Salah satu kegiatan Siswa SMA bernuansa religius, Baksos, mencintai masjid.
ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Menulis esai religi adalah proses berpikir jujur sekaligus berani untuk merefleksikan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan dirinya sendiri. Esai religi tidak lahir dari ceramah atau hafalan dalil semata, tetapi dari pengalaman batin, kesadaran spiritual, serta perenungan atas peristiwa hidup sehari-hari.
Bagi siswa SMA, menulis esai religi menjadi ruang aman untuk bertanya, merenung, dan menemukan makna ajaran agama dalam kehidupan nyata. Tulisan ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menginspirasi—baik penulisnya maupun pembacanya.
Esai Religi sebagai Media Refleksi Diri
Di tengah perkembangan zaman, derasnya arus informasi, serta perubahan gaya hidup remaja, nilai-nilai religius sering kali terpinggirkan. Ibadah menjadi rutinitas, adab kepada guru dan orang tua mulai longgar, dan kepedulian sosial melemah.
Esai religi hadir sebagai media refleksi diri. Melalui tulisan, siswa diajak berhenti sejenak, berpikir jujur, lalu bertanya:
Sudah sejauh mana saya menjalankan perintah agama dengan kesadaran?
Pengalaman apa yang membuat saya merasa dekat atau justru jauh dari Tuhan?
Nilai kebaikan apa yang pernah saya abaikan, dan ingin saya perbaiki?
Menulis menjadi jalan untuk menyentuh aspek kognitif, afektif, dan spiritual sekaligus.
Pengalaman Personal sebagai Sumber Utama
Esai religi bersumber dari pengalaman personal. Pengalaman itu bisa sederhana, tetapi bermakna, seperti:
Perasaan bersalah saat menunda ibadah.
Kesadaran setelah melihat ketulusan orang tua berjuang untuk anaknya.
Pengalaman membantu teman yang sedang kesulitan.
Kegagalan, kehilangan, atau doa yang akhirnya terjawab.
Patah hati lalu sadar bahwa dia tak layak mendapatkan cinta sejati.
Allah maha pencemburu jika kau terlalu cinta, maka kehilangan dan putus hubungan akan terasa sakit sekali. Mencintailah hanya untuk makhluk paling mulia berbalas surga, mencintai Muhammad SAW. Saya sudah merasakan itu. Tidak percaya? Buktikan saja.
Pilih satu pengalaman yang paling membekas—yang membuat tersadar, ingin mengulang kebaikan itu, atau justru tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Kita tidak menulis semuanya.
Kita memilih sesuatu.
Bahasa yang Sederhana dan Membumi
Esai religi tidak ditulis dengan bahasa yang berat dan menggurui. Justru sebaliknya, esai yang baik menggunakan bahasa sederhana agar pesan agama terasa dekat dan hidup.
Gunakan:
Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Kalimat pendek, jelas, dan tidak berbelit-belit.
Hindari gaya bahasa terlalu formal dan ilmiah.
Minimalkan istilah asing jika ada padanan dalam bahasa Indonesia.
Agama akan lebih mudah diterima ketika disampaikan dengan bahasa yang ramah.
Esai Religi Bukan untuk Terlihat Saleh
Esai religi tidak dibuat untuk menunjukkan siapa yang paling taat atau paling paham agama. Esai ini bukan panggung kesalehan, melainkan ruang kejujuran.
Esai religi memberi rasa hidup yang bermakna—tentang jatuh bangun iman, tentang belajar menjadi lebih baik, dan tentang harapan untuk berubah. Di dalamnya terdapat perpaduan antara sastra dan jurnalistik, antara subjektivitas pengalaman pribadi dan objektivitas nilai-nilai kebaikan universal.
Contoh:
Membersihkan Masjid, Membersihkan hati
Mengawali hari-hari sebagai siswa baru dengan seragam putih abu-abu, aku diajak membersihkan masjid oleh guru agama kami, Pak Zain dan Pak Saifudin. Sebuah pengalaman pertama yang tidak pernah kulupakan sejak menjadi siswa di SMAN 1 Ngantang.
Tidak ada yang istimewa dari kegiatan bersih-bersih itu. Kami hanya menyapu lantai, mengepel, merapikan sajadah, dan memastikan sudut-sudut masjid terlihat bersih seperti biasanya. Tidak ada ceramah panjang, tidak pula arahan yang berlebihan. Kami bekerja dalam diam, ditemani suara sapu yang bergesekan dengan lantai.
Namun, ada satu hal yang terasa berbeda di dalam hatiku. Aku menikmati melihat hasil kerja kami bersama. Masjid yang semula biasa saja kini tampak lebih bersih dan indah. Ada rasa puas yang sederhana, rasa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Di masjid inilah orang-orang bersujud. Tempat di mana semua jabatan dunia ditanggalkan. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih rendah. Yang ada hanyalah manusia dan Tuhannya. Kesombongan luluh, keakuan runtuh, semua kembali kepada Ilahi.
Kesadaran itu mendorongku untuk ikut melaksanakan salat tahiyatul masjid. Saat sujud terakhir, tanpa kusadari air mataku jatuh. Di masjid yang telah kami bersihkan bersama ini, hatiku terasa lega. Tidak ada lagi perasaan sakit hati, tidak suka pada sesiapa atau jengkel pada sesuatu, tidak ada ganjalan yang selama ini mungkin tanpa sadar kusimpan.
Tiba-tiba aku merasa begitu kecil. Allah-lah pemilik segalanya. Masjid yang bersih ini seolah menjadi saksi bahwa hatiku pun sedang dibersihkan. Di tempat suci ini, aku belajar bahwa membersihkan masjid bukan hanya tentang lantai dan sajadah, tetapi juga tentang membersihkan hati.
Di sanalah aku mengerti, kadang Allah menegur kita bukan lewat kata-kata, melainkan lewat pengalaman sederhana yang menyentuh jiwa.
Panjang Tulisan dan Karakter Esai
Esai religi ditulis secara ringkas dan padat, dengan panjang sekitar 5.000 hingga 10.000 karakter. Meski singkat, esai harus utuh, bercerita, dan meninggalkan pesan.
Ciri esai religi yang baik:
Memberi dan memperkaya pemahaman pembaca tentang nilai kebaikan.
Memantulkan wajah kejujuran penulisnya.
Ditulis ringkas dan fokus.
Mengalir sebagai cerita, bukan khotbah.
Perihal Judul
Judul esai religi bersifat fleksibel dan kreatif, misalnya:
Satu kata (Ikhlas, Doa, Sabar)
Kalimat tanya (Mengapa Aku Masih Menunda Ibadah?)
Kutipan reflektif (Ketika Doa Tak Langsung Dijawab)
Judul tidak harus menjelaskan isi secara lengkap, cukup mengundang pembaca untuk masuk.
Menulis Esai Religi dalam Konteks Pendidikan
Dalam konteks pendidikan, pelatihan menulis esai religi sejalan dengan upaya pembentukan karakter dan spiritualitas peserta didik. Pendekatan deep learning memberi ruang bagi siswa untuk menggali nilai-nilai agama secara kontekstual dan kreatif, bukan sekadar normatif.
Menulis esai religi melatih:
Daya pikir kritis,
Kepekaan nurani,
Kemampuan mengekspresikan nilai kebaikan melalui tulisan.
Lebih dari itu, kegiatan ini mendokumentasikan suara batin siswa dalam bentuk karya nyata yang dapat dibukukan dan menjadi referensi bagi banyak orang.
Esai religi adalah tulisan yang mencerahkan. Ia menyalakan kesadaran, menumbuhkan semangat beribadah, dan membangun karakter yang santun, peduli, serta bertanggung jawab.
Dengan menulis, siswa belajar mengenal dirinya, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan menebarkan nilai kebaikan melalui kata-kata.
Maka, mari menulis esai religi—
agar iman tidak hanya terasa di hati,
tetapi juga hidup dalam tindakan dan tulisan.
Anis Hidayatie



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?