![]() |
| Anggota DPD RI Jatim, Lia Istifhama bangga menjadi lulusan perguruan tinggi dalam negeri hingga doktoral./dok. Istimewa |
SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM - Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, mengaku bangga menempuh seluruh jenjang pendidikan tinggi di dalam negeri.
Bagi senator yang akrab disapa Ning Lia ini, keberhasilan meraih gelar doktor bukan soal gengsi kampusnya, yakni apakah di luar negeri atau di dalam negeri, melainkan tentang keberkahan proses.
"Alhamdulillah, saya S1 di tiga kampus: IAIN, UNAIR, dan STID Taruna. Kalau dihitung-hitung, biaya per semester waktu itu tidak sampai Rp 1,5 juta. IAIN sekitar Rp 450 ribu, UNAIR Rp 750 ribu, Taruna sekitar Rp 200 ribu. Intinya tidak sampai satu setengah juta," kenang Lia saat ditemui di Surabaya, Rabu (25/2).
Ia masih ingat saat menyusun skripsi, dirinya bahkan bekerja untuk membiayai kuliahnya sendiri. Menurutnya, hal itu menjadi bagian penting dari proses pembentukan karakter.
"Saat skripsi saya kerja untuk membiayai kuliah sendiri. Jadi, memang dari awal terbiasa mandiri," ungkapnya.
Kemudian, saat jenjang magister (S2), Lia memperoleh beasiswa dalam negeri sehingga tidak mengeluarkan biaya pribadi. Lalu, saat menempuh S3, ia mendapatkan bantuan Beasiswa Pendidikan Pascasarjana (BPP) selama satu tahun, meski tetap mengeluarkan dana pribadi belasan juta rupiah hingga lulus.
"Kalau ditotal mungkin dana pribadi saya sekitar Rp 30 juta sampai doktoral. Artinya, pendidikan itu tidak harus mahal dan tidak perlu gengsi. Yang penting adalah keberkahan dan kesungguhan," bebernya.
Menurut Ning Lia, pengalaman akademiknya menjadi bukti bahwa perguruan tinggi dalam negeri memiliki kualitas yang mampu melahirkan figur-figur publik.
Ia juga menilai, keberhasilan seseorang tidak ditentukan oleh lokasi studinya, melainkan oleh integritas dan kontribusinya.
"Banyak alumni dalam negeri yang jadi tokoh nasional, pemimpin daerah, akademisi hebat. Jadi tidak ada alasan merasa kurang percaya diri," tegasnya. ***
Editor: YAN



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?