DPD RI Lia Istifhama Dorong Impor Gula Tidak Dilakukan Saat Produksi Melimpah, Lindungi Petani Tebu
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM: Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mendorong pemerintah untuk mengatur waktu impor gula agar tidak dilakukan saat produksi dalam negeri sedang melimpah. Menurutnya, kebijakan tersebut penting untuk menjaga keseimbangan pasar sekaligus melindungi kesejahteraan petani tebu.
Pernyataan tersebut disampaikan Ning Lia saat melakukan kunjungan ke Kantor Perhutani Jawa Timur di kawasan Genteng Kali Surabaya, Kamis (27/3/2026). Dalam kunjungan itu, ia disambut langsung Direktur Utama Tio Handoko, Direktur Komersial Anggar Widiyatmoko, serta Direktur SDM, Umum dan IT Andus Winarno.
Menurut Ning Lia, melimpahnya produksi gula saat musim panen kerap menjadi ironi bagi petani. Di tengah peningkatan hasil, harga gula justru berpotensi turun akibat masuknya gula impor ke pasar domestik.
“Impor itu bukan tidak boleh, bahkan dalam kondisi tertentu memang dibutuhkan. Tapi harus melihat waktu, jangan saat produksi dalam negeri sedang tinggi,” ujar Ning Lia.
Keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa tersebut mengakui bahwa Indonesia masih mengalami kekurangan pasokan gula nasional, sehingga impor menjadi opsi yang tidak terhindarkan. Namun, ia mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak menekan harga gula petani saat musim panen berlangsung.
Menurutnya, masuknya gula impor, khususnya gula rafinasi, ketika produksi lokal melimpah dapat menimbulkan ketimpangan pasar. Kondisi tersebut berpotensi merugikan petani karena harga jual gula menjadi anjlok.
“Kalau rafinasi masuk bersamaan dengan hasil petani, tentu ini jadi masalah. Petani akan merasa kalah sebelum bertanding,” tegasnya.
Selain mendorong pengaturan impor, Ning Lia juga menekankan pentingnya peran Badan Riset dan Inovasi Nasional dalam meningkatkan produktivitas gula nasional. Ia berharap riset yang dilakukan dapat lebih aplikatif dan langsung dirasakan manfaatnya oleh petani.
“Riset harus bisa membumi, memberikan solusi nyata bagi petani dan industri. Ini yang perlu diperkuat,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Utama Perhutani, Tio Handoko, mengungkapkan bahwa pihaknya terus melakukan modernisasi sektor pertanian tebu. Ia mengakui produktivitas gula nasional masih tertinggal dibanding negara seperti Brasil, Thailand, dan India.
Menurutnya, peningkatan teknologi seperti mekanisasi pertanian hingga penggunaan drone untuk pemupukan menjadi langkah strategis guna meningkatkan hasil produksi sekaligus menekan biaya.
“Kalau kita bisa meningkatkan rendemen dan produksi per hektare, maka ketergantungan impor bisa ditekan. Kuncinya ada di teknologi dan inovasi,” jelasnya.
Sebagai solusi jangka panjang, Perhutani juga mendorong adanya klasifikasi yang jelas antara gula konsumsi rumah tangga dan gula rafinasi untuk kebutuhan industri. Selain itu, tata kelola impor diharapkan berbasis data produksi serta kebutuhan riil di lapangan.
Dengan langkah tersebut, Ning Lia optimistis keseimbangan antara kepentingan petani dan kebutuhan nasional dapat terjaga.
“Kalau semua berbasis data dan momentum yang tepat, kita bisa lindungi petani tanpa mengganggu kebutuhan nasional,” ujarnya. (Ans)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?