Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) Sekolah Rakyat Kota Batu, Dessy Suparni, menegaskan bahwa konsep sekolah berasrama memungkinkan pembinaan peserta didik dilakukan secara menyeluruh, baik dari aspek akademik, spiritual, maupun pembentukan karakter.
“Anak-anak tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga dibiasakan untuk hidup disiplin, mandiri, bertanggung jawab, serta menanamkan nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian sosial dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Dessy, Minggu (5/7/2026).
Menurut Dessy, pembangunan Sekolah Rakyat didasarkan pada tiga pilar utama yang menjadi fondasi program tersebut. Pilar pertama adalah Memuliakan Wong Cilik atau Memuliakan Anak, yakni memberikan penghormatan, hak pendidikan, dan fasilitas berasrama yang layak secara gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Pilar kedua adalah Menjangkau yang Tak Terjangkau, yaitu membuka akses pendidikan bagi anak putus sekolah, anak jalanan, dan kelompok rentan, termasuk mereka yang berada di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang selama ini belum sepenuhnya terlayani pendidikan formal.
Sementara pilar ketiga, Memungkinkan yang Tidak Mungkin, merupakan upaya memutus rantai kemiskinan antargenerasi dengan memberikan kesempatan yang sama kepada setiap anak untuk meraih prestasi dan masa depan yang lebih baik.
“Program ini ingin membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan hambatan untuk sukses. Anak-anak diberikan kesempatan yang sama agar mampu tumbuh menjadi generasi unggul dan menjadi bagian dari Indonesia Emas 2045,” jelasnya.
Dessy menambahkan, keberhasilan Sekolah Rakyat juga ditopang oleh tiga komponen utama pembelajaran, yakni keterampilan akademik dasar, kecakapan hidup (life skills), dan pembinaan karakter.
Menurutnya, siswa dibekali kemampuan akademik yang setara dengan standar nasional, keterampilan praktis untuk menghadapi dunia kerja, serta pendidikan karakter yang menanamkan disiplin, kepemimpinan, tanggung jawab, dan pola pikir berkembang (growth mindset).
“Anak-anak didorong untuk memiliki mimpi besar dan keyakinan bahwa mereka mampu mengubah masa depan melalui pendidikan. Pola pikir pasrah harus diubah menjadi pola pikir sukses dan optimistis,” katanya.
Lebih lanjut, Dessy menjelaskan bahwa kehidupan di Sekolah Rakyat tidak hanya berpusat pada pembelajaran di ruang kelas. Para siswa juga aktif mengikuti berbagai kegiatan positif yang dirancang untuk mengembangkan bakat, keterampilan, dan karakter mereka.
Dalam bidang seni tradisional, para siswa mengikuti ekstrakurikuler kesenian lokal seperti Bantengan sebagai upaya melestarikan budaya sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap kearifan lokal.
Pada bidang olahraga dan ketangkasan, siswa rutin mengikuti latihan baris-berbaris untuk membangun disiplin dan kekompakan, serta bermain egrang guna melatih keseimbangan, keberanian, dan kepercayaan diri.
Selain itu, mereka juga mendapatkan pembelajaran keterampilan budaya melalui praktik membatik yang tidak hanya mengasah kreativitas, tetapi juga mengenalkan warisan budaya bangsa kepada generasi muda.
Program kemandirian juga diwujudkan melalui kegiatan Serasa Masak Bersama (SERASA). Dalam kegiatan tersebut, siswa bergotong royong bersama wali asrama mulai dari menyiapkan bahan makanan, menusuk daging, hingga membakar sate bersama.
“Melalui SERASA, anak-anak belajar kerja sama, tanggung jawab, gotong royong, dan kemandirian. Mereka merasakan bahwa kebersamaan menjadi kekuatan untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan,” ungkap Dessy.
Tak hanya itu, pembentukan karakter siswa juga diperkuat melalui pendampingan psikologis, sesi berbagi pengalaman antarteman, serta pembiasaan hidup bersih dan sehat yang dilakukan secara konsisten di lingkungan asrama.
Dessy menjelaskan, sebagai sekolah berasrama penuh (boarding school), aktivitas harian siswa telah dirancang secara seimbang antara pembelajaran akademik, penguatan spiritual, kedisiplinan, dan pengembangan diri.
Pada pagi hari, kegiatan diawali dengan ibadah bersama sebagai penguatan nilai keimanan, dilanjutkan dengan pembiasaan hidup bersih melalui kegiatan merapikan asrama serta olahraga pagi untuk menjaga kesehatan dan kebugaran.
Memasuki siang hari, para siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar akademik formal di kelas. Program ini sekaligus menjadi upaya untuk membantu siswa mengejar ketertinggalan pendidikan dan memperoleh kompetensi sesuai standar nasional.
Sementara pada sore hari, siswa diberikan ruang untuk mengembangkan bakat dan minat melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler, seperti seni budaya, latihan fisik dan kedisiplinan, permainan tradisional, hingga program literasi Jumanji yang bertujuan meningkatkan minat baca dan kemampuan berpikir kreatif.
Adapun pada malam hari, para siswa mengikuti makan malam bersama wali asrama melalui program SERASA, dilanjutkan dengan pendampingan psikologis, sharing session antarteman, serta kegiatan refleksi sebelum beristirahat.
“Pola kehidupan di asrama ini dirancang agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, berkarakter, memiliki empati sosial, dan mampu membangun cita-cita yang lebih tinggi. Pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, tetapi juga pembentukan manusia yang utuh,” tutur Dessy.
Dengan dukungan fasilitas pendidikan dan kebutuhan dasar yang terpenuhi, Sekolah Rakyat di Songgokerto, Kota Batu, menjadi investasi jangka panjang pemerintah dalam mencetak sumber daya manusia unggul. Program ini sekaligus menjadi bukti bahwa pendidikan yang inklusif dan berkualitas dapat menjadi jalan efektif untuk memutus rantai kemiskinan serta mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045. Ans



Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Apa yang Anda pikirkan?