampak global tidak dimulai dari strategi besar semata, tetapi dari hal-hal mendasar: komunikasi yang sehat, refleksi yang jujur, dan kerja kolektif yang berkelanjutan.

Dari sanalah, sebuah institusi akan tumbuh—bukan hanya menjadi besar, tetapi juga bermakna dan berdampak bagi semua kalangan masyarakat, bangsa dan negara.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Rukun Mengakar, Kampus Mengglobal: Refleksi Halal bi Halal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now