Foto: Tiga Dosen UIN Malang
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Tiga dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang melaksanakan riset kolaboratif internasional sekaligus pengabdian kepada masyarakat di Jepang selama 9–13 Juli 2026. Tim terdiri atas dua dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), yakni Abu Bakar, M.Pd.I. dari Program Studi Pendidikan Agama Islam dan Angga Teguh Prastyo, M.Pd. dari Program Studi Manajemen Pendidikan Islam, bersama Dr. H. Ahmad Diny Hidayatullah, M.Pd. dari Fakultas Humaniora sebagai ketua tim. Kegiatan berlangsung di sejumlah kota, antara lain Osaka, Toyohashi, Tokyo, dan Koga, dalam rangka memperkuat kerja sama akademik dengan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Jepang.
Riset kolaboratif tersebut dibagi ke dalam tiga klaster penelitian. Klaster pertama mengkaji pembelajaran Bahasa Arab dan Pendidikan Agama Islam berbasis Massive Open Online Courses (MOOC) yang dipimpin Dr. Ahmad Diny Hidayatullah. Klaster kedua meneliti pendidikan multikultural di Pondok Pesantren NU At-Taqwa Koga, Prefektur Ibaraki, yang menjadi fokus Abu Bakar. Sementara itu, Angga Teguh Prastyo meneliti dinamika kepemimpinan inklusif di PCI NU Jepang sebagai bagian dari penguatan tata kelola organisasi diaspora Indonesia.
Pada klaster pertama, penelitian dilaksanakan di Masjid Hidayah, Kota Toyohashi, Prefektur Aichi. Masjid yang didirikan oleh komunitas warga negara Indonesia tersebut telah berkembang menjadi pusat ibadah, pendidikan, dan pembinaan umat Islam di wilayah tersebut. Selain menyelenggarakan salat berjamaah lima waktu, Masjid Hidayah secara rutin mengadakan majelis taklim, pembacaan ratib, serta majelis selawat yang diikuti tidak hanya oleh warga Indonesia, tetapi juga mahasiswa, pekerja, dan keluarga Muslim dari berbagai negara.
Salah satu program unggulan Masjid Hidayah adalah Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang diperuntukkan bagi anak-anak dan remaja. Program ini menjadi ruang pembelajaran Al-Qur’an bagi peserta dari berbagai latar belakang kebangsaan, seperti Indonesia, Malaysia, Bangladesh, Pakistan, Afghanistan, hingga anak-anak berkewarganegaraan Jepang yang memeluk Islam. Materi pembelajaran difokuskan pada tahsin, tahfiz Juz 30, serta pembentukan adab dalam kehidupan sehari-hari dengan pendekatan yang disesuaikan dengan usia dan kemampuan santri.
Ustaz Thoriq, salah satu pengajar TPQ Masjid Hidayah, menjelaskan bahwa keberagaman peserta didik menjadi nilai tambah dalam proses pembelajaran. Menurutnya, anak-anak tidak hanya belajar membaca Al-Qur’an, tetapi juga memahami pentingnya menghargai perbedaan budaya dan bahasa. Interaksi lintas negara tersebut menjadi praktik nyata pendidikan ukhuwah Islamiyah yang memperkuat semangat persaudaraan di tengah kehidupan masyarakat multikultural Jepang.
Bagi tim peneliti UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, keberadaan Masjid Hidayah Toyohashi menunjukkan peran strategis masjid sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan komunitas Muslim diaspora. Temuan awal dari penelitian ini diharapkan dapat memperkuat pengembangan model pembelajaran berbasis MOOC, pendidikan multikultural, serta kepemimpinan organisasi Islam di lingkungan masyarakat Indonesia di luar negeri, sekaligus memperluas jejaring kerja sama akademik antara UIN Malang dan PCI NU Jepang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?