Banner Iklan

Menjaga Akar, Menumbuhkan Sayap: Membangun Multiliterasi Berkarakter Melalui Budaya Malangan

Rahmani Hafidzi
04 Januari 2026 | 22.06 WIB Last Updated 2026-01-05T06:27:44Z

 


Penulis : Sinahika Sajar

Menanam Jati Diri Budaya Lokal Malangan

Di tengah arus modernisasi, budaya lokal sering kali terpinggirkan. Upaya pelestarian budaya melalui literasi menjadi sorotan utama di Kota Malang Jawa Timur. Literasi budaya lokal Malangan bukan sekedar membaca buku tentang sejarah, tetapi juga memahami dan menghidupkan kembali nilai-nilai warisan budaya seperti Topeng Malangan, bantengan, dan tari beskalan. Kegiatan ini tidak hanya memperkaya pengetahuan, tetapi juga membangun identitas bangsa. Budaya topeng Malangan, telah menjadi ikon yang hampir punah karena kurangnya minat generasi muda. Di tengah derasnya arus globalisasi dan budaya digital, sekolah dasar memiliki peran strategis sebagai benteng awal dalam menanamkan jati diri budaya pada generasi muda. Salah satu upaya nyata yang dapat dilakukan adalah melalui literasi budaya lokal, khususnya budaya Malangan, yang kaya nilai, simbol, dan makna. SDN Bumiayu 2 Malang menjadi contoh bagaimana budaya lokal tidak hanya dilestarikan, tetapi juga diintegrasikan secara kreatif dalam pembelajaran berbasis multiliterasi.

 

Budaya Lokal Malangan sebagai Sumber Belajar Kontekstual

Topeng Malangan adalah kesenian tradisional yang lahir dari era Kerajaan Singhasari yang mengakar kuat dalam cerita rakyat dan filsafat Jawa. Topeng ini bukan hanya digunakan sebagai alat pertunjukan, tetapi sebagai simbol kearifan lokal yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan seperti keberanian, kebijaksanaan, dan harmoni dengan alam. Selain itu, ada bantengan, tari beskalan dan tari topeng Bapang, yang masih relevan di era digital sebagai bentuk ekspresi budaya. Budaya Malangan, seperti Topeng Malangan, bahasa Jawa khas Malang, tembang dolanan, cerita rakyat, dan tradisi lokal, bukan sekedar warisan masa lalu melainkan menyimpan nilai karakter, kebersamaan, gotong royong, serta kearifan lokal yang relevan dengan kehidupan siswa sekolah dasar. Ketika budaya ini dihadirkan dalam pembelajaran, siswa tidak hanya “belajar tentang budaya”, tetapi belajar melalui budaya. Budaya lokal Malangan dimanfaatkan sebagai konteks pembelajaran lintas mata pelajaran di SDN Bumiayu 2. Misalnya, pengenalan tokoh Topeng Malangan tidak hanya dilakukan cerita lisan, tetapi juga melalui gambar, video, flip book, diskusi dan gerak tari sederhana hingga pembuatan karya visual. Hal ini membuka ruang bagi siswa untuk memahami budaya dengan


berbagai cara sesuai gaya belajar mereka. Berikut beberapa makna warna pada Topeng Malangan.

Warna

Makna Simbolis

Contoh Karakter

Merah

Keberanian, hawa nafsu, semangat

Klana Sewandana

Putih

Kesucian, kejujuran, budi luhur

Dewi Sekartaji/ Candra Kirana

Kuning

Kesenangan, kegembiraan

 Dewi Ragil Kuning

Hijau

Kedamaian, kehidupan, harmoni

Panji Asmorobangun

Hitam

Kebijaksanaan, kedewasaan

Bapang Jayasentika


Manfaat multiliterasi untuk pelestarian warisan budaya

Literasi budaya ini semakin kuat ketika dikaitkan dengan multiliterasi, yaitu kemampuan membaca dan memahami berbagai bentuk teks bukan hanya tulisan, tapi juga visual, digital, dan kultural. Multiliterasi berbasis literasi budaya memungkinkan generasi muda tidak hanya mengetahui sejarah, tetapi juga mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Multiliterasi berbasis literasi budaya di SDN Bumiayu 2 Malang diterapkan melalui program pembiasaan bahasa dan budaya Jawa. Sekolah melibatkan siswa dalam kegiatan seperti role-playing cerita rakyat Malangan, pembuatan flip book tentang topeng, dan menari secara sederhana. Program ini tidak hanya meningkatkan minat baca, tetapi juga membangun rasa cinta tanah air melalui pemahaman hak dan kewajiban sebagai warga negara.



Multiliterasi Lebih dari Sekadar Membaca dan Menulis

 

Pendekatan multiliterasi menekankan bahwa literasi tidak lagi terbatas pada kemampuan membaca dan menulis teks cetak, tetapi juga mencakup literasi visual, digital, budaya, dan sosial. Dalam konteks ini, budaya lokal Malangan menjadi jembatan yang efektif untuk mengembangkan berbagai jenis literasi secara terpadu.

Di SDN Bumiayu 2, siswa diajak untuk

· Membaca cerita rakyat Malangan (literasi baca-tulis),

· Mengamati visual topeng dan simbol budaya (literasi visual),

· Mendengarkan dan menyanyikan tembang dolanan (literasi auditori),

· Berdiskusi dan bercerita kembali dengan bahasa sendiri (literasi lisan),

· Memahami nilai dan norma lokal sebagai bagian dari identitas diri (literasi budaya).


Mengupload: 65500 dari 208669 byte diupload.


Mengupload: 98250 dari 149456 byte diupload.

Menumbuhkan Karakter dan Identitas Sejak Dini

Integrasi literasi budaya lokal Malangan dalam pembelajaran multiliterasi tidak hanya meningkatkan keterampilan akademik siswa, tetapi juga memperkuat Profil Pelajar Pancasila. Nilai-nilai seperti gotong royong, kebinekaan, kreatif, dan bernalar kritis tumbuh secara alami melalui aktivitas pembelajaran yang dekat dengan kehidupan siswa. Siswa tidak lagi melihat budaya sebagai sesuatu yang “jauh” atau “kuno”, melainkan sebagai bagian dari diri mereka. Ketika siswa mengenal dan bangga terhadap budaya Malangan, mereka belajar menghargai identitas lokal sekaligus siap menjadi warga global yang berakar kuat pada nilai bangsanya.

Sekolah sebagai Ruang Pelestarian Budaya

Praktik multiliterasi berbasis budaya lokal di SDN Bumiayu 2 Malang menunjukkan bahwa sekolah dasar dapat menjadi ruang strategis pelestarian budaya. Guru berperan sebagai fasilitator yang menghubungkan tradisi lokal dengan dunia belajar modern, sementara siswa menjadi subjek aktif yang mengalami, memaknai, dan menghidupkan kembali budaya tersebut.


Melalui langkah kecil namun konsisten ini, literasi budaya lokal tidak hanya menjaga warisan Malangan tetap hidup, tetapi juga membentuk generasi yang literat, berkarakter, dan beridentitas kuat di tengah tantangan zaman. Dengan demikian, literasi budaya lokal Malangan bukan hanya pelajaran masa lalu, tetapi jembatan menuju masa depan yang multiliterat. Guru mendukung upaya ini agar budaya Malang tetap hidup di hati anak bangsa.






Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Menjaga Akar, Menumbuhkan Sayap: Membangun Multiliterasi Berkarakter Melalui Budaya Malangan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now