![]() |
| Prof. Akhmad Sabarudin memaparkan inovasi mendeteksi penyakit ginjal dengan 3 metode di acara Ngopi Sam II yang digelar FMIPA UB (13/3)./dok. FMIPA UB |
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM - Agenda NGOPI SAM kedua kembali digelar pada Jumat (13/3) sore mulai pukul 16.00 hingga 18.00 WIB oleh Fakultas MIPA Universitas Brawijaya, Malang di Ruang MC 1.1 FMIPA.
Fakultas MIPA UB kali ini menghadirkan narasumber, Prof. Akhmad Sabarudin, S.Si., M.Sc., Dr.Sc., seorang Guru Besar dari Departemen Kimia FMIPA UB.
Profesor Akhmad juga seorang alumnus S1 angkatan 1992 dari Departemen Kimia FMIPA UB yang sudah sangat sering mendapatkan penghargaan dari dalam dan luar negeri.
Melalui agenda ini, Prof Akhmad memaparkan inovasi deteksi dini penyakit ginjal dengan lebih cepat, murah, dan bisa diterapkan di mana saja.
Krisis Kesehatan yang Tak Bisa Diabaikan
Ginjal adalah organ vital yang bertugas menyaring limbah dari darah. Ketika fungsinya menurun, seseorang bisa terkena penyakit ginjal (nefropati) yang perlahan bisa menjadi kronis, gagal ginjal, dan berujung pada kematian. Di Indonesia, jumlah pasien gagal ginjal yang harus menjalani cuci darah (hemodialisis) terus meningkat drastis. Data Riset Kesehatan Dasar 2018 menunjukkan bahwa jumlah penderita penyakit ginjal kronis naik dua kali lipat dibandingkan tahun 2013.
Masalah utamanya adalah deteksi dini yang sulit dijangkau. Banyak pasien baru sadar saat penyakit sudah parah. Padahal, jika diketahui lebih awal, perkembangan penyakit ini bisa diperlambat atau dicegah.
Ide Sederhana untuk Masalah Besar
Di sinilah tim peneliti yang dipimpin oleh Akhmad Sabarudin mencoba memberikan solusi. Sejak 2018, mereka mengembangkan alat pendeteksi dini gangguan ginjal yang sederhana, murah, dan mudah dibawa ke mana-mana (portabel). Konsepnya mirip dengan alat tes kehamilan, tapi untuk mendeteksi kesehatan ginjal.
Alat ini dirancang untuk mengukur Rasio Albumin-Kreatinin (ACR) dalam urin. Rasio ini adalah "alarm" dini yang andal. Jika kadar albumin (protein) dalam urin tinggi, itu tandanya ginjal mulai "bocor" dan tidak menyaring darah dengan baik. Pemeriksaan ini tidak perlu ribet, cukup dengan sampel urin sewaktu, tidak perlu dikumpulkan 24 jam.
Metode pemeriksaan di rumah sakit memang sudah akurat, tapi alatnya mahal, besar, dan harus dioperasikan oleh tenaga ahli. Ini tentu sulit dijangkau oleh puskesmas di pelosok atau masyarakat yang tinggal jauh dari rumah sakit. Karena itu, tim peneliti ini ingin menciptakan alat yang sesuai dengan standar WHO: Terjangkau, Sensitif, Spesifik, Mudah Digunakan, Cepat, dan Bisa Sampai ke Tangan yang Membutuhkan.
Dari Kertas Biasa Menjadi Alat Diagnostik Canggih
Inovasi yang mereka buat adalah microfluidic paper-based analytical devices (Β΅PADs). Ini adalah alat berbasis kertas dengan saluran mikro yang bisa mengalirkan sampel urin dan bereaksi dengan bahan kimia tertentu. Ada dua cara membaca hasilnya:
(1) Perubahan Warna: Semakin pekat warnanya, semakin tinggi kadar zat yang dideteksi.
(2) Jarak Rambatan Warna: Mirip seperti air yang meresap di kertas, semakin jauh warna bergerak, semakin tinggi kadarnya.
Namun, tantangannya adalah batas perubahan warna sering tidak jelas, sehingga sulit diukur secara akurat.
Solusi Jenius: Memakai Partikel Emas dan Desain 3D
Untuk mengatasi masalah itu, tim peneliti menambahkan partikel emas berukuran nano (AuNPs) ke dalam reagen kimia yang digunakan. Partikel ini bereaksi dengan kreatinin dan albumin dalam urin, menciptakan batas warna yang lebih tegas dan tajam, sehingga hasilnya lebih akurat.
Tidak berhenti di situ, mereka juga mendesain ulang alat tersebut dengan menambahkan konektor 3D di antara area sampel dan area deteksi. Desain ini berfungsi seperti "pintu " yang mengatur aliran urin, mencegah percampuran reagen yang tidak diinginkan, sehingga hasil pengukuran menjadi lebih presisi. Alat inovatif ini akhirnya dinamakan 3D-Β΅PADs.
Hasilnya? Ketika diuji pada 100 sampel urin pasien di RSSA Malang, akurasi alat ini mencapai 93,48% dan sangat presisi, sebanding dengan alat standar emas di rumah sakit (ROCHE COBAS c503).
Sentuhan Kecerdasan Buatan untuk Hasil yang Lebih Objektif
Meskipun sudah sangat akurat, alat ini masih mengandalkan mata manusia untuk membaca hasilnya. Hal ini bisa menimbulkan perbedaan pendapat atau subjektivitas, apalagi jika digunakan oleh banyak orang dengan latar belakang berbeda.
Maka, langkah berikutnya adalah mengintegrasikan kecerdasan buatan atau machine learning (ML) ke dalam sistem. Teknologi ML akan "belajar" dari ribuan gambar hasil tes untuk kemudian secara otomatis membaca dan mengklasifikasikan hasil ACR dengan objektif dan konsisten. Algoritma seperti Random Forest atau Support Vector Machine akan membantu memastikan bahwa interpretasi hasil tidak lagi bergantung pada siapa yang membaca, tapi pada data yang akurat.
Tiga Keunggulan dan Masa Depan Skrining Ginjal
Dengan integrasi ini, lahirlah sistem deteksi nefropati yang memiliki tiga keunggulan utama:
(1) Hasil Stabil dan Akurat: Desain 3D dan partikel emas memastikan reaksi kimia berjalan optimal.
(2) Interpretasi Objektif: Kecerdasan buatan menghilangkan tebak-tebakan dan subjektivitas.
(3) Praktis dan Portabel: Dikemas dalam aplikasi digital, alat ini bisa digunakan di lapangan, di komunitas, atau fasilitas kesehatan primer tanpa perlu laboratorium canggih.
Ke depannya, prototipe ini diharapkan tidak hanya menjadi alat skrining, tapi juga bagian dari transformasi layanan kesehatan menuju sistem yang lebih prediktif (bisa meramal risiko), preventif (mencegah), dan presisi (tepat sasaran). Sebuah langkah kecil dari kertas dan partikel emas, untuk lompatan besar dalam menyelamatkan jutaan ginjal. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?