Banner Iklan

Menyelami Langkah Mahasiswa FH Universitas Muhammadiyah Malang dari Perkampungan Terpencil Tambak Pipi’i(HSS) di Kalsel ke Bangku Sidang Akhir pekuliahan

Admin JSN
23 Januari 2026 | 10.29 WIB Last Updated 2026-01-23T03:48:45Z


 Menyelami Langkah Mahasiswa FH Universitas Muhammadiyah Malang dari Perkampungan Terpencil Tambak Pipi’i(HSS) di Kalsel ke Bangku Sidang Akhir pekuliahan

SOPO TOKOH: Muhammad Hamzah yang akrab disapa Hamzah merupakan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (FH UMM) yang lahir di Kalimantan Selatan dan tumbuh besar di sebuah perkampungan terpencil Tambak Pipi’i Desa Batu Laki (HSS). Masa kecilnya dihabiskan di lingkungan desa dengan aktivitas sederhana namun baginya penuh makna mulai dari berteman dan bersosial bersama warga sekitar, bermain di alam perkampungan, hingga belajar dalam keterbatasan. Pengalaman hidup tersebut membentuk karakter Hamzah menjadi pribadi yang adaptif dalam berbagai hal, kini justru karakter tersebutlah yang mengantarkannya melangkah jauh dari kampung halaman hingga duduk di bangku sidang akhir perkuliahan menandai perjalanan panjang seorang anak yang punya impian dari pelosok Kalimantan Selatan menuju dunia akademik.

Setelah menamatkan sekitar enam tahun pendidikan sekolah dasar di kampung halamannya, ia tidak sepenuhnya menghabiskan masa remajanya di kampung halaman tempat ia tumbuh. Demi menempuh pendidikan yang lebih baik ia memilih untuk merantau ke Hulu Sungai Utara tepatnya di Amuntai, Alabio. Di daerah tersebut ia mengenyam pendidikan di MTs Muallimin dan MA Muallimin Muhammadiyah Alabio sekaligus menimba ilmu agama di Pondok Pesantren Nurul Amin Alabio.

Dalam perjalanannya ia kerap mendengar pandangan dari sebagian warga desa yang menyarankan agar tidak perlu bersekolah terlalu jauh karena latar belakangnya sebagai anak desa. Namun baginya anggapan tersebut bukanlah sebuah pembatas melainkan motivasi untuk belajar lebih giat. 

“Pendidikan orang kota dan orang desa itu sama mereka memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan di mana pun,” ujarnya, menegaskan keyakinannya bahwa asal-usul tidak boleh menjadi penghalang dalam meraih cita-cita melalui pendidikan.

Selama menempuh pendidikan di MTs Muallimin Muhammadiyah Alabio, MA Muallimin Muhammadiyah Alabio hingga di Pondok Pesantren Nurul Amin Alabio ia dikenal sebagai pribadi yang tekun dan berprestasi baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Berbagai capaian yang diraihnya menjadi bukti kesungguhan dalam belajar dan mengembangkan diri di tengah keterbatasan sebagai perantau. Semangat juang tersebut tidak berhenti di jenjang pendidikan menengah melainkan terus ia bawa hingga ke bangku awal perkuliahan.

 Bagi Hamzsah konsistensi dalam berprestasi bukan sekadar pencapaian pribadi melainkan bentuk persembahan dan tanggung jawab moral kepada kedua orang tuanya yang telah memberikan dukungan dan kepercayaan penuh terhadap perjalanan pendidikannya.


Setelah menamatkan pendidikan menengah ia memutuskan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi dengan memilih Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Selama masa perkuliahan waktunya tidak hanya diisi dengan aktivitas akademik, tetapi juga membangun relasi pertemanan, aktif berorganisasi, serta mengikuti berbagai ajang perlombaan. Sejak memasuki semester dua ia mulai dikenal sebagai mahasiswa yang memiliki prestasi dan kerap mengharumkan nama kampus melalui kompetisi tingkat nasional. Sejumlah capaian berhasil ia torehkan di antaranya juara I Kompetisi Debat Nasional Aksara Law Competition, juara I Debate Competition For University Season 4, juara II Lomba Debat Semarak Nasional Pendidikan Masyarakat Ke-3, juara II Lomba Debat Hukum Nasional bertajuk Good Governance in the Digital Era for Protection of Cyberspace, juara II Debate Competition For University Season 3, serta juara III Sharia National Debate Championship 2025 (SNDC) disertai berbagai prestasi lainnya yang semakin menegaskan kiprahnya sebagai mahasiswa Fakultas Hukum UMM yang unggul dan berdaya saing.

Kini perjalanan akademiknya memasuki babak akhir setelah ia resmi menyelesaikan tugas akhirnya yang ditandai dengan pelaksanaan sidang akhir perkuliahan pada 10 Januari 2026 kemaren hari.

Momen tersebut menjadi penanda bahwa langkah panjang yang ia tempuh sejak dari perkampungan Tambak Pipi’i hingga bangku perkuliahan hampir mencapai garis akhir. Melalui capaian tersebut Hamzah menyampaikan pesan khusus kepada anak-anak desa “agar tidak pernah menyerah pada mimpi dan cita-cita yang ingin diraih.

 Ia menegaskan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melangkah, dan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berjalan di jalan yang diyakini, meski banyak orang menilai jalan tersebut tidak mungkin untuk ditempuh.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menyelami Langkah Mahasiswa FH Universitas Muhammadiyah Malang dari Perkampungan Terpencil Tambak Pipi’i(HSS) di Kalsel ke Bangku Sidang Akhir pekuliahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now