Banner Iklan

Dua Dekade Bidan Yuliana Mengabdi, Sukses Bangkitkan Gerakan Donor Darah Sukarela di Desa Ngabab

Admin JSN
15 Januari 2026 | 16.48 WIB Last Updated 2026-01-15T10:04:58Z



Dua Dekade Mengabdi Tanpa Lelah, Bidan Yuliana Ngabab dengan berbagai sertifikat penghargaan 

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Keteladanan dan ketulusan pengabdian ditunjukkan Bidan Yuliana, bidan desa Ngabab, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Selama lebih dari 20 tahun, ia konsisten menggerakkan warga desa—yang mayoritas berprofesi sebagai petani—untuk rutin melakukan donor darah sukarela. Atas dedikasinya tersebut, Bidan Yuliana dinobatkan sebagai salah satu bidan terbaik tingkat nasional dalam penggerak donor darah.

Hal itu terungkap dalam wawancara di kediamannya, Desa Ngabab, Kamis (15/1/2026).

 Yuliana mengisahkan, perjalanan panjang membangun kesadaran donor darah bukanlah perkara mudah. Pada awal gerakan, jumlah pendonor hanya sekitar 30 orang. Namun berkat ketekunan dan pendekatan berkelanjutan, jumlah tersebut kini melonjak hingga sekitar 150 pendonor aktif setiap kegiatan.

“Awalnya berat, tapi saya tidak pernah lelah mengajak. Kuncinya memang harus terus dan terus diingatkan,” ujar Yuliana.

Upaya Bidan Yuliana bahkan mendapat perhatian dari pimpinan pusat Perhimpunan Donor Darah Indonesia (PDDI). Kunjungan langsung tokoh Ketua PDDI Pusat Komjenpol Adang Daradjatun yang pernah menjabat Wakapolri menjadi momentum penting yang membuat grafik pendonor di Desa Ngabab terus meningkat signifikan.

Sebagai bidan, Yuliana memanfaatkan kedekatannya dengan warga, terutama kaum perempuan. Ia mengedukasi pasien KB suntik yang rutin datang ke tempat praktiknya tentang manfaat donor darah. Dengan bahasa sederhana, ia mengibaratkan tubuh manusia seperti sumur.

“Sumur itu kalau sering diambil airnya justru lebih bersih. Begitu juga darah, kalau didonorkan, tubuh akan memproduksi darah baru yang lebih sehat,” jelasnya.

Tak hanya melalui pasien, Yuliana juga menggerakkan kader kesehatan desa. Para kader diminta untuk menjadi penggerak berantai—mengajak satu orang, lalu orang tersebut mengajak lainnya. Sistem ini terbukti efektif menumbuhkan kesadaran kolektif dan semangat gotong royong.

Selain itu, metode pengumuman keliling melalui pengeras suara masjid juga pernah diterapkan. Meski sempat menuai pro dan kontra karena dianggap identik dengan pengumuman duka, upaya tersebut akhirnya tetap berjalan berkat dukungan pemerintah desa.

Dalam perjalanannya, Yuliana juga mencermati kendala medis calon pendonor, seperti tekanan darah dan kadar hemoglobin (HB). Ia aktif memberi solusi, mulai dari edukasi pola hidup sehat hingga membagikan tablet tambah darah bagi warga dengan HB rendah.

“Kalau HB turun, saya kasih tablet tambah darah dan sarankan konsumsi kacang hijau, bayam, serta daging. Biasanya satu bulan sudah bisa donor lagi,” tuturnya.

Sementara bagi pendonor pria dengan HB terlalu tinggi, Yuliana menekankan pentingnya cukup minum air putih dan mengurangi begadang. Pendekatan personal inilah yang membuat tingkat penolakan pendonor semakin menurun dari tahun ke tahun.

Kini, kegiatan donor darah di Desa Ngabab rutin digelar dengan sistem dua gelombang setiap bulan, mengingat tingginya antusiasme warga. Bahkan tanpa iming-iming hadiah, jumlah pendonor tetap stabil di atas seratus orang setiap kegiatan.

“Bagi saya, ini soal kemanusiaan. Donor darah itu sehat dan bermanfaat untuk orang lain. Kalau niatnya sudah sampai ke situ, iming-iming tidak lagi penting,” pungkas Yuliana.

Dedikasi Bidan Yuliana menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari desa, dengan ketulusan, kesabaran, dan kepedulian yang terus dirawat tanpa henti.


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dua Dekade Bidan Yuliana Mengabdi, Sukses Bangkitkan Gerakan Donor Darah Sukarela di Desa Ngabab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now