![]() |
| Kyai Aly Mas'adi sedang membacakan hadits musalsal |
Acara yang berlangsung khidmat di AULA Graha Ansor dan dimulai mulai pukul 19.00 hingga 1.30 dini hari ini menjadi magnet bagi para kader dan santri untuk meraih Ijazah Hadis Musalsal, sebuah rantai transmisi keilmuan yang menjaga keotentikan ajaran Islam hingga bersambung langsung kepada Baginda Nabi Muhammad SAW.
Filosofi Cinta dan Kasih Sayang
Dalam tausiyahnya, KH. Aly Mas'adi memberikan ijazah ‘Δmmah melalui dua hadis monumental: Hadis Musalsal Bil Awwaliyah (hadis tentang kasih sayang) dan Hadis Musalsal Bil Mahabbah (hadis tentang cinta).
Kiai Aly menjelaskan bahwa pemilihan kedua hadis ini bukan tanpa alasan. "Esensi utama pengutusan Nabi adalah rahmah (kasih sayang). Seorang murid harus memantaskan diri menjadi pewaris Nabi dengan menanamkan sifat ini dalam sanubari sebelum menyebarkannya ke seluruh dunia," tuturnya.
Beliau juga membedah sosok sahabat Muadz bin Jabal sebagai role model. Melalui Hadis Musalsal Bil Mahabbah, umat diajarkan sunnah untuk mengungkapkan kecintaan kepada sesama, sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Muadz, "Wahai Muadz, sesungguhnya aku mencintaimu."
Ansor Sebagai Navigator Ilmu
Ketua PW GP Ansor Jawa Timur masa khidmat 2024-2028, H. Musaffa Safril, S.H., M.H., dalam sambutannya menegaskan bahwa Ansor Jatim harus menjadi navigator yang aktif dan membumi.
"Giat ini membuktikan bahwa kami tidak hanya menjaga amanah para kiai dan muasis NU secara organisatoris, tapi juga peduli pada tradisi ilmu. Kami ingin menunjukkan bahwa generasi muda NU adalah penjaga sunnah Rasulullah yang kredibel," tegas Safril.
Senada dengan itu, Dr. Abdulloh Hamid, M.Pd., Ketua Bidang Pendidikan dan Pengembangan SDM PW GP Ansor Jatim sekaligus pemimpin Ansor University, menyoroti pentingnya sanad di era digital.
"Tujuan utama kami adalah menyambungkan sanad keilmuan para kader kepada para masyaikh hingga Rasulullah SAW. Sanad bukan sekadar rekaman kata-kata, tapi mekanisme krusial yang menjembatani teks, metode, dan etika keilmuan. Menjaga sanad berarti menjaga integritas ilmu itu sendiri," jelas tokoh yang juga aktif dalam literasi digital santri tersebut.
Intelektualitas di Atas Segalanya
Turut hadir dalam acara tersebut, Achmad Shampton Masduqie, Kepala Kemenag Kota Malang. Kehadirannya semakin memperkuat pesan bahwa sinergi antara birokrasi, ulama, dan pemuda sangat penting dalam menjaga marwah keilmuan.
Kegiatan Lailatul Isnad ini menjadi momentum bagi GP Ansor Jawa Timur untuk mencetak kader yang tidak hanya berani di lapangan, tetapi juga memiliki kedalaman ilmu dan keterikatan spiritual yang kuat. Dengan sanad yang terjaga, Ansor memastikan bahwa dakwah yang dilakukan tetap berada dalam koridor moderasi (wasathiyah) dan kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan hingga ke sumber asalnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?