Banner Iklan

Pesantren dan NU: Akar Tradisi, Pilar Peradaban, dan Agenda Transformasi Akhlak Bangsa

Anis Hidayatie
30 Januari 2026 | 21.59 WIB Last Updated 2026-01-30T15:27:40Z


Pesantren dan NU: Akar Tradisi, Pilar Peradaban, dan Agenda Transformasi Akhlak Bangsa

Oleh: Drs. H. Edy Purwanto Achmad, M.PdKetua PCNU Kota Singkawang

ARTIKEL| JATIMSATUNEWS.COM: Nahdlatul Ulama (NU) sejatinya adalah pesantren besar, sementara pondok pesantren adalah NU dalam bentuk kecil. Keduanya bukan entitas yang terpisah, melainkan satu napas perjuangan yang saling menguatkan. Pesantren melahirkan kader-kader ulama, pemimpin umat, dan penjaga tradisi keislaman Ahlussunnah wal Jama’ah. Sementara NU memperluas peran nilai-nilai pesantren ke ruang kebangsaan, sosial, pendidikan, hingga peradaban global.

Tanpa pesantren, NU akan kehilangan akar kultural dan basis moralnya di masyarakat. Sebaliknya, tanpa NU, pesantren akan kesulitan memperluas peran strategisnya dalam konteks kenegaraan dan pembangunan bangsa. Hubungan ini bersifat simbiotik: pesantren adalah jantung spiritual NU, dan NU adalah jaringan peradaban pesantren.

Pesantren sebagai Penjaga Tradisi Santri

Pesantren selama berabad-abad menjadi benteng akhlak, pusat transmisi ilmu, dan penjaga tradisi santri: tawadhu, hormat kepada guru, hidup sederhana, mandiri, serta mengutamakan kemaslahatan bersama. Tradisi ini bukan sekadar budaya, melainkan sistem nilai yang membentuk karakter umat.

Namun, dunia terus berubah. Tantangan zaman—globalisasi, digitalisasi, krisis moral, dan degradasi adab—menuntut pesantren untuk melakukan transformasi tanpa kehilangan jati diri. Pesantren tidak boleh terjebak pada romantisme masa lalu, tetapi juga tidak boleh tercerabut dari akar tradisinya.

Agenda Transformasi Pesantren

Transformasi pesantren hari ini setidaknya menyentuh empat aspek utama:

1. Transformasi Kurikulum

Pesantren perlu memperkuat integrasi antara tafaqquh fid-din dan ilmu pengetahuan modern. Santri tidak hanya unggul dalam kitab kuning, tetapi juga mampu berkontribusi dalam sains, teknologi, ekonomi, dan sosial kemasyarakatan. Inilah bentuk jihad intelektual pesantren masa kini.

2. Transformasi Sumber Daya Manusia

Peningkatan kompetensi ustadz dan ustadzah menjadi keniscayaan. Guru pesantren hari ini dituntut bukan hanya alim, tetapi juga adaptif, terbuka, dan memahami psikologi pendidikan modern. Pelatihan pedagogik, literasi digital, serta wawasan kebangsaan perlu terus diperkuat.

3. Transformasi Kelembagaan

Pesantren perlu tata kelola yang lebih profesional, transparan, dan akuntabel. Manajemen modern bukan untuk menghilangkan kekhasan pesantren, tetapi untuk memperkuat keberlanjutan lembaga.

4. Transformasi Infrastruktur

Fasilitas pendidikan yang layak, lingkungan yang sehat, serta ruang belajar yang aman akan menunjang tumbuhnya generasi santri yang unggul lahir batin.

Semua transformasi ini pada akhirnya bermuara pada satu tujuan besar: memperkuat kontribusi pesantren dalam peran kenegaraan melalui jejaring besar NU.

Peran Strategis RMI NU

Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU telah mengambil langkah konkret dalam menyiapkan masa depan santri, antara lain:

Program bimbingan masuk perguruan tinggi umum

Akses beasiswa ke perguruan tinggi luar negeri

Program kaderisasi akademik hingga jenjang doktoral (S3)

Langkah ini penting agar santri hadir di berbagai lini strategis bangsa: akademisi, birokrat, profesional, dan pemimpin publik—tanpa kehilangan identitas keaswajaan dan akhlak pesantren.

Krisis Akhlak dan Tantangan Internal Pesantren

Di tengah peran besarnya, pesantren juga tidak boleh menutup mata terhadap realitas pahit. Beberapa kasus kekerasan, perundungan (bullying), hingga pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan pesantren dalam beberapa tahun terakhir telah melukai hati umat dan mencoreng nama baik lembaga pendidikan Islam.

Kasus pelecehan oleh oknum keluarga pengasuh di Jawa Timur, maupun praktik senioritas berlebihan yang berujung perundungan, menjadi alarm keras. Ini bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi pengkhianatan terhadap nilai dasar pesantren: menjaga kehormatan manusia (hifzhul ‘irdh) dan melindungi generasi muda.

Sikap defensif, menutup-nutupi, atau menyalahkan korban justru akan memperburuk keadaan. Pesantren harus berani melakukan muhasabah dan pembenahan menyeluruh.

Langkah Nyata Mencegah Kekerasan di Pesantren

Untuk memulihkan kepercayaan publik dan menjaga kemuliaan pesantren, diperlukan langkah sistemik:

1. Sistem Perlindungan Santri

Pesantren harus memiliki aturan tertulis tentang perlindungan anak dan santri, termasuk mekanisme pelaporan yang aman dan rahasia.

2. Pendidikan Kesadaran Batas Interaksi

Santri, ustadz, dan pengelola perlu mendapatkan edukasi tentang batasan interaksi yang sehat, etika pengasuhan, serta pencegahan kekerasan seksual dan perundungan.

3. Pengawasan Berlapis

Tidak boleh ada ruang tertutup tanpa pengawasan yang berpotensi disalahgunakan. Sistem asrama perlu pengelolaan yang profesional dan terstruktur.

4. Rekrutmen dan Evaluasi Pengasuh

Semua tenaga pendidik dan pengasuh harus melalui seleksi ketat serta evaluasi berkala, tidak hanya dalam aspek keilmuan tetapi juga integritas moral.

5. Kolaborasi dengan Lembaga Profesional

Pesantren dapat bekerja sama dengan psikolog, konselor, dan lembaga perlindungan anak untuk pendampingan dan penanganan kasus secara tepat.

6. Budaya Anti-Bullying

Tradisi senioritas harus diarahkan menjadi teladan, bukan alat penindasan. Santri senior dididik menjadi pembimbing, bukan penguasa.

Mengembalikan Ruh Pesantren: Tawadhu dan Khidmah

Kemunduran akhlak yang terjadi di berbagai lini bangsa sejatinya adalah panggilan bagi pesantren untuk kembali meneguhkan misinya sebagai pusat pembinaan adab. Nilai tawadhu, hormat, empati, dan mendahulukan kepentingan orang lain harus kembali menjadi arus utama pendidikan pesantren.

Transformasi pesantren bukan sekadar modernisasi fisik, tetapi revitalisasi ruh. Pesantren harus menjadi tempat paling aman bagi anak-anak bangsa untuk tumbuh, belajar, dan dibimbing menjadi manusia berilmu sekaligus berakhlak.

Penutup

Pesantren dan NU adalah dua sisi mata uang peradaban Islam Nusantara. Ketika pesantren kuat, NU kokoh. Ketika NU kokoh, pesantren mendapat ruang pengabdian yang luas bagi bangsa.

Dengan keberanian berbenah, komitmen menjaga integritas, serta kesungguhan melakukan transformasi, pesantren akan tetap menjadi mercusuar akhlak di tengah gelombang zaman. Dari bilik-bilik sederhana pesantren, akan lahir generasi yang bukan hanya cerdas pikirannya, tetapi juga bersih hatinya.


Dan di situlah masa depan Indonesia sedang disemai.


Hotel Sultan-Jkt, 30 Januari 2026 (Silaturahmi Nasional Pengasuh Pesantren)


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Pesantren dan NU: Akar Tradisi, Pilar Peradaban, dan Agenda Transformasi Akhlak Bangsa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now