![]() |
| Menanggapi isu viral LPDP, Anggota DPD RI Jatim, Lia Istifhama turut mengenang masa pendidikan hingga S3 yang ditempuh di dalam negeri dan dengan biaya terjangkau./dok. Istimewa |
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota DPD RI Jawa Timur, Lia Istifhama juga mengikuti kabar yang viral di media sosial baru-baru ini, yakni tentang kontroversi penerima beasiswa LPDP yang menetap di luar negeri.
Selain ucapan kontroversial dari lulusan LPDP tersebut, sorotan publik juga mengarah pada besarnya biaya pendidikan yang diterima oleh mahasiswa awardee LPDP.
Bahkan, jika menilik pada panduan LPDP 2023 dari Kementerian Keuangan RI (Kemenkeu), total dana yang diterima mahasiswa LPDP mencapai miliaran rupiah.
Sebagai salah seorang pemerhati sosial, peristiwa tersebut tak luput dari sorotan Dr. Lia Istifhama.
Senator alumnus Universitas Airlangga ini menjadikan momen viral tersebut untuk merefleksikan pengalaman pribadinya ketika menempuh pendidikan tinggi di dalam negeri dengan biaya yang relatif terjangkau.
"Kalau saya menghitung dari S1 sampai S3, dana pribadi yang saya keluarkan mungkin sekitar Rp 30 juta. Bahkan S1 dulu per semester tidak sampai Rp 1,5 juta. Alhamdulillah, biaya kuliah saya jutaan saja," ungkap Lia di Surabaya, Rabu (25/2).
Lia membeberkan saat menempuh S1 di IAIN Sunan Ampel Surabaya, Universitas Airlangga (Unair), dan STID Taruna Surabaya, biaya kuliahnya relatif ringan.
Di IAIN sekitar Rp 450 ribu per semester, Unair sekitar Rp 750 ribu, dan STID Taruna sekitar Rp 200 ribu.
"Intinya tidak sampai satu setengah juta per semester waktu itu. Bahkan saat skripsi, saya bekerja untuk membiayai kuliah sendiri," beber Ning Lia, sapaannya.
Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke jenjang magister (S2). Pada tahap ini, Lia memperoleh beasiswa studi dalam negeri sehingga tidak mengeluarkan biaya pribadi.
Lalu, saat menempuh S3, ia mendapatkan bantuan Beasiswa Pendidikan Pascasarjana (BPP) selama satu tahun, meskipun tetap ada dana pribadi yang dikeluarkan hingga belasan juta rupiah.
Menurut Lia, pengalamannya tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan tidak harus mahal dan tidak selalu identik dengan studi luar negeri.
"Pendidikan itu tidak perlu gengsi. Yang penting keberkahan dan kesungguhan. Banyak alumni perguruan tinggi dalam negeri yang menjadi tokoh nasional dan berkontribusi besar untuk bangsa," tuturnya.
Peraih 2.739.123 suara dalam pemilihan umum legislatif 2024 ini menambahkan, kebijakan pembiayaan pendidikan perlu mempertimbangkan efektivitas serta pemerataan manfaat.
Penguatan perguruan tinggi dalam negeri, menurutnya, harus menjadi prioritas agar standarnya makin kompetitif dan menjadi pilihan utama generasi muda.
"Kalau tujuannya membangun negeri, yang utama adalah integritas dan pengabdian, bukan sekadar mahalnya biaya atau lokasi studi," tegasnya. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?