Kepala Kantor OJK Malang, Farid Faletehan (peci hitam)
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM:Kinerja industri perbankan di wilayah Malang Raya pada awal tahun 2026 menunjukkan tren yang tetap positif. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang mencatat, meskipun pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) berada di bawah rata-rata nasional, kondisi likuiditas perbankan di wilayah ini masih sangat kuat untuk mendukung ekspansi kredit.
Kepala Kantor OJK Malang, Farid Faletehan, menjelaskan bahwa total DPK yang berhasil dihimpun perbankan di wilayah Malang Raya mencapai sekitar Rp104,04 triliun. Sementara itu, total penyaluran kredit telah mencapai Rp109,76 triliun.
Menurut Farid, kondisi tersebut menunjukkan bahwa perbankan di wilayah Malang cenderung lebih agresif dalam menyalurkan kredit dibandingkan menghimpun dana dari masyarakat.
“Kondisi likuiditas saat ini masih sangat bagus dan mencukupi untuk mendukung perkembangan kredit. Di wilayah Malang, penyerapan kredit memang lebih tinggi dibandingkan penghimpunan DPK. Kekurangan likuiditas biasanya ditutup melalui drop dana dari kantor pusat perbankan masing-masing karena karakteristik wilayah kita lebih banyak pada pengembangan kredit,” ujarnya dalam paparan kinerja bulanan.
Ia menambahkan, meskipun pertumbuhan DPK di Malang hanya berada di angka 2,99 persen, angka tersebut masih berada dalam kondisi yang aman. Apalagi jika dibandingkan dengan pertumbuhan nasional yang mencapai 13,48 persen.
Kredit Modal Kerja Dominasi Penyaluran
Dari sisi penggunaan kredit, struktur pembiayaan di wilayah Malang Raya masih didominasi oleh Kredit Modal Kerja (KMK) dengan porsi mencapai 40 persen dari total penyaluran kredit.
Dominasi kredit modal kerja tersebut terutama terlihat di Kota Malang dan Kabupaten Malang yang masing-masing mencatatkan porsi sekitar 44 persen. Sementara di Kota Batu, porsi kredit modal kerja berada di angka 30 persen.
Selain itu, sektor kredit konsumsi juga memberikan kontribusi signifikan dengan porsi sekitar 32 persen dari total kredit yang disalurkan. Farid menilai, konsumsi masyarakat tetap perlu dijaga karena merupakan salah satu motor penggerak utama perekonomian nasional.
Menariknya, tren berbeda terlihat di wilayah Probolinggo. Di daerah ini, penyaluran kredit justru lebih banyak mengarah pada sektor investasi. Hal ini sejalan dengan meningkatnya pembangunan pabrik serta masuknya investasi baru di kawasan tersebut.
UMKM Serap Kredit Rp36 Triliun
Peran sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) juga semakin kuat dalam struktur pembiayaan perbankan di Malang Raya. Hingga awal tahun 2026, porsi kredit UMKM mencapai 32 persen atau setara dengan Rp36 triliun dari total kredit yang disalurkan.
Capaian ini sekaligus memperkuat nilai Indeks Keuangan Akses Daerah (IKAD) yang menjadi salah satu indikator penilaian pembangunan ekonomi daerah oleh Bappenas.
“Penyaluran kredit kepada UMKM menjadi salah satu indikator penting dalam meningkatkan akses keuangan masyarakat serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” jelas Farid.
Pertumbuhan Kredit Antar Wilayah Beragam
Berdasarkan data OJK hingga Januari 2026, Kota Malang tercatat sebagai wilayah dengan nilai kredit terbesar di Malang Raya, yakni mencapai Rp31 triliun dengan pertumbuhan sebesar 10,23 persen secara tahunan (year on year).
Pertumbuhan kredit tertinggi justru dicatatkan oleh Kota Batu yang melesat hingga 15,76 persen. Sementara itu, Kabupaten Malang mengalami sedikit koreksi sebesar 0,82 persen dan Kabupaten Pasuruan juga mengalami kontraksi sekitar 2 persen.
Meski secara umum kinerja perbankan tetap tumbuh positif, OJK mengingatkan perbankan untuk tetap mewaspadai potensi risiko kredit atau Non-Performing Loan (NPL). Risiko ini terutama terlihat pada sektor perdagangan besar yang saat ini mencatatkan rasio NPL sebesar 2,97 persen.
“Tingkat risiko di sektor perdagangan menjadi perhatian. Hal ini membuat perbankan harus lebih selektif dalam menyalurkan kredit ke depan agar kualitas aset atau NPL tetap terjaga dengan baik,” pungkas Farid.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?