Banner Iklan

Khidmah yang Tergelincir

Anis Hidayatie
23 Februari 2026 | 19.51 WIB Last Updated 2026-02-23T12:51:38Z


 Khidmah yang Tergelincir

Esai: Oleh: Saiful Anam

ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Di dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU), khidmah bukan sekadar aktivitas organisasi. Ia adalah jalan pengabdian yang bertumpu pada keikhlasan, adab, dan kesadaran bahwa perjuangan tidak selalu harus disaksikan banyak orang. Khidmah adalah kerja sunyi yang manfaatnya dirasakan umat, meski pelakunya sering tidak disebut.

Karena itu, NU tidak hanya besar karena jumlah anggotanya, tetapi karena kekuatan nilai yang diwariskan para ulama: tawadhu, musyawarah, serta keberpihakan pada kepentingan masyarakat luas. NU tumbuh sebagai rumah besar yang tidak dibangun oleh satu golongan, melainkan oleh kerja kolektif yang panjang.

Namun dalam perjalanan organisasi sebesar NU, selalu ada ujian yang mengintai. 

Ujian itu bukan semata datang dari luar, melainkan juga dari dalam: ketika semangat khidmah mulai menyempit dan berubah arah, dari pengabdian untuk jamaah menjadi pengabdian untuk kepentingan kelompok.

Fenomena ini sering tidak terlihat jelas. Ia datang secara perlahan dan halus. Bahkan terkadang dibungkus dengan bahasa perjuangan yang terdengar mulia. Banyak orang tampak aktif, tampak berjuang, tampak berdiri paling depan, seolah-olah sedang membela NU dan Pagar Nusa. Tetapi dalam kenyataan, tidak sedikit yang sejatinya sedang membela kepentingan golongannya sendiri.

Di titik inilah khidmah dapat tergelincir.

Ketika Nafsu Menyamar sebagai Perjuangan

Salah satu hal yang paling rumit dalam dinamika organisasi adalah ketika nafsu menyamar dengan pakaian pengabdian. Ia tidak datang dengan wajah kasar. Ia justru hadir dengan kalimat yang indah: “demi organisasi”, “demi marwah”, “demi NU”, atau “demi Pagar Nusa”.

Namun, jika ditelusuri lebih dalam, semangat itu kadang hanya menjadi selimut bagi ambisi yang lebih sempit: pengaruh, dominasi, jabatan, atau gengsi kelompok.

Ketika ini terjadi, organisasi tidak lagi dipahami sebagai rumah bersama, melainkan sebagai arena kompetisi. Perjuangan tidak lagi menjadi ibadah sosial, melainkan strategi. Musyawarah tidak lagi menjadi jalan mencari maslahat, tetapi sekadar panggung untuk mengalahkan pihak lain.

Yang lebih berbahaya, konflik internal semacam ini sering dibungkus seolah-olah sebagai “pembelaan terhadap organisasi”, padahal sesungguhnya adalah perebutan ruang dan legitimasi.

Jika dibiarkan, cara berpikir ini akan mengubah budaya organisasi. Dari budaya khidmah menjadi budaya klik. Dari budaya persaudaraan menjadi budaya kubu. Dari budaya adab menjadi budaya saling menjatuhkan.

Pagar Nusa dan Ujian Kesatria

Sebagai bagian dari keluarga besar NU, Pagar Nusa memiliki posisi yang penting. Ia bukan hanya organisasi pencak silat, tetapi juga ruang pendidikan karakter: disiplin, loyalitas, kesetiaan pada ulama, dan semangat kebangsaan.

Namun, Pagar Nusa juga menghadapi ujian yang sama. Dalam pencak silat, kesatria bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga soal kekuatan batin. Kesatria bukan hanya mampu mengalahkan lawan, tetapi mampu menundukkan ego.

Ketika Pagar Nusa dipakai untuk kepentingan kelompok tertentu, maka nilai kesatria itu mulai luntur. 

Barisan yang seharusnya menjadi perekat solidaritas justru berpotensi menjadi sumber perpecahan. Organisasi yang seharusnya membentuk akhlak malah berubah menjadi alat kompetisi internal.

Padahal, kekuatan NU dan Pagar Nusa bukan terletak pada siapa yang paling keras suaranya, melainkan pada siapa yang paling mampu menjaga persaudaraan.

Khidmah yang Parsial adalah Ancaman Sunyi

Khidmah yang parsial selalu melahirkan cara pandang yang sempit. Ukuran kebenaran bukan lagi maslahat jamaah, melainkan loyalitas kelompok. Ukuran perjuangan bukan lagi manfaat bagi umat, tetapi kemenangan internal.

Di sinilah NU perlu waspada. Sebab organisasi besar tidak selalu runtuh oleh serangan dari luar. Banyak organisasi justru melemah karena konflik internal yang terus dibiarkan, karena ego yang tumbuh tanpa kendali, serta karena kepentingan sempit yang terus dipelihara.

Jika khidmah tidak dijaga, maka perjuangan yang seharusnya luas bisa berubah menjadi menyesatkan. Bukan karena niat awalnya buruk, tetapi karena orientasinya bergeser. Pengabdian yang semestinya untuk umat berubah menjadi alat untuk kepentingan segelintir orang.

Mengembalikan Khidmah pada Makna Aslinya

Karena itu, perhatian khusus harus diberikan agar khidmah tidak kehilangan ruhnya. Khidmah harus kembali pada makna aslinya: mengutamakan jamaah, menjaga persatuan, serta menempatkan organisasi sebagai rumah bersama.

Dalam tradisi NU, setiap perjuangan selalu dimulai dari muhasabah: meluruskan niat sebelum melangkah. Sebab niat adalah inti. Jika niat lurus, maka perjuangan menjadi berkah. Jika niat bengkok, maka perjuangan berubah menjadi beban.

NU terlalu besar untuk dijadikan alat kepentingan sempit. Pagar Nusa terlalu mulia untuk dijadikan panggung ego. Organisasi ini lahir dari pengorbanan para ulama, bukan dari ambisi golongan.

Penutup

Khidmah yang sejati tidak membutuhkan sorotan. Ia bekerja dalam diam, tetapi membangun kekuatan yang nyata. Ia tidak memecah, tetapi menyatukan. Ia tidak mengutamakan kelompok, tetapi mengutamakan umat.

Karena itu, khidmah harus tetap luas. Jangan sampai pengabdian yang seharusnya menjadi jalan keberkahan justru menyempit, menjadi parsial, dan pada akhirnya menyesatkan.

NU dan Pagar Nusa hanya akan tetap kuat jika nilai dasarnya dijaga: adab, persaudaraan, dan keikhlasan.

Dan di situlah khidmah menemukan martabatnya yang paling tinggi.


*Rofi'i


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Khidmah yang Tergelincir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now