Banner Iklan

Hikmah di Balik Penundaan Kabar Gembira, Refleksi Ramadhan ke-22 (12 Maret 2026) dari Kacamata Bahasa dan Sastra Arab Dr. Nur Hasaniyah, S. Ag., M.A

Anis Hidayatie
13 Maret 2026 | 16.45 WIB Last Updated 2026-03-13T09:45:49Z



Hikmah di Balik Penundaan Kabar Gembira, Refleksi Ramadhan ke-22 (12 Maret 2026) dari Kacamata Bahasa dan Sastra Arab

Dr. Nur Hasaniyah, S. Ag., M.A

KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: وَإِذَا الْبَشَائِرُ لَمْ تَحِنْ أَوْقَاتُهَا

فَلِحِكْمَةٍ عِنْدَ الْإِلَهِ تَأَخَّرَتْ

“Apabila kabar gembira belum datang pada waktunya,

berarti ada hikmah dari Allah di balik penundaannya.”

Bait pembuka ini merupakan masterpiece dari sya’ir Saudi kontemporer Dr. Mājid ‘Abdullāh (penyair sekaligus ahli teknik perangkat lunak). Puisi lengkapnya yang indah berlanjut sebagai berikut:

سَيَسُوقُهَا فِي حِينِهَا فَاصْبِرْ لَهَا

حَتَّى وَإِنْ ضَاقَتْ عَلَيْكَ وَأَقْفَرَتْ

تَجْرِي دُمُوعُ الْيَأْسِ مِنْكِ وَرُبَّمَا

عِنْدَ الصَّبَاحِ تَرَى الْبَشَائِرَ أَنْوَرَتْ

فَغَدًا سَيَجْرِي دَمْعُ عَيْنِكَ فَرَحَةً

وَتَرَى السَّحَائِبَ بِالْأَمَانِي أَمْطَرَتْ

وَتَرَى ظُرُوفَ الْأَمْسِ صَارَتْ بَلْسَمًا

وَهِيَ الَّتِي أَعْيَتْكَ حِينَ تَعَسَّرَتْ

وَتَقُولُ سُبْحَانَ الَّذِي رَفَعَ الْبَلَا

مِنْ بَعْدِ أَنْ فُقِدَ الرَّجَاءُ تَيَسَّرَتْ

(Kelak Dia akan mendatangkannya pada waktunya, maka bersabarlah menghadapinya, meski terasa sempit dan gersang. Mungkin air mata putus asa mengalir darimu, tetapi di pagi hari engkau melihat bashā’ir itu bersinar terang. Besok air mata matamu akan mengalir karena bahagia, dan engkau melihat awan-awan menuangkan harapan. Engkau melihat kesulitan kemarin menjadi obat penawar, padahal dulu ia membuatmu letih. Lalu engkau berkata: Maha Suci Allah yang mengangkat bencana setelah hilangnya harapan, segalanya menjadi mudah.)

Dari sisi balaghah dan sastra Arab, bait ini luar biasa. Kata الْبَشَائِرُ (al-bashā’ir) bukan sekadar “kabar baik”, melainkan cahaya kegembiraan yang menyinari hati (mirip bushrā dalam QS. Maryam: 97 dan Yusuf: 19). Kata تَحِنْ mempersonifikasikan bashā’ir sebagai makhluk hidup yang “belum tiba masanya untuk lahir” — majāz yang elegan, mengingatkan gaya Al-Mutanabbī dan Abū al-‘Atāhiyah. Puncaknya adalah عِنْدَ الْإِلَهِ yang meletakkan segala hikmah di “Pada Allah” sendiri, bukan di tangan manusia, sehingga langsung membangkitkan tawakkul dan khushū’. Strukturnya ringkas, iramanya lembut, namun setiap kata seperti pedang yang lembut menusuk jiwa. Inilah i’jāz sastra Arab: sedikit kata, ribuan lapisan makna.

Di bulan Ramadhan yang kita jalani saat ini — Ramadhan ke-22 tahun 1447 H (12 Maret 2026) — hikmah ini bukan sekadar puisi, melainkan tafsir hidup yang paling nyata. Allah Ta'ala sengaja menunda “bashā’ir” terbesar Ramadhan, yaitu Lailatul Qadar, hingga sepuluh malam terakhir. Malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan itu (QS. Al-Qadr: 3) tidak diumumkan di awal bulan, melainkan disembunyikan. Mengapa?

Karena Allah ingin kita terus beribadah dengan penuh harap dan takut — bukan karena sudah “dapat jaminan”. Hikmah penundaan ini sama persis dengan syair di atas: penundaan bukan penolakan, melainkan kasih sayang yang lebih agung.

Sebagaimana firman-Nya:

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (QS. Al-Insyirāh: 6) — sesudah kesulitan ada kemudahan.

Allah sengaja mendahulukan “kesulitan” puasa, tarawih panjang, malam-malam yang letih, dan rasa rindu yang semakin membara, agar ketika Lailatul Qadar datang, hati kita benar-benar siap dan menghargainya dengan seutuhnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa mendirikan shalat malam di Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim).

Namun ampunan dan berkah itu sengaja ditunda, supaya kita tidak berhenti berusaha di malam ke-21, ke-23, ke-25, hingga ke-29. Inilah madrasah sabar Ramadhan yang paling indah.

Setiap kali doa kita seolah tertunda, rezeki belum kunjung datang, atau harapan hati masih jauh — ingatlah bait ini seperti kita mengingat adzan Maghrib di bulan suci. Allah sedang menyimpan bashā’ir yang lebih indah di balik tirai takdir-Nya, persis seperti Lailatul Qadar yang disembunyikan agar seluruh Ramadhan kita penuh dengan doa, tangis, dan qiyamul lail.

Maka di awakhir hari-hari Ramadhan yang penuh berkah ini, jangan pernah lelah. Tetaplah shalat malam, tetaplah bertadarrus, tetaplah bersedekah, tetaplah menangis di sujud terakhir. Karena mungkin saja, di malam yang tak terduga ini atau besok pagi, air mata putus asa kita akan berubah menjadi air mata bahagia, dan kita akan berkata seperti penutup syair Dr. Mājid ‘Abdullāh:

“Subḥānalladhī rafa’al-balā’ min ba’di an fuqida ar-rajā’u tayassarat.”

Maha Suci Allah yang mengangkat kesulitan setelah hilangnya harapan, lalu segalanya menjadi mudah.

Ramadhan Kareem, wahai jiwa yang sedang belajar sabar.

Semoga hikmah di balik setiap penundaan kita di bulan ini menjadi sebab Allah Ta'ala membukakan pintu bashā’ir-Nya yang paling agung — di dunia dengan Lailatul Qadar, dan di akhirat dengan ridha dan surga-Nya.

Mari kita terus sabar, terus berharap, dan terus berdoa. Karena penundaan Allah adalah janji keindahan yang sedang dipersiapkan dengan kasih sayang-Nya.

تقبل الله منا صالح الأعمال🤲🏻

#Ramadhan Karim wa Mubarak

#Ramadhan Zad ar Ruh


*Dosen Bahasa & Sastra Arab UJN MALIKI Malang.



Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Hikmah di Balik Penundaan Kabar Gembira, Refleksi Ramadhan ke-22 (12 Maret 2026) dari Kacamata Bahasa dan Sastra Arab Dr. Nur Hasaniyah, S. Ag., M.A

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now