![]() |
| Anggota DPD RI Jatim, Lia Istifhama turut menanggapi isu viral LPDP, ia bersyukur dengan pengalaman pendidikannya hingga S3 di dalam negeri dan dengan biaya terjangkau./dok. Istimewa |
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota DPD RI Jawa Timur, Lia Istifhama menganggap pendidikan tinggi yang pernah dijalani hingga S3 di dalam negeri tetap menjadi berkah dan tanpa gengsi.
Ia pun bersyukur bahwa pendidikan tingginya ditempuh dengan biaya relatif terjangkau dibanding biaya yang diterima mahasiswa penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Pernyataan Senator Lia tentang pengalaman kuliahnya hingga S3 ini disampaikan untuk menanggapi viralnya kontroversi pernyataan dari lulusan beasiswa LPDP di luar negeri.
Warganet di media sosial tidak hanya fokus pada pernyataan kontroversial dari alumnus tersebut, tetapi juga menyoroti besarnya anggaran pendidikan bagi penerima beasiswa LPDP yang mencapai miliaran rupiah.
Menanggapi hal tersebut, Anggota DPD RI periode 2024-2029, Lia Istifhama, menyampaikan refleksi pribadinya tentang perjalanan akademik yang ditempuh dengan biaya relatif terjangkau di dalam negeri.
"Alhamdulillah, saya dari S1 sampai S3 tidak membutuhkan biaya besar. Bahkan bisa dibilang jutaan saja dari dana pribadi. Yang saya rasakan adalah berkahnya, bukan gengsinya," tutur Lia di Surabaya (25/2).
Senator yang akrab disapa Ning Lia ini mengilas balik pengalaman kuliahnya. Dimulai dengan menempuh S1 di IAIN Sunan Ampel Surabaya, Universitas Airlangga (Unair), dan STID Taruna Surabaya.
Dengan berkuliah di tiga perguruan tinggi sekaligus, biaya kuliahnya per semester tidak sampai Rp 1,5 juta. Di IAIN sekitar Rp 450 ribu, Unair sekitar Rp 750 ribu, dan STID Taruna sekitar Rp 200 ribu.
"Totalnya waktu itu tidak sampai satu setengah juta per semester. Bahkan saat skripsi, saya bekerja untuk membiayai kuliah sendiri," beber politisi 42 tahun tersebut.
Lanjut ke jenjang magister (S2), ia menempuhnya dengan beasiswa studi dalam negeri, sehingga tidak mengeluarkan biaya pribadi.
Lalu saat S3, ia memperoleh bantuan Beasiswa Pendidikan Pascasarjana (BPP) selama satu tahun, meskipun tetap ada dana pribadi yang digunakan hingga belasan juta rupiah. Jika ditotal, ia mengaku, dana pribadi yang dikeluarkan hingga doktoral sekitar Rp 30 juta.
Bagi Lia, pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan tinggi tidak selalu identik dengan biaya mahal atau studi di luar negeri.
Penulis buku 'Before After Tsunami Aceh: Trilogi dan Tragedi (2005)' ini menekankan pentingnya membangun kualitas sumber daya manusia tanpa terjebak pada gengsi akademik.
"Banyak tokoh nasional lahir dari kampus-kampus dalam negeri. Jadi, pendidikan itu soal kesungguhan, integritas, dan kontribusi setelah lulus. Bukan sekadar mahalnya biaya," imbuhnya.
Menurut pelantun lagu 'Cinta Tani (2022)' ini, penguatan perguruan tinggi dalam negeri juga perlu terus dilakukan agar standarnya makin kompetitif dan menjadi pilihan utama generasi muda Indonesia.
Ia pun berharap kebijakan pendidikan tetap berorientasi pada pemerataan manfaat serta efektivitas penggunaan anggaran, alih-alih sekadar meningkatkan jumlah anggarannya.
"Yang utama adalah keberkahan ilmunya dan manfaatnya bagi masyarakat. Juga tanpa gengsi, tapi berdampak," tandasnya. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?