Langsung ke konten
Rabu, 19 Agustus 2026
Headline KAI Daop 7 Madiun Tambah Kapasitas Rangkaian, Akomodir Lonjakan Penumpang Libur Panjang HUT ke-81 RI
Artikel

Kampung Tempe Sanan Ubah Limbah Jadi Pakan Ternak, Energi Alternatif, dan Produk Kreatif

 

Kampung Tempe Sanan, Malang, jadi sentra industri ramah lingkungan dengan inovasi pengelolaan limbah tempe menjadi pakan ternak dan energi alternatif, contoh keberlanjutan masyarakat.

MALANG. 9 JUNI 2025 | JATIMSATUNEWS.COM — Kampung Tempe Sanan yang terletak di Kota Malang telah
menunjukkan peran pentingnya sebagai sentra industri tempe dan keripik tempe. Warga bersama
para pelaku industri rumahan berhasil mengembangkan sistem pengelolaan limbah produksi
tempe yang inovatif dan ramah lingkungan. Sejak beberapa tahun terakhir, pengelolaan ini
dilakukan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan nilai
ekonomi, dengan cara mengolah limbah menjadi pakan ternak, bahan makanan baru, dan energi
alternatif.

Saat ini terdapat lebih dari 300 pengrajin tempe dan 200 pengrajin keripik tempe yang aktif di
wilayah Sanan. Kegiatan produksi yang melibatkan berbagai tahapan seperti perendaman dan
perebusan kedelai menghasilkan limbah dalam jumlah cukup besar. Namun berkat kesadaran
kolektif masyarakat, limbah tersebut tidak menjadi persoalan lingkungan, melainkan diolah
menjadi campuran pakan untuk sekitar 800 ekor sapi. Hal ini membantu warga mengurangi biaya
pemeliharaan ternak sekaligus mendukung prinsip produksi yang lebih efisien.

Limbah berupa kulit kedelai yang berasal dari proses produksi tempe dikeringkan agar lebih
tahan lama. Bahan ini kemudian diolah kembali untuk menjadi campuran pakan ternak dan juga
bahan dasar tepung nabati. Sementara itu, sisa pengirisan tempe yang biasanya dibuang kini
digunakan untuk membuat makanan ringan seperti stik mendol, yang memiliki potensi ekonomi
tambahan bagi warga. Re mahan tepung goreng yang sudah gosong dimanfaatkan sebagai bahan
campuran dedak ternak, sedangkan remahan yang masih layak dikonsumsi digunakan kembali
dalam pengolahan makanan. 

Inovasi pengelolaan limbah juga dilakukan terhadap minyak goreng bekas. Setelah melalui
proses pengendapan, bagian atas yang masih bening akan dicampur dengan minyak baru untuk
pemakaian ulang. Minyak yang tidak layak digunakan akan dikumpulkan dan disalurkan ke
pihak ketiga untuk diolah kembali sebagai bahan bakar biodiesel. Langkah ini tidak hanya
mengurangi pencemaran limbah cair, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan sumber energi
terbarukan.

Sejak tahun 2018, warga di RT 5 Kampung Sanan juga mengembangkan sistem pemanfaatan
limbah kotoran sapi menjadi energi gas rumah tangga. Kotoran dari peternakan warga dialirkan
ke tangki fermentasi yang dirancang menyerupai tangki septic. Proses ini dilengkapi dengan
penyaringan untuk mengurangi bau menyengat. Dua saluran pipa digunakan, satu untuk
memisahkan cairan dan satu lagi untuk menyalurkan gas ke rumah warga. Gas ini dimanfaatkan
sebagai bahan bakar untuk memasak, menghasilkan api biru yang efisien dan lebih bersih.
Penggunaan gas ini harus dilakukan secara rutin agar tekanan tidak menumpuk dan sistem tetap
berjalan aman.

Dengan seluruh langkah yang telah diambil, Kampung Tempe Sanan kini menjadi contoh nyata
bagaimana industri rumahan dapat berkembang secara mandiri dan berkesinambungan. Potensi
besar yang dimiliki kawasan ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain dalam membangun
lingkungan produksi yang bertanggung jawab dan berbasis masyarakat. Pemerintah, dunia
pendidikan, serta mitra swasta diundang untuk datang dan melihat langsung praktik baik yang
sudah berjalan di Sanan.

M. Irfan Wijaya, M. Sheva Atilla 
Penulis 
Kontak Media 
Dra Trinil Sri Wahyuni 
Ketua Paguyuban Kampung Sanan 
E : trinilsriwahyuni@gmail.com 
T : +62 812-3025-1565
M. Irfan Wijaya, M. Sheva Atilla
Penulis 

Komentar Pembaca

Kolom komentar untuk artikel ini sudah ditutup.