Banner Iklan

Puasa ke-19: Puasa dan Kesederhanaan di Tengah Konsumerisme, Kolom Ramadan bersama Prof Fauzan Zenrif

Anis Hidayatie
09 Maret 2026 | 06.39 WIB Last Updated 2026-03-08T23:53:58Z


Puasa ke-19: Puasa dan Kesederhanaan di Tengah Konsumerisme, Kolom Ramadan bersama Prof Fauzan Zenrif 

KOLOM| JATIMSATUNEWS.COM: Salah satu pelajaran penting dari puasa adalah melatih manusia untuk hidup sederhana dan mampu mengendalikan diri. Ketika berpuasa, kita belajar bahwa hidup sebenarnya tidak membutuhkan terlalu banyak hal. Dengan menahan lapar dan haus sepanjang hari, manusia disadarkan bahwa kebutuhan dasar hidup sebenarnya sederhana. Namun ketika Ramadhan mendekati akhir dan hari raya semakin dekat, sering kali muncul kecenderungan yang berbeda, keinginan untuk membeli banyak barang, menyiapkan berbagai makanan secara berlebihan, bahkan kadang melebihi kebutuhan.

Islam tidak melarang kita bergembira dan menampakkan kebahagiaan pada hari raya. Rasulullah Muhammad saw menganjurkan umatnya untuk memakai pakaian terbaik pada hari raya, sebagai tanda syukur kepada Allah. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa beliau memiliki pakaian khusus yang dipakai pada hari Jumat dan hari raya. Ini menunjukkan bahwa berpenampilan baik dan rapi pada hari raya adalah bagian dari adab dan penghormatan terhadap momen yang mulia ini.

Namun, Islam juga memberikan batas agar kegembiraan itu tidak berubah menjadi pemborosan. Al-Qur’an mengingatkan:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

 “Wahai anak Adam, pakailah pakaian terbaikmu setiap memasuki masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31).

Al-Qur’an juga memberikan pedoman keseimbangan dalam menggunakan harta:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

 “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di tengah-tengah antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67).

Dua ayat ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan sikap mengambil jalan tengah: tidak pelit, tetapi juga tidak berlebihan. Prinsip ini sangat relevan ketika masyarakat menghadapi momen hari raya. Namun dalam kehidupan masyarakat sering muncul tekanan sosial menjelang Idul Fitri. Misalnya seseorang yang memiliki penghasilan sekitar Rp5.000.000 per bulan, kemudian menerima THR sekitar Rp4.000.000, sehingga total dana yang tersedia sekitar Rp9.000.000 pada bulan Ramadhan. Jika tidak dikelola dengan bijak, dana ini sering habis bahkan sebelum bulan berikutnya datang.

Padahal jika diatur secara wajar, kebutuhan hari raya sebenarnya tidak harus besar. Misalnya untuk pakaian baru, seseorang cukup membeli pakaian yang layak dengan harga sekitar Rp. 250.000 sampai Rp. 400.000 per orang. Jika satu keluarga terdiri dari empat orang, maka kebutuhan pakaian masih berada di kisaran Rp. 1.000.000 sampai Rp. 1.400.000. Itu sudah cukup baik untuk tampil rapi pada hari raya tanpa harus membeli pakaian yang lebih mahal atau berganti model setiap tahun.

Untuk keperluan konsumsi dan hidangan tamu, keluarga dapat menyiapkan kebutuhan sekitar Rp. 800.000 sampai Rp. 1.200.000, yang biasanya sudah cukup untuk membeli bahan makanan seperti beras, ayam, santan, telur, dan beberapa jenis kue kering sederhana, ditambah minuman untuk tamu yang datang bersilaturahmi.

Dalam tradisi masyarakat kita juga ada kebiasaan memberikan uang kepada anak-anak atau keluarga yang lebih muda saat hari raya. Jika niatnya sebagai sedekah dan berbagi kebahagiaan, hal ini tentu baik. Namun jumlahnya tidak harus besar. Misalnya memberikan Rp.10.000 sampai Rp. 20.000 per anak kepada sekitar 20 anak yang datang, maka totalnya hanya sekitar Rp. 200.000 sampai Rp. 400.000. Jika ingin memberi kepada beberapa keponakan dekat dengan jumlah lebih besar, misalnya Rp. 50.000, itu pun masih dalam batas yang wajar selama tidak berlebihan.

Dengan perhitungan sederhana, kebutuhan hari raya dapat diperkirakan untuk keperluan Pakaian keluarga, sekitar Rp1.200.000, konsumsi dan hidangan tamu, sekitar Rp. 1.000.000 atau Rp. 1.500.000, berikut sedekah dan uang untuk anak-anak, sekitar Rp. 400.000 sampai Rp. 600.000. Jadi, total kebutuhan sekitar Rp. 2.600.000 sampai Rp. 3.500.000. Jumlah ini masih sekitar 30% dari dana Rp. 9.000.000 yang tersedia dari gaji dan THR. Sisanya masih bisa digunakan untuk kebutuhan keluarga setelah hari raya, tabungan, atau membantu keluarga yang membutuhkan. 

Dengan cara begitu, hari raya bukan “telas-telasan” alias habis-habisan, tapi riyayan (hari rayan) atau bodho atau ba’dho (telah selesai dalam melaksanakan latihan ibadah berpuasa). Jadi mari biasakan sejak sekarang hidup wajar dalam beribadah tanpa harus memperhatikan gengsi sosial, sebagaimana ajaran ikhlas dalam melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan penuh.

Dengan cara seperti ini lah, seseorang dapat tetap merayakan hari raya dengan layak, memuliakan tamu dengan baik dan benar, dan berbagi kepada anak-anak tanpa harus memaksakan diri berutang ke koperasi, bank, atau tetangga hanya demi menjaga gengsi sosial.

Puasa sebenarnya sudah melatih manusia selama sebulan penuh untuk menahan diri dari keinginan yang berlebihan. Karena itu, ketika hari raya tiba, nilai yang muncul seharusnya bukanlah sikap konsumtif, tetapi rasa syukur yang sederhana dan bijaksana dalam menggunakan rezeki. Dengan cara itulah puasa benar-benar membentuk pribadi yang seimbang: mampu menikmati kebahagiaan hari raya, tetapi tetap menjaga diri dari pemborosan yang tidak perlu.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Puasa ke-19: Puasa dan Kesederhanaan di Tengah Konsumerisme, Kolom Ramadan bersama Prof Fauzan Zenrif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now