Banner Iklan

Dosen Kimia UB Tembus “117 Inovasi Indonesia 2025”, Teknologi ELISA untuk Deteksi Dini Hipotiroid Kongenital

Anis Hidayatie
04 Maret 2026 | 21.51 WIB Last Updated 2026-03-04T14:52:05Z


 Dosen Kimia UB Tembus “117 Inovasi Indonesia 2025”

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Prestasi membanggakan kembali ditorehkan akademisi Universitas Brawijaya (UB). Tim peneliti UB berhasil mencatatkan karyanya dalam program “117 Inovasi Indonesia 2025” yang diselenggarakan oleh Business Innovation Center (BIC). Inovasi yang diusung mengangkat teknologi deteksi dini hipotiroid kongenital berbasis metode ELISA yang dinilai memiliki potensi besar dalam mendukung skrining kesehatan bayi di Indonesia.

Inovasi tersebut berjudul “Deteksi Dini Hipotiroid Kongenital (HK) Berbasis Antibodi Poliklonal Hasil Induksi Protein Rekombinan human Thyroid Stimulating Hormone (hTSH) dengan Metode ELISA.” Penelitian ini bertujuan mengembangkan metode deteksi yang lebih sensitif dan spesifik terhadap hipotiroid kongenital, yakni gangguan hormon tiroid sejak lahir yang dapat menyebabkan keterlambatan pertumbuhan fisik maupun perkembangan intelektual apabila tidak terdiagnosis secara dini.

Tim peneliti multidisiplin yang mengembangkan inovasi ini terdiri dari Prof. Dr. Aulanni’am, drh., DES; Dr. Dyah Kinasih Wuragil, S.Si., MP., M.Sc; Prof. Dr. dr. Achmad Rudijanto, Sp.PD-KEMD; dr. Rulli Rosandi, Sp.PD-KEMD; dr. Andreas Budi Wijaya, M.Biomed, Sp.A; Almas Dwi Khairana, S.Si., M.Si; Wibi Riawan, S.Si., M.Biomed; Dr. rer.pol. Romy Hermawan, S.Sos., M.AP; Prof. Akhmad Sabarudin, S.Si., M.Sc., Dr.Sc; Muhammad Fikri Nur, S.Si; Assoc. Prof. Anna Safitri, S.Si., M.Sc., Ph.D; serta Dr. dr. Zulkarnain, M.Sc., AIFO-K.

Program “117 Inovasi Indonesia 2025” sendiri merupakan agenda tahunan BIC untuk menjaring dan mengapresiasi inovasi unggulan dari peneliti, akademisi, industri, hingga praktisi di Tanah Air. Pada tahun ini, proses seleksi dilakukan melalui dua tahapan penilaian secara daring sepanjang Januari 2026, dengan setiap proposal dievaluasi oleh tiga juri independen.

Dari total 182 proposal inovasi yang diajukan sepanjang 2025, sebanyak 55 proposal lolos ke tahap seleksi lanjutan. Setelah melalui penilaian akhir yang ketat, 51 proposal resmi ditetapkan sebagai inovasi terpilih dalam “117 Inovasi Indonesia 2025”, termasuk karya tim peneliti UB tersebut.

Prof. Dr. Aulanni’am menjelaskan, inovasi ini berfokus pada pengembangan sistem deteksi berbasis antibodi poliklonal yang dihasilkan melalui induksi protein rekombinan human Thyroid Stimulating Hormone (hTSH). Antibodi tersebut kemudian diaplikasikan dalam sistem analisis Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) untuk mendeteksi biomarker gangguan hormon tiroid pada bayi secara lebih akurat.

“Hipotiroid kongenital merupakan salah satu gangguan endokrin yang harus dideteksi sedini mungkin karena berdampak besar terhadap perkembangan fisik dan kognitif anak. Melalui inovasi ini, kami berupaya menghadirkan metode deteksi yang lebih presisi dan berpotensi memperkuat program skrining kesehatan bayi di Indonesia,” jelasnya.

Ia menambahkan, pengembangan teknologi berbasis protein rekombinan ini diharapkan menjadi pijakan awal menuju produksi kit diagnostik biomedis hasil riset dalam negeri yang lebih terjangkau dan dapat diterapkan secara luas di berbagai fasilitas layanan kesehatan.

Sementara itu, Ketua Departemen Kimia UB, Assoc. Prof. Anna Safitri, S.Si., M.Sc., Ph.D, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini menjadi bukti nyata kuatnya kolaborasi riset lintas disiplin di lingkungan UB.

“Riset di Departemen Kimia tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu dasar, tetapi juga mampu menghasilkan inovasi yang berdampak langsung di bidang kesehatan. Kami berharap inovasi ini dapat terus dikembangkan hingga tahap hilirisasi sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Masuknya inovasi ini dalam daftar “117 Inovasi Indonesia 2025” semakin mempertegas peran Universitas Brawijaya sebagai perguruan tinggi yang konsisten melahirkan inovasi berbasis riset. Tak hanya memperkaya khazanah keilmuan, inovasi ini juga menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem inovasi nasional di bidang kesehatan dan teknologi, sekaligus menjawab kebutuhan nyata masyarakat akan deteksi dini penyakit sejak usia bayi.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dosen Kimia UB Tembus “117 Inovasi Indonesia 2025”, Teknologi ELISA untuk Deteksi Dini Hipotiroid Kongenital

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now