PASURUAN | JATIMSATUNEWS.COM
Pasuruan – Perjuangan luar biasa antara hidup dan mati dialami oleh seorang guru ngaji sekaligus pengajar taman kanak-kanak, Ustadzah Saidah (39), warga RT 005 RW 002 Kelurahan Bugul Kidul, Kecamatan Bugul Kidul, Kota Pasuruan.
Perempuan yang dikenal aktif mengajar di TK Plus Qiraati Nurul Qur’an serta TPQ Al Hikam metode Qiro’ati yang beralamat di Jalan Nanas V No 11 Blok 1.3 ini harus menghadapi ujian berat berupa penyakit serius yang nyaris merenggut nyawanya.
Kejadian bermula pada Senin sore, 16 Maret 2026. Saat itu, Ustadzah Saidah merasakan sakit luar biasa berupa kram hebat di bagian perut. Rasa sakit yang tak tertahankan membuat kondisi tubuhnya melemah hingga akhirnya tidak sadarkan diri.
Keluarga Suami Serta Adik sepupu juga adik kandung yang mengetahui kondisi tersebut segera meminta bantuan. Tim PSC (Public Safety Center) Dinas Kesehatan Kota Pasuruan dengan layanan darurat 119 langsung bergerak cepat menjemput pasien menggunakan ambulans.
Setibanya di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. R. Soedarsono Kota Pasuruan, pasien langsung mendapatkan penanganan intensif dari tim medis. Mulai dari dokter, perawat pelaksana, dokter residen/koas, petugas pendaftaran, porter hingga kasir IGD bekerja sigap dalam menangani kondisi darurat tersebut.
Setelah dilakukan pemeriksaan USG, diketahui bahwa Ustadzah Saidah mengalami kehamilan ektopik atau hamil di luar kandungan. Kondisi ini merupakan kejadian kedua yang dialaminya sejak tahun 2024.
Melihat kondisi yang sangat berbahaya, tim medis memutuskan untuk segera melakukan tindakan operasi darurat. Menjelang waktu berbuka puasa, tepatnya pukul 17.45 WIB, pasien sudah berada di dalam ruang operasi untuk menjalani tindakan bedah.
Operasi dilakukan oleh tim dokter spesialis kandungan, yaitu dr. Yanti bersama dr. Eka Nasrur Maulana, Sp.OG, sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) medis yang berlaku.
Dalam proses operasi, kondisi pasien diketahui sangat kritis. Ia mengalami pendarahan hebat hingga kehilangan kurang lebih 3 liter darah di dalam tubuhnya. Untuk menyelamatkan nyawanya, tim medis melakukan transfusi darah sebanyak 6 kantong dengan golongan darah A+ dengan isi masing-masing sekitar 350 ml.
Situasi tersebut membuat kondisi pasien berada di titik yang sangat mengkhawatirkan. Bahkan secara medis, kondisi tersebut tergolong fatal dan membutuhkan penanganan cepat serta tepat.
Di tengah kondisi tidak sadarkan diri akibat pembiusan total, Ustadzah Saidah mengaku mengalami kejadian yang sulit dijelaskan secara logika. Ia merasa seperti berada di ambang kehidupan dan kematian.
Dalam pengakuannya, ia melihat sosok seorang anak kecil berpakaian putih layaknya anak PAUD yang melantunkan kalimat dzikir “Walhamdulillah, wala ilaha illallah, wallahu akbar” yang berarti “Segala puji bagi Allah, tiada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar”. Selain itu, ia juga mengaku melihat sosok ayahnya yang telah meninggal berada di sampingnya.
Meski menyaksikan kejadian tersebut dengan jelas, ia tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun, seolah berada dalam kondisi antara sadar dan tidak, seperti ajal yang sudah di depan mata.
Pasca operasi, kondisi pasien berangsur membaik. Pada Kamis, 19 Maret 2026, sebelum diperbolehkan pulang, dr. Eka Nasrur Maulana, Sp.OG memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga terkait kondisi kehamilan ektopik yang dialami.
Menurutnya, kehamilan ektopik merupakan kondisi yang sangat berbahaya karena dapat menyebabkan pendarahan hebat dan mengancam nyawa ibu. Ia juga menyampaikan bahwa kasus dengan kondisi sekritis ini jarang terjadi dan tidak semua rumah sakit mampu menanganinya secara optimal.
“Dalam kondisi seperti ini, biasanya pasien dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar seperti RS Saiful Anwar Malang. Namun, RSUD dr. R. Soedarsono Kota Pasuruan mampu menangani dengan baik, termasuk dalam penyediaan kantong darah melalui kerja sama dengan PMI,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi ketahanan pasien yang dinilai luar biasa karena mampu melewati masa kritis dalam waktu relatif singkat.
Lebih lanjut, dr. Eka memberikan harapan kepada pasangan suami istri tersebut agar tetap semangat dan tidak putus asa. Ia menyarankan apabila ingin memiliki keturunan kembali, dapat dilakukan melalui program kehamilan yang terencana dengan baik tanpa harus langsung menempuh program bayi tabung.
“Kesempatan masih ada. Yang penting tetap yakin dan berusaha,” pesannya.
Kini, Ustadzah Saidah telah melewati masa kritis dan mendapatkan kesempatan kedua dalam hidupnya. Peristiwa ini menjadi bukti nyata pentingnya penanganan medis yang cepat, dukungan keluarga, serta kekuatan doa dalam menghadapi ujian kehidupan.
Semangat dan harapan pun terus mengalir untuk Ustadzah Saidah dan keluarga, agar ke depan dapat kembali menjalani kehidupan dengan sehat serta meraih kebahagiaan yang diimpikan.(SM)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?