Banner Iklan

Hidupkan Ruang Literasi Kota Malang, Amtara Institute Helat Talkshow Bertajuk Aktivis Di Era AI Soroti Perjuangan Mahasiswa di Tengah Kuasa Algoritma

M. Kholilur Rohman
09 Maret 2026 | 12.48 WIB Last Updated 2026-03-09T05:48:54Z

 

Foto: Dokumentasi bersama

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM - Amtara Institute resmi menggelar soft opening yang dikemas dalam kegiatan talk show dan buka bersama dengan tema “Aktivisme di Era AI: Mempertahankan Perjuangan Mahasiswa di Tengah Kuasa Algoritma”. Kegiatan yang berlangsung di Kampung Mahasiswa Dau, Kabupaten Malang ini dihadiri oleh berbagai organisasi mahasiswa dari Malang Raya pada 08 Maret 2026.

Sejumlah aktivis dari berbagai organisasi seperti PMII, HMI, GMNI, IMM, hingga perwakilan BEM Malang Raya turut hadir dalam forum diskusi tersebut. Acara ini menjadi ruang refleksi sekaligus dialog kritis mengenai tantangan gerakan sosial mahasiswa di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Moh. Ainul Yaqin selaku Project Leader menjelaskan bahwa kehadiran Amtara Institute diharapkan menjadi ruang kolaborasi lintas sektor yang mempertemukan gagasan sosial, pendidikan, politik, budaya, dan teknologi AI dalam satu ekosistem diskusi dan pengembangan kapasitas generasi muda.

“Amtara Institute merupakan komunitas yang bergerak dalam pengembangan isu sosial, pendidikan, politik, budaya, serta teknologi AI. Lembaga ini hadir sebagai ruang belajar bersama, diskusi kritis, dan kolaborasi bagi para aktivis serta generasi muda agar mampu merespons perkembangan zaman secara lebih adaptif dan berintegritas,” ujar Yaqin.

“Ia menjelaskan bahwa perkembangan AI telah mengubah cara produksi dan distribusi pengetahuan di masyarakat. Jika sebelumnya gerakan sosial lebih banyak berlangsung di ruang fisik dan lapangan, kini ruang digital menjadi arena baru yang turut mempengaruhi pembentukan opini publik.

“AI telah menggeser cara produksi dan distribusi pengetahuan. Ruang gerakan sosial kini tidak hanya berada di lapangan, tetapi juga di ruang digital yang dikendalikan oleh algoritma. Narasi dapat diperkuat oleh data, tapi juga berpotensi dimanipulasi oleh sistem teknologi,” jelasnya.

Menurutnya, dalam konteks tersebut para aktivis menghadapi tantangan baru, yakni bagaimana tetap menjaga kebenaran, integritas, serta nilai perjuangan di tengah arus informasi yang bergerak sangat cepat.

“Karena itu diperlukan ruang diskusi yang mampu membahas teknologi secara kritis sekaligus memperkuat kapasitas aktivis agar tetap adaptif tanpa kehilangan arah perjuangan,” tambahnya.

Diskusi menghadirkan dua narasumber dari perspektif berbeda. Narasumber pertama, Akhmad Farroh Hasan, M.Si., menyampaikan perspektif aktivisme dengan menekankan pentingnya menjaga idealisme dan kebenaran di tengah dominasi algoritma yang mempengaruhi arus informasi di ruang digital.

Foto: Sesi pemaparan materi

Sementara itu, narasumber kedua Muchammad Rudi Kurniawan dari kalangan pegiat teknologi AI mengangkat tema AI sebagai instrumen: peluang dan strategi untuk gerakan sosial. Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa teknologi AI tidak hanya menjadi tantangan, tapi juga dapat dimanfaatkan sebagai instrumen strategis untuk memperkuat gerakan sosial dan memperluas jangkauan advokasi.

Acara diskusi tersebut dipandu oleh Jennie Karmila Santi, Finalis Duta Pemudi Kebudayaan Nasional 2025, yang memoderatori jalannya diskusi secara interaktif antara pemateri dan peserta.

Dalam forum tersebut juga disoroti sejumlah urgensi penting bagi para aktivis di era digital. Di antaranya, aktivis tidak boleh tertinggal oleh perkembangan teknologi, karena AI memiliki potensi besar untuk memperkuat maupun memanipulasi opini publik. Oleh sebab itu, literasi digital dan kesadaran etis menjadi aspek penting dalam gerakan sosial kontemporer.

Melalui kegiatan ini, Amtara Institute berharap dapat mendorong lahirnya generasi aktivis yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, namun tetap teguh pada nilai kebenaran dan integritas perjuangan.

“Teknologi bukanlah ancaman bagi aktivis, melainkan instrumen yang harus dikuasai. Aktivis yang kuat adalah mereka yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, tetapi tetap berpijak pada kebenaran dan nurani dalam setiap langkah perjuangannya,” pungkas Yaqin.

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Hidupkan Ruang Literasi Kota Malang, Amtara Institute Helat Talkshow Bertajuk Aktivis Di Era AI Soroti Perjuangan Mahasiswa di Tengah Kuasa Algoritma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now