Banner Iklan

Dosen UMM Ingatkan Risiko Finansial di Balik Tren Pembayaran QRIS

Rahmani Hafidzi
24 Januari 2026 | 13.50 WIB Last Updated 2026-01-24T06:50:59Z



Foto: Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) (Sumber: Humas UMM) 

MALANG, JATIMSATUNEWS.COM – Kemudahan transaksi nontunai melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dinilai membawa konsekuensi tersendiri bagi perilaku keuangan generasi muda. Dosen Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ainur Rifqi Almahdani Rahmat, M.M., menilai penggunaan QRIS berpotensi menurunkan kesadaran finansial, khususnya di kalangan mahasiswa.

Menurut Rifqi, sistem pembayaran digital menciptakan ilusi pengeluaran yang tidak terasa. Berbeda dengan transaksi tunai yang menghadirkan sensasi kehilangan uang secara nyata, pembayaran digital berlangsung cepat dan minim hambatan psikologis. Kondisi tersebut membuat pengguna cenderung lebih impulsif dalam berbelanja.

“Ketika menggunakan uang fisik, seseorang merasakan langsung uangnya berkurang. Pada pembayaran digital, proses yang instan membuat rasa kehilangan itu nyaris tidak muncul,” ujarnya, Senin (19/1/2026).

Ia menjelaskan, kebiasaan ini sering memicu fenomena latte factor, yakni pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali dan dianggap sepele, namun berdampak signifikan terhadap kondisi keuangan dalam jangka panjang. Pengeluaran seperti kopi, jajanan, atau belanja impulsif harian berpotensi menggerus tabungan tanpa disadari.

Di sisi lain, Rifqi mengakui bahwa QRIS memiliki sejumlah keunggulan, seperti kemudahan transaksi, pencatatan otomatis, serta efisiensi waktu. Namun, kelemahan utamanya terletak pada lemahnya kontrol diri pengguna, terutama ketika dihadapkan pada promo cashback dan diskon.

“Promo dirancang untuk membentuk kebiasaan belanja berulang. Konsumen terdorong membeli bukan karena kebutuhan, tetapi karena merasa sedang mendapat keuntungan,” jelasnya.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat membentuk mentalitas keuangan yang tidak disiplin. Nilai uang menjadi abstrak dan sulit dikontrol, sehingga risiko defisit anggaran meningkat meskipun saldo digital masih terlihat aman.

Sebagai langkah pencegahan, Rifqi menyarankan agar pengguna membatasi penggunaan aplikasi pembayaran digital. Salah satunya dengan menggunakan satu aplikasi khusus untuk transaksi harian agar pengeluaran lebih mudah dipantau dan dievaluasi.

“Biasakan mengecek rekap pengeluaran bulanan. Dengan begitu, pengeluaran kecil yang sering tidak terasa bisa dikendalikan dan tujuan keuangan tetap terjaga,” pungkasnya.

Ia menegaskan bahwa teknologi pembayaran digital tetap dapat dimanfaatkan secara optimal, asalkan diiringi dengan perencanaan dan kesadaran finansial yang baik. (raf) 


Sumber: Rilis Berita UMM


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dosen UMM Ingatkan Risiko Finansial di Balik Tren Pembayaran QRIS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa yang Anda pikirkan?

Trending Now