Langkah Politik Senator DPD RI Dr. Lia Istifhama, Pernah Viral Banner Paras Cantik Dicium ODGJ
SAPA TOKOH | JATIMSATUNEWS.COM: Adalah Dr. Lia Istifhama, wajah baru dalam kancah perpolitikan nasional dalam Pemilu 2024 yang langsung mengunci atensi publik sebagai anggota senator Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI sekaligus MPR RI dengan raihan suara 2.739.123. Angka jumbo yang menempatkannya sebagai senator Perempuan non petahana terbesar nasional. Bukan hanya jumbo secara nasional, Lia Istifhama dikenal sangat aktif, tegas, cerdas, dan responsif menyuarakan isu-isu terkini. Sebut saja saat ia menyebut penerima MBG harusnya Desil 1, 2, 3, hingga intensitasnya menyuarakan aspirasi guru madrasah.
Paras Cantik Dan Sepak Terjang Yang Unik
Nama Lia Istifhama pada periode kampanye Pemilu 2024 dikenal dengan sebutan ning Lia Jilbab Ijo. Warna hijau yang dipilihnya sebagai kerudung di kartu suara dengan senyum tipis ala santri, efektif menjadi salah satu instrument penting keterpilihannya mewakili Propinsi terbesar di nasional, yaitu Jawa Timur dengan Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk Pilkada Serentak 2024 sebanyak 31.280.418 pemilih.
Bukan hal mudah tentunya, bagi seorang pendatang baru di sebuah kancah perpolitikan yang harus menguasai 38 Kabupaten Kota. Sekalipun, tidak sedikit pihak yang menyebut ia memiliki ‘pulung’ atau ‘hoki’, yaitu peruntungan sebagai keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Namun bukan ning Lia tentunya, jika ia terlena dengan sebutan keponakan Khofifah dan memilih duduk manis melalui rangkaian proses kampanye hingga dilantiknya ia sebagai salah satu dari 152 Senator yang melenggang di Senayan.
Sepak terjang putri Tokoh NU almarhum KH Masykur Hasyim itu dibuktikannya melalui strategi melalui lika liku dinamika politik, dan bukan berpangku tangan pada kenyamanan. Strategi foto banner yang dipilih sebagai pengenalan diri misalnya, menunjukkan identitasnya yang kalem bersahaja.
Tak ayal, foto paras ayu yang ia letakkan dalam banner pinggir jalan di berbagai Kabupaten Kota pun, berhasil mencuri atensi. Bahkan, sebuah kejadian unik pun terjadi di sebuah perempatan bangjo (lampu abang ijo) Pagotan, Kabupaten Madiun. Hal ini terjadi sebelum pelaksanaan coblosan, tepatnya peristiwa unik yang diupload di beragam akun sosial media, diantaranya akun tiktok @me.bgs, pada 19 Januari 2024, bahwa terlihat seorang pria tetiba mencium hidung dan mata foto banner Lia Istifhama yang saat itu masih menjadi ‘calon DPD RI’.
Video berjudul “tulung pak purnomo wong iki atasono aku wes ra kuat” tersebut, dilihat lebih dari 500 ribu dan disukai puluhan akun tiktok. Alhasil, video dengan backsound lagu Cinderella oleh Radja tersebut, dalam waktu cepat viral di jagat maya. Bahkan, video tersebut pun menyebar luas di Facebook, Instagram, dan Twitter, diantaranya oleh halaman Facebook Jancok Kata Kata Kota Kita (Paimo dan Tarjo).
Beragam komentar memang memenuhi kolom komentar dari video yang menayangkan bagaimana ‘cinta gila’nya lelaki tersebut, diantara komen seperti:
“Biyen kui mencintai dalam diam…Ending e diam2 edaaannn… sakno ijek enom”, cuit akun FB Cheryl Ellena.
Kisah unik Langkah politik senator Lia Istifhama tersebut, hanyalah satu dari beragam kisah unik lainnya saat ia melalui perjalanan pulang Trenggalek Surabaya dalam proses kampanye, dengam bekal Rp. 5000.
Tentu, ingatan tajam kisah-kisah tersebut, tidak menjadi angin lalu bagi politisi Perempuan yang sering sekali berbicara peran CANTIK sebagai akronim cerdas, inovatif, kreatif, sebagai bentuk protesnya pada beauty priviledge karena dianggap menghambat gerakan feminisme.
Tegas dan bloko sutho atau apa adanya.
Hal tersebut sangat nampak dari beragam videonya saat turun di 38 Kabupaten Kota saat menjabat sebagai senator DPD RI.
Pemikiran tegas dan responsifnya sebagai seorang legislator, sudah nampak sesaat setelah ia dilantik pada 1 Oktober 2024 lalu, yaitu saat ia menyoroti pangkalan LPG 3 Kg dibawah naungan Pertamina secara resmi.
Dalam wawancara depan awak media pada 4/2/25 saat itu, senator Jatim Lia Istifhama tersebut secara lugas menilai kebijakan pembatasan pembelian LPG 3 kg yang mulai berlaku per 1 Februari 2025 perlu mempertimbangkan berbagai potensi dampak sosial ekonomi Masyarakat yang sangat heterogen.
"Kita tetap mencoba menilai secara objektif apapun kebijakan pemerintah. Jika hal tersebut memiliki tujuan sangat positif, yaitu masyarakat mendapatkan harga lebih murah, maka tentu kita dukung dan apresiasi. Namun jika memang penjualan gas melon LPG 3 kg harus pada pangkalan resmi, maka mohon dengan sangat pada Pertamina untuk membuka peluang masyarakat mendapatkan akses sebagai distributor resmi," ucapnya saat itu.
Selain itu, ia pun kerap menyuarakan sorotan tajam berbagai isu sosial ekonomi lainnya. Meski, ia termasuk politisi yang piawai menuangkan kritikan dalam balutan masukan yang humanis serta sikap apresiasi yang gamblang jika ditemukannya kebijakan pemerintah yang sangat pro rakyat. Terlebih jika berkaitan dengan dunia Pendidikan anak-anak, ia terlihat saat peka.
Seperti saat menyikapi kebijakan Pembatasan Medsos Anak Mulai 28 Maret 2026. Ia menyebut Langkah pemerintah sebagai jawaban atas harapan meningkatnya literasi dan modal sosial anak.
“Saat ini kita berhadapan dengan perkembangan komunikasi gadget yang tidak semua anak-anak mampu mengikuti secara bijak akibat usia mereka yang masih sangat dini. Problem learning loss bahkan hilangnya aspek motorik dan sosial anak, melainkan justru melahirkan potensi gangguan belajar akibat kecanduan gadget, tentu problem sosial bersama. Oleh sebab itu, pembatasan gadget adalah jawaban atas harapan kita sebagai orang tua yang harus didukung bersama,” 27/3/26.
Itulah sosok Lia Istifhama dengan segala sepak terjang politik yang menampakkan kecerdasan di balik balutan busana yang diakui publik, sebagai sosok Perempuan dengan keanggunan kultur Jawa.
Sepak terjang Lia Istifhama bukan isapan jempol, melainkan nampak secara nyata diakui public dengan berhasilnya ia meraih survei sebagai legislator dengan kepuasan tertinggi, yaitu mencapai 70,5 persen di Jawa Timur dalam survei oleh Accurate Research and Consulting Indonesia (ARCI).
Dan kini, Perempuan yang sebelumnya aktif menulis di beragam media massa sejak masih kuliah, diantaranya artikel ‘Fenomena Bintang via SMS’, ‘Polemik Teluk Buyat’, ‘SENI’ Berpolitik Secara Holistik", “PPHN dan Pembangunan yang Berkelanjutan”, Transformasi Wajah Demokrasi di era Digitalisasi, tentu masih kita tunggu bersama konsistensi gerak politiknya menjaga amanah rakyat.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?