Foto: Cahyaning Suryaningrum sebagai psikolog asal UMM (Sumber : Humas UMM)
MALANG, JATIMSATUNEWS.COM – Fenomena meningkatnya kasus percobaan bunuh diri di kalangan mahasiswa kembali memantik perhatian publik. Beberapa peristiwa bahkan terjadi di lokasi yang sama, memunculkan kekhawatiran serius terkait kondisi kesehatan mental generasi muda, khususnya mahasiswa rantau.
Kepala Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Cahyaning Suryaningrum, M.Si., Psikolog, menilai persoalan ini tidak bisa dilihat sebagai masalah individu semata. Menurutnya, ada persoalan struktural dan psikologis yang saling berkaitan, terutama pada mahasiswa yang menempuh pendidikan jauh dari keluarga.
“Mahasiswa rantau secara alami menghadapi tantangan adaptasi yang berat. Mereka tidak lagi berada di lingkungan yang familiar dan kehilangan dukungan sosial utama dari keluarga,” ujar Cahyaning yang akrab disapa Naning, Selasa (27/1/2026).
Ia menjelaskan, kerentanan tersebut akan semakin besar ketika mahasiswa tidak memiliki kemampuan adaptasi yang memadai atau lingkungan sosial yang suportif. Kondisi ini dapat memicu tekanan psikologis yang berujung pada gangguan kesehatan mental serius.
Menariknya, Naning menepis anggapan bahwa tekanan akademik menjadi penyebab utama. Berdasarkan pengalaman konseling di BK UMM, banyak kasus justru berakar dari persoalan keluarga yang belum selesai sejak mahasiswa masih di rumah.
“Masalah akademik seperti skripsi atau nilai sering kali hanya menjadi pemicu terakhir. Akar masalahnya adalah ketahanan keluarga yang rapuh dan beban emosional yang sudah lama dipendam,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa kecerdasan intelektual saja tidak cukup. Mahasiswa perlu dibekali ketahanan mental atau resiliensi agar mampu menghadapi tekanan hidup yang tak terhindarkan.
“Tekanan akademik itu wajar dan bahkan dibutuhkan. Yang menjadi masalah adalah ketika seseorang tidak memiliki bekal mental untuk menghadapi proses jatuh bangun kehidupan,” jelasnya.
Terkait fenomena pemilihan lokasi yang sama dalam percobaan bunuh diri, Naning menilai hal tersebut berkaitan dengan pola pikir sempit pada individu yang sedang berada dalam kondisi terdesak. Paparan informasi atau pemberitaan sebelumnya dapat membentuk sugesti berbahaya bagi mahasiswa dengan kondisi psikologis rentan.
Dalam praktiknya, BK UMM mengedepankan pendekatan konseling berbasis pemberdayaan. Mahasiswa tidak hanya diajak memahami masalah, tetapi juga mengenali potensi dan kekuatan diri.
“Konselor bukan satu-satunya penopang. Kami ingin mahasiswa sadar bahwa mereka punya kapasional untuk bangkit dan mencari jalan keluar,” tegasnya.
Selain pendampingan profesional, Naning menyoroti pentingnya mekanisme koping yang sehat, seperti berolahraga, mendengarkan musik, atau melakukan aktivitas sederhana yang menyenangkan sebagai sarana menyalurkan emosi negatif.
Peran teman sebaya juga dinilai sangat krusial. Sikap mau mendengar tanpa menghakimi, menjaga rahasia, dan tidak meremehkan masalah teman dapat menjadi benteng awal pencegahan.
“Kesalahan kecil seperti menyebarkan cerita pribadi justru bisa memperparah kondisi psikologis seseorang,” pungkasnya.
Melalui pendekatan preventif dan edukatif, BK UMM berharap mahasiswa semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan mental sejak dini. Sebab, setiap persoalan selalu memiliki jalan keluar selama pikiran tidak terjebak dalam keputusasaan. (raf)
Sumber: Rilis berita UMM


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?