Prof Akhmad Sabarudin Ungkap Terobosan Deteksi Dini Penyakit Ginjal di NGOPI SAM ke-2 FMIPA UB
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya kembali menggelar forum diskusi santai bersama media bertajuk “NGOPI SAM (Ngobrol dan Ngopi Santai Bersama Media)” yang memasuki edisi kedua. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat, 13 Maret 2026 pukul 16.00–18.00 WIB di Hall MC 1.1 Gedung MIPA Center FMIPA Universitas Brawijaya.
Acara ini menghadirkan narasumber utama Prof. Akhmad Sabarudin, S.Si., M.Sc., Dr.Sc, Guru Besar Departemen Kimia FMIPA UB yang juga merupakan alumni S1 Kimia FMIPA UB angkatan 1992. Selain dikenal sebagai akademisi, Prof. Sabarudin juga merupakan peneliti yang telah meraih berbagai penghargaan nasional maupun internasional.
Dalam forum tersebut, Prof. Sabarudin memaparkan inovasi penting di bidang kesehatan, yakni teknologi deteksi dini penyakit ginjal yang lebih cepat, murah, dan dapat digunakan di mana saja.
Krisis Penyakit Ginjal yang Mengkhawatirkan
Dalam paparannya, Prof. Sabarudin menjelaskan bahwa penyakit ginjal menjadi salah satu ancaman kesehatan yang serius di Indonesia. Ginjal merupakan organ vital yang berfungsi menyaring limbah dari darah. Ketika fungsi ini terganggu, seseorang dapat mengalami nefropati yang berpotensi berkembang menjadi penyakit ginjal kronis hingga gagal ginjal.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa jumlah penderita penyakit ginjal kronis di Indonesia meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2013. Banyak pasien baru mengetahui penyakitnya ketika sudah berada pada tahap lanjut dan membutuhkan terapi cuci darah atau hemodialisis.
“Masalah utama penyakit ginjal adalah deteksi dini yang sulit dijangkau masyarakat. Banyak pasien datang ketika kondisinya sudah parah,” ujar Prof. Sabarudin.
Padahal, lanjutnya, jika gangguan ginjal dapat diketahui lebih awal, maka perkembangan penyakit dapat diperlambat bahkan dicegah.
Inovasi Alat Deteksi Sederhana dan Portabel
Berangkat dari permasalahan tersebut, sejak tahun 2018 tim peneliti yang dipimpin Prof. Sabarudin mengembangkan alat deteksi dini gangguan ginjal yang sederhana, murah, dan portabel.
Konsep alat ini mirip dengan alat tes kehamilan, namun digunakan untuk mendeteksi kesehatan ginjal melalui Rasio Albumin-Kreatinin (ACR) dalam urin. Rasio ini menjadi indikator penting untuk mengetahui apakah ginjal mulai mengalami kebocoran protein.
“Jika kadar albumin dalam urin meningkat, itu menjadi sinyal awal bahwa ginjal tidak lagi bekerja optimal,” jelasnya.
Keunggulan metode ini adalah pemeriksaannya sederhana karena hanya membutuhkan sampel urin sewaktu, tanpa harus mengumpulkan urin selama 24 jam seperti metode konvensional di rumah sakit.
Dari Kertas Biasa Menjadi Alat Diagnostik Canggih
Inovasi yang dikembangkan oleh tim peneliti tersebut menggunakan teknologi microfluidic paper-based analytical devices (Β΅PADs), yaitu alat berbasis kertas dengan saluran mikro yang mampu mengalirkan sampel urin dan bereaksi dengan reagen kimia tertentu.
Hasil pemeriksaan dapat dibaca melalui dua indikator, yaitu perubahan warna dan jarak rambatan warna pada kertas.
Namun, dalam tahap awal penelitian, batas perubahan warna sering kali tidak jelas sehingga sulit diukur secara presisi.
Partikel Emas dan Desain 3D Tingkatkan Akurasi
Untuk mengatasi kendala tersebut, tim peneliti menambahkan partikel emas berukuran nano (AuNPs) pada reagen kimia. Partikel ini bereaksi dengan kreatinin dan albumin dalam urin sehingga menghasilkan batas warna yang lebih tajam dan mudah diukur.
Tak hanya itu, para peneliti juga merancang ulang alat tersebut dengan menambahkan konektor 3D yang berfungsi mengatur aliran urin agar tidak terjadi pencampuran reagen yang tidak diinginkan.
Teknologi inovatif ini kemudian dikenal dengan nama 3D-Β΅PADs.
Hasil pengujian yang dilakukan terhadap 100 sampel urin pasien di RSUD Dr. Saiful Anwar (RSSA) Malang menunjukkan tingkat akurasi mencapai 93,48 persen, mendekati alat standar rumah sakit seperti ROCHE COBAS c503.
Integrasi Kecerdasan Buatan
Meski telah memiliki tingkat akurasi tinggi, Prof. Sabarudin menjelaskan bahwa pembacaan hasil masih bergantung pada pengamatan manusia. Oleh karena itu, tahap berikutnya adalah mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan atau machine learning.
Dengan teknologi ini, sistem akan mempelajari ribuan gambar hasil tes dan secara otomatis mengklasifikasikan nilai ACR secara objektif menggunakan algoritma seperti Random Forest dan Support Vector Machine.
“Dengan bantuan kecerdasan buatan, interpretasi hasil tidak lagi subjektif. Sistem akan membaca data secara konsisten dan akurat,” jelasnya.
Menuju Sistem Kesehatan yang Prediktif dan Preventif
Dengan integrasi teknologi tersebut, alat deteksi ini memiliki tiga keunggulan utama, yakni hasil yang stabil dan akurat, interpretasi objektif berbasis kecerdasan buatan, serta praktis dan portabel sehingga dapat digunakan di berbagai fasilitas kesehatan primer.
Ke depan, inovasi ini diharapkan dapat menjadi bagian dari transformasi sistem layanan kesehatan menuju pendekatan prediktif, preventif, dan presisi, sehingga penyakit ginjal dapat dideteksi lebih dini sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
Hadirkan Alumni Sukses di Industri Energi
Selain Prof. Sabarudin, kegiatan NGOPI SAM ke-2 juga menghadirkan Chaerul Firmansyah, alumni FMIPA UB yang kini menjabat sebagai Vice President di TexCal Energy Inc.
Dalam sesi berbagi pengalaman, Chaerul menceritakan perjalanan kariernya dari seorang mahasiswa aktivis hingga berhasil meniti karier di industri energi internasional. Ia menekankan pentingnya memiliki tekad dan tujuan karier sejak masih kuliah.
“Sebelum lulus saya sudah menargetkan ingin bekerja di industri perminyakan. Dari situ saya berusaha mengubah ketidakpastian menjadi sesuatu yang pasti dengan kerja keras dan kesiapan diri,” ungkapnya.
Dukungan FMIPA UB
Acara NGOPI SAM ke-2 ini juga dihadiri oleh Dekan FMIPA UB Prof. Ir. Sukir Maryanto, S.Si., M.Si., Ph.D beserta jajaran pimpinan fakultas. Forum diskusi ini menjadi ruang dialog antara akademisi, praktisi, dan media untuk menyampaikan berbagai inovasi dan gagasan dari lingkungan kampus kepada masyarakat luas.
Melalui kegiatan ini, FMIPA UB berharap inovasi riset yang dihasilkan para akademisi tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi dapat memberikan kontribusi nyata dalam menjawab berbagai persoalan global, khususnya di bidang kesehatan.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?