Banner Iklan

Jelang Akhir Ramadan Ketua PCNU Kota Singkawang Ingatkan Jamaah Jangan Kehilangan Makna Idul Fitri

Anis Hidayatie
19 Maret 2026 | 09.56 WIB Last Updated 2026-03-19T02:57:02Z

 


Ketua PCNU Kota Singkawang Ingatkan Jamaah: Jangan Kehilangan Makna Idul Fitri di Penghujung Ramadhan

SINGKAWANG | JATIMSATUNEWS.COM: Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, Ketua PCNU Kota Singkawang, Edy Purwanto Achmad, menyampaikan pesan mendalam kepada jamaah dalam ceramah Tarawih akhir Ramadhan. Ia mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak dalam euforia perayaan hingga melupakan makna sejati Idul Fitri.

Dalam ceramahnya yang berlangsung penuh khidmat, Edy Purwanto mengajak jamaah untuk merenungi bahwa malam-malam terakhir Ramadhan bisa jadi merupakan kesempatan terakhir dalam hidup untuk meraih ampunan dan keberkahan.

“Entah tahun depan kita masih bertemu Ramadhan atau tidak. Bisa jadi ini Ramadhan terakhir kita,” ungkapnya di hadapan jamaah.

Ia menggambarkan bagaimana para ulama salaf justru merasakan kesedihan di penghujung Ramadhan. Bukan karena bulan suci akan pergi, melainkan karena kekhawatiran apakah seluruh amal ibadah yang telah dilakukan diterima oleh Allah SWT.

“Yang mereka tangisi bukan Ramadhan yang pergi, tapi apakah amal mereka diterima atau tidak,” tuturnya.

Edy juga menyoroti fenomena masyarakat saat ini yang kerap menjadikan Idul Fitri sebagai ajang pamer kemewahan. Mulai dari membeli pakaian baru secara berlebihan, mengganti perabot rumah tangga, hingga berhutang demi tampil lebih baik dari orang lain.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menggeser esensi Idul Fitri sebagai momentum kembali kepada fitrah dan memperbaiki diri.

“Bukan berarti membeli baju baru itu dilarang. Tapi yang menjadi masalah ketika lebaran berubah menjadi ajang gengsi dan flexing,” tegasnya.

Dalam ceramahnya, ia turut mengingatkan firman Allah SWT tentang larangan berperilaku boros dan bermegah-megahan yang dapat melalaikan manusia dari tujuan hidup yang sesungguhnya.

Suasana haru semakin terasa ketika Edy Purwanto membagikan kisah sederhana tentang seorang ayah miskin yang tetap berusaha membahagiakan anaknya saat Idul Fitri. Meski hanya mampu membeli pakaian sederhana, sang anak tetap merasakan kebahagiaan karena kebersamaan yang tulus.

“Kadang yang membuat lebaran indah bukan kemewahan, tapi kebersamaan dan hati yang bersih,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengutip pesan ulama bahwa hakikat hari raya bukan terletak pada pakaian baru, melainkan pada meningkatnya ketakwaan seseorang setelah menjalani ibadah Ramadhan.

“Bukanlah hari raya itu bagi yang memakai pakaian baru, tapi bagi mereka yang bertambah ketakwaannya,” jelasnya.

Di akhir ceramah, Edy Purwanto mengajak jamaah untuk melakukan introspeksi diri, mengevaluasi kualitas ibadah selama Ramadhan, serta mempersiapkan diri kembali kepada Allah SWT dengan hati yang bersih.

Ia mengingatkan bahwa pada akhirnya manusia akan kembali ke liang kubur tanpa membawa harta benda, melainkan hanya amal ibadah sebagai bekal.

“Mari jangan sampai kita merayakan Idul Fitri dengan kemewahan, tetapi pulang kepada Allah dengan tangan kosong,” pungkasnya.

Ceramah tersebut ditutup dengan doa penuh harap agar seluruh amal ibadah selama Ramadhan diterima oleh Allah SWT, serta umat Islam dapat kembali kepada fitrah di hari kemenangan.

Momentum akhir Ramadhan ini pun menjadi pengingat kuat bagi jamaah untuk tidak sekadar merayakan Idul Fitri secara lahiriah, tetapi juga memaknai kemenangan sejati sebagai peningkatan iman dan ketakwaan.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Jelang Akhir Ramadan Ketua PCNU Kota Singkawang Ingatkan Jamaah Jangan Kehilangan Makna Idul Fitri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now