Mahasiswa UMM Ciptakan Mesin Pengolah Minyak Jelantah Jadi Sabun, Solusi Cerdas untuk Lingkungan dan UMKM
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: 23 Maret 2026 – Kepedulian terhadap persoalan lingkungan kembali diwujudkan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui inovasi teknologi tepat guna. Minyak jelantah yang selama ini kerap terbuang sia-sia, kini berhasil disulap menjadi produk bernilai ekonomi berupa sabun melalui mesin inovatif bertajuk Re-Oil to Soap Refiner Machine.
Inovasi ini digagas oleh mahasiswa Teknik Industri angkatan 2023, Aulia Chandra Subrolarang, bersama tim yang beranggotakan 10 orang. Prototipe tersebut lahir dari proses pembelajaran di mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3), yang menekankan pada solusi nyata berbasis teknologi.
Chaca, sapaan akrab Aulia, menjelaskan bahwa ide ini muncul dari keprihatinan terhadap banyaknya minyak jelantah yang dibuang tanpa pengolahan. Padahal, limbah tersebut berpotensi mencemari lingkungan jika tidak ditangani dengan baik.
“Banyak minyak jelantah yang belum bisa diolah dan akhirnya dibuang. Dari situ kami ingin membuat prototipe agar minyak tersebut bisa dimanfaatkan kembali,” ujarnya.
Mesin ini dirancang untuk skala rumah tangga hingga pelaku UMKM. Proses pengolahannya dimulai dari tahap filtrasi untuk memisahkan kotoran, dilanjutkan dengan pemanasan agar minyak lebih encer. Setelah itu, bahan pendukung dicampurkan melalui sistem mixing otomatis hingga menghasilkan adonan sabun yang siap dicetak dan didinginkan.
Keunggulan utama alat ini terletak pada efisiensi proses dan konsep ramah lingkungan yang diusung. Sistem otomatis tidak hanya mengurangi pekerjaan manual, tetapi juga mempercepat produksi. Selain itu, inovasi ini sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular karena mengubah limbah menjadi produk bernilai guna.
“Keunggulannya ada pada proses yang lebih efisien dan mendukung konsep sustainability serta circular economy,” tambah Chaca.
Dalam proses pengembangannya, tim menghadapi sejumlah tantangan, terutama pada tahap uji coba. Mereka harus melakukan beberapa kali eksperimen untuk memastikan kualitas sabun yang dihasilkan optimal. Diskusi intensif bersama dosen pembimbing juga menjadi kunci dalam penyempurnaan desain mesin.
Dosen pembimbing, Amelia Khoidir, menilai inovasi ini sebagai bukti kemampuan mahasiswa dalam mengintegrasikan rekayasa produk dengan isu keberlanjutan.
“Melalui pembelajaran P3, mahasiswa dilatih peka terhadap masalah nyata dan mampu merancang solusi berbasis teknologi proses. Ke depan, sistem ini berpotensi dikembangkan menjadi mesin daur ulang pintar dengan fitur monitoring produksi, kontrol kualitas otomatis, serta analisis efisiensi energi dan biaya operasional,” jelasnya.
Saat ini, prototipe mesin masih memiliki kapasitas 1,5 liter. Namun, tim optimistis pengembangan lebih lanjut dapat meningkatkan kapasitas hingga 5 liter dengan sistem mixing yang lebih cepat dan efisien.
Dari sisi sosial, inovasi ini diharapkan mampu mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak jelantah. Sementara dari sisi ekonomi, produk sabun hasil olahan berpotensi menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat dan UMKM setelah melalui pengujian lanjutan.
Bagi Chaca, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya kolaborasi dan keberanian dalam menuangkan ide.
“Jangan takut menyampaikan ide, karena siapa tahu ide tersebut bisa menjadi solusi yang bermanfaat,” pesannya.
Melalui pembelajaran berbasis proyek seperti P3, UMM kembali menegaskan komitmennya sebagai kampus inovatif yang mendorong lahirnya karya aplikatif dari ruang kelas. Inovasi ini menjadi bukti bahwa ide sederhana, jika dikembangkan dengan serius, mampu menjawab tantangan lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi berkelanjutan. (Ans)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?