Senator Lia Istifhama Ungkap Strategi Pemerintah: Harga BBM Subsidi Tetap Stabil Meski Minyak Dunia Tembus 100 Dolar
SURABAYA| JATIMSATUNEWS.COM: Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi tetap stabil meski harga minyak dunia telah menembus angka di atas 100 dolar AS per barel. Kebijakan ini diambil sebagai langkah strategis untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus meredam potensi gejolak ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Anggota DPD RI, Lia Istifhama, menegaskan bahwa pemerintah memilih menyerap tekanan kenaikan harga energi melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sehingga dampaknya tidak langsung dirasakan masyarakat.
“Tidak (BBM tidak naik). Jadi kita absorb (serap) tekanan terhadap perekonomian di APBN. Kalau kita lepaskan, nanti kayak negara-negara lain pada panik orang-orang,” ujar Lia, Kamis (19/03).
Menurut Lia, mekanisme subsidi energi di Indonesia telah dirancang secara komprehensif dalam kerangka tahunan. Artinya, fluktuasi harga minyak global sebenarnya sudah diperhitungkan sejak awal dalam penyusunan APBN.
Ia menjelaskan, pemerintah telah mengantisipasi berbagai kemungkinan, termasuk lonjakan harga minyak dunia, sehingga kondisi fiskal negara tetap terkendali.
“Subsidi kita dihitung selama setahun penuh. Dengan harga sekarang pun kita sudah asumsikan dampaknya ke APBN. Kita akan melakukan langkah-langkah, entah penghematan atau peningkatan pendapatan supaya APBN tetap aman, dan sampai sekarang hitungannya masih aman,” jelasnya.
Lebih lanjut, Lia mengungkapkan bahwa pemerintah tidak hanya mengandalkan subsidi, tetapi juga menyiapkan strategi tambahan untuk menjaga kesehatan fiskal negara. Upaya tersebut meliputi efisiensi belanja negara serta optimalisasi sumber-sumber pendapatan.
Kebijakan ini dinilai penting agar APBN tetap kuat sebagai penyangga ekonomi nasional tanpa harus membebani masyarakat dengan kenaikan harga BBM di tengah tekanan global.
Lia juga menekankan bahwa APBN memiliki fungsi penting sebagai peredam gejolak (shock absorber). Jika kenaikan harga energi langsung dibebankan kepada masyarakat, hal tersebut berpotensi memicu kepanikan seperti yang terjadi di sejumlah negara lain.
“APBN itu meng-absorb shock seperti ini, sehingga masyarakat masih bisa menjalankan bisnis dan aktivitasnya tanpa beban berlebihan. Ini yang kadang dilupakan,” tegasnya.
Dengan langkah ini, pemerintah berharap aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan normal, sekaligus menjaga stabilitas nasional di tengah dinamika harga energi global yang terus berfluktuasi.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?